Skip navigation


Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.

Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.

Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.

Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.

Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?

Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.

Saya tak tahu bagaimana Goenawan Mohammad (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (Wars Within, Janet Steele: 2007).

Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja John Steinbeck, Erskine Cadwell, George Eliot (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri Pramoedya Ananta Toer. Atau bahkan yang masih muda seperi Muhidin M Dahlan yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya Jalan Sunyi Seorang Penulis).

Ambiguitas Kebahagian

Dalam film Pursuit of Happyness , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.

Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.

Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.

Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (pursuit). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.

Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.

Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.

Masalahnya di sini pemaknaan atas “keberhasilan” dan “kebahagian” yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.

Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata “gagal”).

Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.

Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha…siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow ini).

Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.

2 Comments

  1. Wah….tulisan yang bagus dan blog yang bagus juga.

  2. Salam Buat Anda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: