Skip navigation


Saya mencoba untuk bisa mengerti kegelisahan bung Tomi yang menemui sejumlah puisi yang masih membicarakan soal kupu-kupu, senja, ranum payudara, de el el. Dan rupanya ini yang memang lagi menggejala. Sama seperti anda bung, saya juga kerapkali kesal dibuatnya.

Saya mencoba menerka-nerka, bagi bung Tomi penyair yang masih mengusung puisi semacam itu tak peka terhadap lingkungan sekitar, naluri kepenyairannya telah diambang matirasa. Mereka membicarakan hal-hal yang kurang penting, sementara ada yang lebih penting, yakni bencana, bencana ya diantaranya korban lumpur Sidoarjo itu.

Dari situ saya menarik kesimpulan, anda hendak mengatakan bahwa puisi-puisi semacam itu tidak mewakili spirit jaman, tidak konstektual, tidak berbicara soal kritik sosial, dan kewajiban-kewajiban mahaagung lainnya. Ah, darinya saya menjadi minder, ternyata betapa berat menjadi seorang penyair! Mbok yang riang-riang saja, ringan-ringan saja. Bagi saya, selaku penikmat puisi, apapun jenis puisi itu ketika dilahirkan dari ketulusan penyair, dia akan bernilai. Soal baik-buruk, estetikanya, bermanfaat-atau-tidak, serahkan saja kepada sidang pembaca.

Saya menangkap kesan bahwa tema-tema yang anda muaki itu seolah tak ada makna, tak penting dalam proses kreatif penciptaan puisi, dan ujung-ujungnya anda hendak menawarkan atau lebih tegasnya mengarahkan bahwa puisi yang bagus adalah yang memuat kritik sosial, menyuarakan jerit hati para korban lumpur Sidoarjo.

Kalau persolannya terletak pada kurang matangnya penggarapan tema-tema barangkali ada benarnya. Tapi kalau tema-tema semacam itu kemudian dianggap remeh temeh, bentar dulu. Saya kira ini sangat bermasalah. Pandangan ini telah menafikan proses kreatif sesama penyair. Saya sepakat dengan Seno Gimira yang mengatakan bahwa semua tema itu pada dasarnya menarik, yang bikin menarik dan tidak menarik adalah penulisnya. Saya kira ini juga berlaku dalam proses kreatif penciptaan puisi. Saya kira puisi bukan hanya terletak di keindahan kata-kata yang romantis, atau kegarangan kata-kata yang kritis, tapi juga kedalaman makna. Keduanya penting. Ini yang membedakan puisi dengan slogan-slogan politik dalam pamflet.

Soal tema lagi, saya selaku penikmat puisi, bisa menikmati puisi jenis apapun, termasuk puisi romantisnya Sapardi Djoko Damono. Bagi saya sajak-sajak SDD tak berhenti bicara soal cinta semata, tapi lebih menukik, soal kehidupan. Sajaknya ringan tapi cerdas, kalau tak salah ini menurut bung HAH dalam sebuah chatting dengan saya beberapa waktu lalu.

Kalau bung Didi bilang, atau lebih tepatnya minta pemakluman bahwa para penyair yang secara usia masih muda (apa hubungannya usia dengan penyair, dengan puisi?) kurang punya perhatian pada masalah kepentingan umat, menurut saya persoalannya bukan di situ, tapi karena proses kreatif masing-masing penyair tak sama. Sehingga ada penyair yang nyangkut di tema kupu-kupu, atau lebih hebat bisa mencapai ke Lumpur Sidoarjo. Bukankah proses kreatif itu sifatnya sangat personal?

tulisan ini saya posting di milis apresiasi sastra menanggapi posting bung Tomy HG di milis apresiasi sastra. Ini posting yang dikirim oleh bung Tomy :

HUEKK!

Muak aku membuka
buku-buku puisi yang penuh keluh kesah soal kupu-kupu,
remang senja, dan ranum payudara perempuan seakan-akan
kata kata bukan senjata yang paling murah tuk rubuhkan
musuh tanpa harus hancurkan rumah, sawah, hingga
jalan.

Muak aku membaca
sajak-sajak cinta yang harum parfum tubuh telanjang di
atas ranjang, sofa, rumput, dimanapun! Seakan-akan
hidup di dunia ini jauh dari semburan lumpur panas
yang tak henti henti meluber di Porong di Sidoarjo

Muak aku pada
pen(y)a(ir) yang cuma bisa jadi bun(gk)a(m),kehabisan
kata kata di tengah tengah bencana, bencana dan
bencana!
Seakan-akan basa basi bijak lebih berarti dari nasi
basi
yang dimakan korban lumpur Lapindo di tenda
pengungsian

Muak aku pada
pen(y)a(ir) yang tak bi(a)sa lagi bicara dengan
sederhana
Seakan akan kepak sayap kata-kata bisa terbang jauh
dari
lauk kaleng kadaluarsa yang lagi lagi dimakan korban
lumpur Lapindo di tengah kelaparannya. Yang penyair-

lebih baik tak usah ambil bagian sekalian
Biarlah kata-kata tumpah di aspal jalanan,
poster protes, selebaran, ataupun pamflet

Biarlah penguasa saja yang muak dan muntah
keracunan kata-kata, kata-kata, kata-kata,
dan kata-kata!

—————–
Tanggal 29 Mei 2007 bertepatan dengan satu tahun bencana semburan lumpur panas Lapindo di Porong. Dan hingga saat ini, semuanya makin parah. Pada tanggal tersebut, direncanakan akan diadakan aksi solidaritas korban lumpur lapindo besar-besaran untuk
menuntut penuntasan penyelamatan nasib warga yang menjadi korban. Bagi teman-teman yang mungkin tidak bisa mengikuti aksi, sangat diharapkan solidaritasnya untuk mengirimkan puisi solidaritas korban lumpur Lapindo ke berbagai media cetak, mailing list atau menempelkannya di tembok-tembok kampus, sekolah, mal, jembatan, halte, di manapun. Semoga dengan upaya ini semua pihak masih ingat bahwa ada suatu bencana besar yang masih akan terus membesar daya rusaknya di Porong Sidoarjo.

—————–
-Tomy DG-

Ini tanggapan Hasan Aspahani atas posting yang dikirim Tomy:

Tomy DG yang baik,

Agustus tahun lalu saya menulis sajak “Kisah Kota Lumpur”. Ini link ke sajak itu di blog saya http://sejuta-puisi.blogspot.com/2006/08/kisah-kota-lumpur.html

Bulan lalu sajak itu dimuat di Kompas http://kompas.com/kompas-cetak/0704/08/seni/3440307.htm. Saya setuju bahwa semburan lumpur di Sidoarjo adalah bencana besar.

Tapi apa perlu diimbau-imbau penyair untuk menuliskannya? Saya kira penyair yang benar-benar membuka mata hati pasti akan tergerak untuk melihat bencana itu dan menuliskan sajaknya.

Terus apa penyair harus dilarang untuk menuliskan tentang hal-hal lain yang kau bilang kau baca dengan muak itu?

Saya kira gak perlu. Sajak saja pasti tidak akan menyelesaikan masalah, tapi pasti sajak bisa menggerakkan banyak hal untuk menyelesaikan masalah itu.

Sekali lagi saya setuju dengan imbauanmu ini. Saya ikut mengulangnya: Ayo mengirimkan puisi solidaritas korban lumpur Lapindo ke berbagai media cetak, mailing list atau menempelkannya di tembok-tembok kampus, sekolah, mal, jembatan, halte, di manapun!

Imbauan tambahan dari saya: tetaplah menuliskan sajak-sajak lain dengan tema apa saja!

Hasan Aspahani
http://www.sejuta-puisi.blogspot.com

One Comment

  1. hihhihhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: