Skip navigation


Apa kriteria buku yang bagus? Seorang penulis dalam sebuah milis komunitas penulis mengatakan, buku yang bagus adalah buku yang dicetak ulang beberapa kali, buku best seller. Asumsinya, buku yang banyak terjual berarti banyak dibeli. Karena banyak dibeli, ia banyak dibaca. Karena banyak dibaca berarti ia banyak diminati pembaca. Nah, karena banyak dibaca maka sebuah buku layak disebut sebagai buku yang bagus.

Memang asumsi itu ada benarnya. Tapi tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Begini. Jika kriteria buku yang bagus itu diukur dari seberapa besar pembacanya, seberapa banyak buku itu terjual, apakah lantas buku-buku yang tak banyak terjual, bukan buku best seller itu buruk.

Dalam dunia kesusasteraan Indonesia ada sederet nama-nama hebat penulis yang karyanya diulas di berbagai media, diperbincangkan dalam berbagai forum. Namun buku mereka belum banyak mengalami cetak ulang. Nukila Amal, Linda Christanty, atau yang sudah senior, Budi Dharma, Danarto, Kuntowijoyo, adalah beberapa penulis yang dimata kritikus karyanya bagus, namun bukunya tak mendapat sambutan luas dari pembaca. Dalam beberapa hal penilaian kritikus bisa mempengaruhi pembaca, namun tidak selamanya selera kritikus dan pembaca sejalan.

Berbeda dengan buku fiksi pop teenlit-chicklit macam “Dealova”, “Cintapucino” , “Ungu Violet” atau fiksi islami yang sangat fenomenal “Ayat-ayat Cinta” yang kabarnya sudah terjual lebih 300 ribu buku, atau novel sensasional macam “Selingkuh Itu Indah”, “Garis Tepi Seorang Lesbian”, “Jangan Main-main dengan Kelaminmu”, dan tentu saja yang tak bisa diremehkan adalah “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” karya Muhidin M Dahlan yang pada per maret 2007 sudah naik cetak 12 kali!

Pertanyaannya, apakah karya Nukila Amal, Linda Christanty, Danarto, Budi Dharma, Kuntowijoyo, lebih buruk dari karya mereka yang bukunya sudah mampu menembus angka cetak ulang yang fantastis itu?

Menurut saya, tentu saja tidak! “Cala Ibi” karya Nukila Amal, “Kuda Terbang Mario Pinto” karya Linda Christanty, yang keduanya banyak dipuji oleh kritikus karena keindahan diksinya, atau “Adam Makrifat”, “Godlob” karya Danarto, “Mantra Penjinak Ular” karya Kuntowijoyo yang mengusung sastra realisme magis dan sastra profetik, dan penulis-penulis lain yang saya kagumi macam Gus tf Sakai sampai yang lebih senior macam Goenawan Mohammad belum mampu menembus angka cetak ulang yang cuku fantastis, bahkan jika dibanding penulis-penulis teenlit yang masih ABG.

Bagi saya ada beberapa faktor sebuah buku itu bisa laku keras. Untuk sejenis karya teenlit-chicklit, seperti pada karya pop pada umumnya, memang memiliki pembaca yang lebih banyak. Hal ini bisa saja karena tema yang ditawarkan ringan. Dan saya menduga, kebanyakan pembaca sastra di Indonesia adalah mereka yang membaca karya untuk hiburan, bukan untuk mengkaji, mengapresiasi. Kalaupun ada yang mengkaji, prosentasenya jauh lebih kecil jika dibanding mereka yang membaca untuk hiburan, atau yang lebih bijak, untuk mencari pelajaran hidup.

Selain tema populer, yang bisa memicu daya jual buku adalah tema polemik. Karya Djenar Mahesa Ayu “Jangan Main-main dengan kelaminmu”, “Garis Tepi seorang Lesbian” karya Herlinatiens dan “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Palacur” karya Muhidin M Dahlan, contohnya. Dua pengarang yang disebut dibelakang adalah mantan kru LPM Ekspresi, pers mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tema-tema polemik ini uniknya, makin dia dikecam, makin dia terjual. Dari situ orang menjadi penasaran, akhirnya membeli. Ini seperti yang dialami oleh Gus Muh, yang sempat beberapa kali dalam forum diskusi karyanya dikatakan kafir dan diancam akan dibunuh!

Bagi saya, ukuran sebuah buku yang baik bukan cuma dari paling banyak pembacanya. Ukurannya bukan kuantitas, tapi kualitas, kualitas apresiasi dari pembacanya. Meski karya itu tak seheboh “Jakarta Undercover”- nya Moammar Emka, tapi “Cala Ibi”-nya Nukila Amal akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari pembaca yang masih terbatas.

Barangkali pembaca majalah sastra Horison yang dulu mengkaji tema-tema sastra “adilihung” akan berpindah ke majalah lain setelah majalah itu kini menurunkan standarnya menjadi majalah anak-anak SMU. Saya lebih respek pada jurnal Kalam (tapi terbitnya walah nggak jelas, kayak Hayamwuruk saja, hehe) yang masih bersetia dengan tema-tema serius, meski kini tidak cuma mengusung tema-tema sastra, tapi kebudayaan secara luas. Saya yakin, meski pembaca Kalam tak sebanyak pembaca Horison kini, tapi dari segi kualitas apresiasi pembacanya akan jauh berbeda.

Satu lagi, mayoritas masyarakat pembaca sastra Indonesia dan bidang-bidang disiplin lain memang lebih suka dengan karya-karya yang ringan. Makanya tontonan “Empat Mata” dengan Thukul katrok mendapatkan rating yang tinggi. Padahal Thukul ya nggak se-smart Om Farhan. Dari segi muatan ya, nggak serius. Orang disitu yang menjadi pusat perhatian Thukul. Narasumber belum tuntas menjawab, thukul sudah menyela, seolah-olah dia tak butuh jawaban.

Dalam dunia kesusasteraan, pembaca kita pun tak jauh beda. Mayoritas pembaca kita menyukai hal-hal yang bisa menimbulkan keharuan. “Ayat-ayat Cinta” (AAC) karya Habiburahman, “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, laku keras. Cewek-cewek sangat menggandrungi tokoh Fahri yang santun, alim dalam AAC. Atau cerita-cerita Andrea yang mengisahkan betapa mengharu-birukannya pendidikan di sebuah kampung di tanah Sumatra. Faktor keharuan yang bisa menimbulkan rasa iba ini, juga yang memicu terpilihnya Feri dalam kontes Akademi Fantasi Indosiar (AFI) atau Ikhsan dalam Indonesian Idol.

Bagaimana sebuah buku bisa menjadi best seller, diperlukan strategi untuk bisa menembus angka penjualan yang fantastastis. Yakni strategi menjual diri! Kenapa dikatakan menjual diri, ya kita menjual buku-buku yang memang disukai penerbit dan yakin akan banyak dibeli pembaca. Membuat buku best seller tak cuma membutuhkan kelihaian penulis meramu kata, tapi juga butuh strategi. Penulis tak hanya cerdas soal menulis, tapi paham juga soal pasar, marketing. Dan langkah menjual diri ini sebenarnya juga tak sepenuhnya jahat, ketika juga diikuti upaya menciptakan sebuah karya yang bermutu, berbobot, tidak semata-mata untuk mengeruk pendapatan royalti.

Namun, sepertinya selera pembaca akan sebuah karya akan terus berubah. Fiksi islami yang pada periode awal 2000 laris manis, bahkan penerbit rame-rame bikin devisi khusus fiksi islami, semenjak tahun 2005 sepertinya mengalami matisuri. Seperti yang diakui seorang penulis fiksi islami dalam sebuah diskusi di Semarang beberapa hari lalu, karya-karya fiksi islami belakangan justru banyak dikembalikan oleh pihak penerbit. Kondisi ini sangat berkebalikan ketika fiksi islami tengah booming, beberapa penerbit berlomba-lomba menerbitkan fiksi islami, diantaranya bahkan membuat departemen khusus fiksi islami.

Menurunnya selera pembaca juga terjadi pada fiksi yang mengangkat tema seks. Judul macam “Petualangan Celana Dalam” karya Nugroho Suksmanto (pengusaha kontraktor Mega Kuningan yang mendadak menulis karya sastra) sudah tak seheboh ketika awal-awal tema seks sedang ramai.

Pada titik itu akan terbukti, karya-karya siapa yang masih akan terus dibaca, diapresiasi, dibeli meski cuma satu-dua, yakni karya-karya yang memang secara kualitas bagus, bukan tren sesaat.

Lantas, masih relevankah membicarakan sebuah kualitas karya dari kuantitas penjualan buku?

[tulisan ini saya posting untuk bahan diskusi di milis jurnalisme sastrawi , milis jurnalisme, penulisan, media. Yang ingin bergabung dengan milis jurnalisme sastrawi, silakan klik di sini]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: