Skip navigation


“Pak Kunto, sudahkah anda menulis hari ini?” tanya Zen. Kunto tak memberi jawaban. Mungkinkah dia tuli? Entahlah. Zen sepertinya juga tak peduli, ia melanjutkan pertanyaan, seolah tak memerlukan jawaban dari lawan bicaranya itu.

Zen pasti sadar jika orang yang dialamatkan pertanyaan itu telah mendiang. Kunto yang dimaksud adalah Kuntowijoyo, sejarawan cum sastrawan nasional papan atas. Alharmum yang semasa hidup tercatat sebagai sebagai Dosen Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) meninggal dunia dua tahun silam, tepatnya 22 Februari 2005, karena mengidap penyakit stroke dan gangguan otak. Rupanya penulis dengan sengaja mengirim surat imajiner yang diberinya judul “Surat Buat Pak Kunto di Sorga” itu untuk almarhum di alam sana.

Jika bukan karena kekaguman penulis kepada almarhum, sepertinya tak mungkin hal yang mustahil itu dilakukan. Bercakap dengan orang mati, mengakrabi kematian, ini hal yang tak lazim dilakukan oleh orang yang dilengkapi akal sehat. Pada titik ini, pemilik blog pejalanjauh.blogspot.com itu barangkali memang tak waras.

Kematian tampaknya sudah begitu karib bagi pria yang mempunyai nama lengkap Zen Rahmat Sugito, yang sering ia singkat dengan Zen Rs itu. Kesimpulan ini didapatkan setelah membaca beberapa tulisan yang diposting diblognya. Hampir seluruhnya menceritakan tokoh-tokoh yang sudah tiada.

Yang menarik, penulis menceritakan tokoh-tokohnya secara detail dan teliti. Benar-benar hidup, seperti menyaksikannya secara langsung di layar kaca. Selain itu, ragam bahasa yang dipakai cukup selektif. Pembaca sesekali perlu membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia ketika menemukan kata-kata yang tidak lazim dipakai oleh orang awam. Maklum, pemilik blog yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta itu selain menulis biografi, juga gemar membuat puisi.

Menurut pengakuanya, tulisan-tulisannya diblog itu dirangkum dari hasil kebiasannya mengurung diri, membaca dan membaca buku-buku biografi koleksinya.

“Selama ini aku lebih banyak ngamar, duduk diam di dalam di ruang baca. Menumpuk-numpuk buku.Beberapa diantaranya aku baca. Lama-lama ngerasa kering.Urip kok mung mampir moco buku. Nah, aku mulai sadar kalo aku sangat minim melakukan perjalanan sosial. Lebih banyak melakukan perjalanan imajinal. Aku gerah dengan itu…”

Oleh karena itulah, untuk menebus kekesalannya dia memberi nama blognya dengan pejalanjauh. Alam pikirnya dibiarkan menyusuri kemana saja, menembus batas ruang dan rentang masa. Dari perjalannya ini, ia bertemu dengan tokoh sufi besar Jalaludin Rumi, hingga beberapa tokoh nasional macam Sjahrir, penyair Amir Hamzah, ataupun pengarang Jepang Kawabata. Kemudian ia menulis, menceritakannya seolah-olah sempat bertemu langsung dengan para tokoh-mendiangnya.

Lalu kenapa dia memilih tulisan biografi untuk materi blognya?

Zen memberikan dua alasan. Pertama, dalam setiap perjalanan, dia membayangkan akan menemui banyak orang. Mungkin berguru dengan banyak orang, berguru pada sikap mereka. Dia percaya manusia itu selalu bertarung dengan kenyataan. Katanya, sejarah adalah pertaruangan tak kenal usai antara das sein dan das sollen. Antara apa yang dibayangkan dengan apa yang senyatanya kejadian.

Menurutnya, tidak semua orang bisa menerima kenyataan. Ada juga orang yang pasrah pada kenyataan. Sebaik-baiknya orang, baginya adalah mereka yang berbuat sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpinyanya. Dan dia akan menjadi lebih baik ketika dalam perjuangan hidupnya itu dia mampu mengatasi ketakutan-kertakutannya.

“Saya sangat suka paragraf penutup pemenang nobel Anak Semua Bangsa (karya Pramoedya Ananta Toer, Red). Nyok, kita kalah nyok, tapi kita suda melawan, sebisanya. Mantap betul!”

Alasan lain, Zen menggemari menulis biografi karena terinspirasi oleh buku John F Kennedy yang berjudul “Profiles in Courages”. Buku ini berisi kumpulan biografi pendek para tokoh Amerika. Kebanyakan tokoh politik. Seperti Franklin, G Washington atau John Adams. Buku itu juga merumuskan dengan baik apa artinya keberanian, apa artinya manusia pemberani.

“Setelah itu karena aku dipengaruhi oleh Pram. Tokoh-tokoh Pram selalu gagal. Tapi gagal setelah sekuat-kuatnya berusaha dan dia sendirian menanggungnya. Aku suka menulis paradoks-paradoks itu semua. Merenungkan bagaimana cita-cita berbentuan dengan hambatan.”

Benar, diantara tokoh-tokoh imajiner yang sudah ditulisnya, Zen kagum kepada pengarang Pramoedya Ananta Toer. Ia menulis satu catatan untuk Pram dalam posting “Saat-saat Terakhir Pramoedya Menjelang Berakhirnya Pasar Malam”.

Berbeda dari tulisan-tulisannya yang lain, apa yang diceritakannya tentang mantan aktivis Lekra itu dari pengamatannya secara langsung. Zen menyempatkan diri mendatangi kediaman almarhum pada malam menjelang wafatnya. Ia menyaksikan langsung saat-saat terakhir, bagaimana Pram akhirnya tak kuasa menantang maut.

“Itu tulisan terbaik yang pernah kubuat. Tidak bukuku, tidak esaiku, tidak juga artikelku,” akunya.

Dan kematian makin akrab, tulis Subagyo Sastro Wardoyo dalam salah satu sajaknya. Apakah Zen sendiri juga pernah mengangankan demikian? Apakah dia akan memilih jalan kematian seperti yang ditempuh dua tokoh yang ditulisnya, mantan petinju nasional Rahman Kili-Kili dan pengarang Jepang Kawabata?

Suatu kali, teman sekamarnya menulis cerpen. Judulnya “Matinya seorang esais muda”. Tokoh utamanya bernama Jen Rahman. Barangkali ini plesetan dari nama Zen Rahmat Sugito.

“Mosok aku dijadikan karakter yang sok mati muda’” gerutunya.

Dalam sadar, Zen tentu saja tak akan mengikuti laku mengakhiri hidup sendiri seperti yang dipilih oleh kedua tokoh dalam ceritanya, atau memilih hidup menderita seperti dalam tokoh karya-karya Pramoedya. Apa yang dilakukannya dengan menulis ulang hikayat para tokoh ini adalah upayanya untuk memulyakan harkat kemanusian, kemudian menyuguhkanya kepada pembaca: sebagai pelajaran hidup yang teramat berharga.

Pada akhirnya, seperti dikatakann Zen, setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan setiap orang punya kebebasan untuk memilih siapa rujukan hidupnya.

*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com

6 Comments

  1. Eh Zen itu teman sekamar saya waktu di Semarang loh!

    *numpang beken hahahaha

  2. oh ya, syukurlah tidak terjadi apa-apa, haha…

    bukannya blogmu dah cukup beken, kukira kau layak menyandang celeb blog..:)

  3. Thanks you, bro. thanks you berat. hehehe… pejalanauh yo dipilih nongol nang dblog kompas. satu dari lima blog pilihan untuk mnggu ini. suwun. suwun. suwun.

  4. Hehe, bisa saja Mas Udin.
    Kalau online biasa jam berapa, Din?

  5. aku biasa ol malam. diatas jam 20.00 sd pagiiiiii…. napa, mas ikram kangen ya, he…

  6. bro, aku ingin membaca tulisanmu ttg hal-hal persoanl. ayolah… (Bro, hp ku ilang. asem tenan. satu malam aku dan koto kehilanga hp. kurang zakat poh yo? kirimi aku no hp mu via imelku saja)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: