Skip navigation


Ada yang unik di pernikahan Andreas Harsono di awal tahun 2007 ini. Blogger cum jurnalis senior yang pernah menerima beasiswa dari Universitas Harvard ini, merayakan pernikahannya dengan menerbitkan majalah Indopahit edisi pernikahan. “Indopahit” merupakan plesetan dari “Indonesia yang Pahit” atau “Indonesia Keturunan Majapahit”.

Majalah berukuran 14.5 x 21 cm ini dikerjakan oleh beberapa rekan Andreas. Mulai dari naskah sampai desain. Mereka adalah para kolega di Pantau dan beberapa rekan dekat Andreas. Antara lain Linda Christanty, Indarwati Aminuddin, Esti Wahyuni, Coen Husain Pontoh. Mereka menulis tentang hubungan Andreas dan Sapariah, mempelai perempuan; dan juga masing-masing keluarga. Selain itu ada juga esai foto yang dikerjakan oleh Mohamad Iqbal dan puisi-puisi oleh Hasan Aspahani.

Indopahit dicetak 500 eksemplar, dibagikan kepada segenap undangan di Pontianak maupun Jakarta. Desainnya dikerjakan oleh Vera Rosana dari rumah desain H2O, sedang foto dikerjakan oleh Mohamad Iqbal.

Tomy Satriyatomo adalah salah satu yang menerima undangan ke pernikahan Andreas-Sapariah. Dalam blognya ia menulis, undangan itu unik dan tak ada duanya. Berbentuk buku tebal, berisi artikel-artikel yang dikerjakan secara serius. Gaya penulisannya mengingatkannya pada majalah Pantau yang khas dengan Jurnalisme Sastrawi. Perfect!, kata Tomy.

Buku yang diterima Tomy itu merupakan undangan ke resepsi pernikahan Andreas-Sapariah tanggal 21 Januari mendatang. Pesta pernikahan sebelumnya telah lebih dulu digelar di kediaman keluarga Sapariah di Pontianak pada Sabtu, 6 Januari 2006.

Dalam artikel berjudul “Mengapa Kami Menikah” yang ditulis oleh Andreas dan Sapariah, diceritakan dari awal mula kedua mempelai bertemu sampai dengan ketertarikan masing-masing. Singkat kata, keduanya merasa cocok.

“Cerita cinta yang sangat mengharukan. Ucapan selamat kepada Sapariah dan Andreas dari Sock Foon dan saya — secara virtual,” komentar John Macdougall dalam artikel itu.

Sementara dalam artikel lain berjudul “Sebentuk Cinta yang Tak Tergantikan” yang ditulis oleh Linda Christanty, dikisahkan hubungan Andreas dengan anaknya yang bernama Norman. Norman adalah anak Andreas dari hasil pernikahanya yang pertama. Dari cerita Linda, diketahui betapa Andreas sosok ayah yang begitu menyayangi anak. Sampai suatu kali ia cemas ketika Norman mulai berbohong.

Saya pribadi mengenal Andreas dan Norman. Dari beberapa kali pertemuan singkat dengan keduanya, Andreas memang sosok ayah yang penyayang, sementara Norman yang biasa menggunakan bahasa Inggris itu, anak yang cerdas. Andreas bilang, pola pikir Norman seperti anak Amerika. Suatu malam dalam SMS yang saya terima, Andreas mengatakan dirinya tengah cemas karena Norman sakit flu berat.

Begitu sayangnya kepada anak, pernikahan keduanya dengan gadis keturunan Madura itu atas pertimbangan anak semata wayangnya. “Saya melibatkan Norman dalam proses pengambilan keputusan memilih Sapariah, walau saya yang memutuskannya. Norman menganggap Sapariah temannya. Kalau kebetulan Sapariah lama tak muncul, dia tanya kenapa Sapariah tak datang?,” tulisnya dalam artikel “Kenapa Kami Menikah”.

Selain dua cerita di atas, masih ada “Cerita Mak Isah” oleh Muhlis Suhaeri, “Hoakiao dari Jember” oleh Andreas Harsono, “Keriangan, Keragaman” oleh Coen Husain Pontoh, “Jomblo, Jomblo, Bahagia” oleh Aseanty Widaningsih Pahlevi, “Surat dari Ende” oleh Esti Wahyuni, “Pernikahan” oleh Indarwati Aminuddin.

Dalam “Hokaio dari Jember” diceritakan secara detail sosok kecil bernama Ong Tjie Liang tinggal di Jember. Kelak, nama Liang oleh sengkek (ayah) diganti dengan nama Jawa. Andreas Harsono, inilah nama baru Liang. Keputusan ini diambil akibat pemerintah Orde Baru yang diskriminatif terhadap warga keturunan.

Yang menarik, dalam tulisan itu Andreas menceritakan dirinya sendiri dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Andreas seperti tengah menceritakan sosok lain. Pembaca juga baru diberitahu jika “Ong Tjie Liang” tokoh yang diceritakan dari awal itu tak lain adalah Andreas, si penulis sendiri.

Dalam beberapa kali kesempatan, Andreas mengkritik konsep nasionalisme yang ditanamkan oleh para pendahulu bangsa Indonesia. Akibat kesalahpahaman nasionalisme ini, “pembersihan etnis” (ethnic cleansing) terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Yang lebih memprihatinkan, tindakan itu dilakukan oleh pemerintah yang seharusnya mengayomi warganya.

Beberapa tahun belakangan ini Andreas melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia. Ia melakukan riset untuk bukunya tentang nasionalisme. Tahun 2007 ini Andreas berharap bukunya yang akan diberi judul “From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism” bisa diterbitkan.

“Sapariah dan saya mohon doa restu dari Anda semua. Kami sadar bahwa mengarungi laut kehidupan dalam satu bahtera rumah tangga bukan sesuatu yang mudah. Ia bukan saja menuntut kesetiaan, pekerjaan mencintai namun juga banyak hal lain, dari masalah prinsip hingga remeh temeh. Kami ingin pernikahan ini langgeng hingga maut memisahkan kami,” tulis Andreas.

Selamat menempuh hidup baru. Semoga apa yang diinginkan mempelai berdua terkabul. Amien.

*Tulisan ini dipublikasikan di rubrik blog suaramerdeka.com

++++
Bloggernarsis@yahoogroups.com adalah forum diskusi blogger Jawa Tengah yang dibentuk oleh tim kreatif suaramerdeka.com. Kami mengundang anda bergabung, berdiskusi seputar blogger di Jawa Tengah secara khusus, dan dunia blog secara umum. Selain itu kami juga melayani untuk pelatihan blog dasar dan lanjut. Kunjungi blog.suaramerdeka.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: