Skip navigation


Secangkir teh hangat sengaja saya siapkan untuk menemani menyantap koran pagi. Srruppp…. saya buka lipatan koran, “14 Peluru di Tubuh Wakapolwil”. Berita terbunuhnya Wakapolwil Jateng, AKBP Drs Lilik Purwanto SH MHum, oleh anggotanya itu rupanya masih menjadi topik utama koran pagi ini. Karena penasaran, saya memilih berita itu sebagai menu pembuka.

Sehari sebelumnya, disampaikan di koran ada 6 peluru yang bersarang ditubuh alm Lilik Purwanto. Bagaimana kini menjadi 14, dua kali lipat lebih dari jumlah yang disampaikan sebelumnya. Dari berita koran pagi itu saya dapatkan informasi, Briptu Hance Christanto, pelaku penembakan memuntahkan sebanyak 40 peluru. Padahal sehari sebelumnya dikabarkan cuma belasan peluru.

Kemarin disampaikan jika Hance ditembak oleh sniper Resmob Polwiltabes di bagian kepala, tapi kini ditembak di bagian dada. Lantas, berita kemarin itu didapat dari siapa. Saksi, atau cuma desas-desus, alias gossip yang tidak jelas dari mana asal muaranya.

Mengikuti berita di koran seringkali membuat saya jengkel. Kecewa karena kesimpulan yang saya dapatkan kemarin ternyata dengan begitu gampangnya dipatahkan sendiri dalam waktu kurang dari 24 jam. Koran telah menipu publik, meski pada akhirnya mereka sendiri telah melakukan revisi. Meski (acapkali) revisi itu berbeda drastis dari yang disampaikan sebelumnya, belasan menjadi 40 puluh, di kepala menjadi di dada. Jangan-jangan besok, Hance sebenarnya tak mati ditembak oleh sniper, tapi mati karena bunuh diri.

Usai membaca koran pagi itu siangnya saya bertemu salah seorang teman yang keluarganya kebetulan bekerja di lingkungan dinas Polwiltabes Semarang. Menurutnya, sebenarnya Hance mati bunuh diri. Dia meminta Aiptu Titik Sumaryati, korban yang dijadikan sandera pelaku, menembak tepat dibagian dadanya. Setelah itu, baru kemudian peluru yang dilepaskan oleh sniper mengenai dada Hance.

“Tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” pesan teman saya.

Kabar bunuh diri Hance itu ditulis dalam berita acara yang akan disampaikan ke pihak yang berwenang untuk dijadikan sebagai bahan penyidikan lebih lanjut.

Mana yang benar, bisa jadi apa yang disampaikan teman saya itulah yang benar. Tapi berita ini entah kapan akan sampai ke pihak wartawan. Berita ini sepertinya sengaja ditutup rapat, hanya diketahui oleh internal pihak kepolisian. Dan wartawan tampaknya masih menikmati berita desas-desus, belum mampu mengungkap dari sumber primer untuk mendapatkan berita yang sebenarnya.

“Saya harus segera melaporkan. Saya diburu deadline. Saya harus dapat berita…. bagaimana lagi….” dalih yang mungkin akan dilontarkan oleh wartawan media harian.

Besoknya saya memburu lagi koran pagi, berharap akan menemukan kabar itu, atau kabar-kabar yang akan mengejutkan, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi apa yang terjadi, berita itu tidak muncul. Tidak muncul…..Wartawan koran mengecewakan!

Mulai besok, saya akan mempertimbangkan lagi menahan kantuk saya untuk membaca koran pagi, termasuk juga koran sore, karena sama saja, sudah berita kemarin, tapi tidak tuntas…. mending nonton TV, baca berita di internet, atau kalau mau tuntas, biar seminggu sekali, baca majalah…. sambil menyiapkan kopi segalas besar ditemani rokok kesukaan saya…. srupp….

*Ingin diskusi seputar jurnalisme dan media, silakan gabung di milis Jurnalisme Sastrawi

One Comment

  1. very interesting.
    i’m adding in RSS Reader


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: