Skip navigation


KEMATIAN pengarang yang diwacanakan Roland Barthes pada 1967 tak habis-habis diperbincangkan. Selain Michael Foucault, boleh jadi sudah ribuan orang mengkritik atau mengamini tesis filsuf dan kritikus Prancis itu, baik lisan maupun tulisan.

Image: Reading The Death of The Author

Selasa (6/3) malam, ikhwal kematian pengarang itu kembali didiskusikan dalam acara Ngobrol Sastra dan Rerasan Budaya di joglo Fakultas Sastra Undip, Jalan Hayamwuruk 4, Semarang. Belasan peminat sastra menghadiri perhelatan bertajuk “Benarkah Pengarang Sudah Mati?” yang diselenggarakan buletin sastra Hysteria dan Komunitas Sendangmulyo itu.

Dalam “The Death of the Author”, Barthes mengemukakan, pengarang seharusnya lesap ke dalam teks untuk kemudian menghilang. Jadi, ketika pembaca datang untuk memaknai teks, ia tak lagi menemukan jejak pengarang. Teks yang lahir menghalangi jarak pandang pembaca ke pengarang.

Pembaca punya kebebasan besar menafsir teks. Mereka berhak memaknai apa pun tanpa harus dibayang-bayangi sosok pengarang. Konsekuensi kematian pengarang adalah kelahiran pembaca.

Barthes, seperti dikutip pembicara Muhamad Sulhanudin, memisahkan teks dan pengarang dengan formula before-after. Pengarang saat ini berbeda dari dia saat menulis pada waktu lampau.

Apa yang diyakininya sekarang boleh jadi tak serupa lagi dengan yang tertuang dalam teks. Garis before dan after jadi batas tegas yang memisahkan teks dan pengarang. Pengarang telah kehilangan otoritas.

Sulhanudin menilai tesis Barthes masih relevan dalam realitas kesusastraan kontemporer sekarang. Pembaca, berbekal pengalaman masing-masing, diam-diam menyusun strategi untuk mencari kebenaran yang diinginkan.

“Lalu, kenapa kita masih sering menafikan kehadiran pembaca? Biarlah teks yang berbicara. Biarlah pembaca yang memaknai, memenuhi gelas yang masih kosong itu,” kata dia.

Pembaca, ujar Sulhanudin, berhak menafsir teks sastra. Menafsir tak berarti sekadar membaca ulang, tetapi menelusuri makna tersamar di balik teks dan menemukan makna baru.

Beragam

Sementara itu, penulis tak perlu membebani diri dengan keinginan mendedahkan sesuatu ke pembaca. Sebab, salah-salah itu justru jadi bumerang. Pesan tak sampai, pembaca justru bosan.

“Menulis tak perlu dilambari niat membuat karya sastra besar. Ketika karya sudah menyentuh simpul kenikmatan pembaca, kebesaran karya muncul dengan sendirinya,” kata mahasiswa Sastra Inggris Undip itu.

Peserta diskusi punya pendapat beragam. Seorang peserta melihat, pembacalah yang dominan memaknai teks. Bukan sebaliknya. Pembacaan intens tak serta-merta menjadikan teks otonom, tetapi berada dalam bayang-bayang pengarang dan pembaca. Pada titik kulminasi, pembaca akan kembali menghidupkan pengarang yang dianggap mati dalam terminologi Barthes.

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News Aulia Asyahiddin menilai kematian pengarang justru berimplikasi pada overintepretasi pembaca. Mereka kerap menafsir realitas dalam teks secara liar.

Dia mencontohkan tafsir terhadap adegan sampan yang berlayar di danau sebagai hubungan intim. Dayung dimetaforakan sebagai penis dan air danau sebagai vagina. (Rukardi)

* Tulisan ini dimuat di Harian Suara Merdeka, Kamis 8 Maret 2007. Versi onlinenya bisa diakses di sini
** Baca artikel terkait di blog ini:
Merayakan Kematian Pengarang
Mission Impossible, Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra
Pengantar Singkat Post Strukturalisme

2 Comments

  1. Din, kamu tahu tanggapanku kan, hehee.

  2. soal puisimu yang tidak melayani komentar itu? harusnya kamu sepakat denganku dong. kamu dengan pilihanmu itu telah membunuh pengarang, he2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: