Skip navigation


Like father, like son. Dalam Bahasa Indonesia, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa ini barangkali yang paling tepat menggambarkan blogger cilik, Ghilman si anak ndobos. Dalam usianya yang baru seumuran murid kelas 6 SD, dia sudah pintar ngeblog. Bakatnya ini mewarisi ayahnya, Sir Mbilung si tukang ndobos.

“Ndobos” berasal dari Bahasa Jawa. Artinya omong kosong. Kenapa memakai nama Ndobos alias omong kosong?

“Ya karena isinya memang omong kosong. Jadi lebih baik begitu daripada pake nama yang serius, nanti mengecewakan orang,” jawab Rudiyanto, ayah Ghilman. Ndobos senior yang tampak akrab dengan bahasa Jawa ini rupanya pernah menghabiskan masa kecil di Purwokerto, Jawa Tengah.

“Waktu itu ayah bilang, nama blognya apa saja. Asal tulis yang enak saja. Saya pilih saja anakndobos,” jelas Ghilman.

Ghilman menceritakan apa saja dalam blognya, anakndobos.wordpress.com. Ia bercerita tentang keluarga dan teman di sekolah. Ada kakak yang dipanggilnya Ndut, yang punya kebiasaan meninggalkan barang-barangnya di sekolah. Ada juga nenek preman, yang punya tato tiga buah di lengan kanannya. Atau ayahnya yang sering jalan-jalan ke luar negeri.

Soal kemampuan menulis, Ghilman tak perlu diragukan lagi. Ia mampu bercerita dengan lancar dan sistematis. Secara gramatikal maupun penggunaan tanda baca, sepertinya juga tak ada masalah. Hanya saja, beberapa kali ia menggunakan kata “yaitu” dan “adalah” secara bersamaan. Padahal dua kata itu memiliki arti yang sama. Tapi bisa jadi ini disengaja oleh Ghilman sebagai gaya khasnya.

Terlepas dari itu, tulisannya menarik dan enak dibaca. Bisa-bisa pembaca akan dibuatnya tertawa karena gaya penceritaannya yang jenaka. Seperti pada posting yang menceritakan pelajaran olahraga lompat tinggi di sekolahnya. Ada teman yang pintar mempraktekkan gaya lompat torpedo. Lalu dia teringat seorang atlit yang melompat dengan gaya maling. Mungkin saja ia mantan maling. Tapi bagaimana dengan temannya yang melompat dengan gaya roket, apa dia pernah menjadi roket?

Kecerdikannya bercerita dapat dilihat juga pada cerita tentang komik Jepang. Ia menceritakan komik doraemon secara detail. Dari pengarang Doraemon versi lama sampai Doraemon Special. Ia tak hanya membaca, tapi juga menganalisa. Kemampuan ini tentu saja jarang dimiliki oleh anak seusianya.

Selain tertawa, pembaca akan dibuat haru ketika membaca tulisan “Kalau Bapak Pergi”. Dalam tulisan ini diceritakan tentang ayah Ghilman yang sering bepergian ke luar negeri. Hal ini yang sering membuat Ghilman kesepian. Ia sering ditinggal hingga berbulan-bulan. Ia ingin si ayah selalu di sampingnya. Tapi kalau tidak pergi ke luar negeri, ayahnya tak bisa jalan-jalan. Kalau tidak kerja di luar negeri, duitnya habis.

Ya benar, bapak Ghilman memang bekerja di luar negeri. Ia bekerja di sebuah LSM pelestarian burung (Bird Life International) yang berkantor di Tokyo, Jepang. Dari pekerjaanya ini dirinya sering melakukan perjalanan ke berbagai negara. Sementara ibu Ghilman tinggal bersamanya di Bogor. Sama seperti bapaknya, ibu juga bekerja di LSM yang sama untuk kantor di Indonesia. Jika ndobos senior punya ndobos.com, ibu juga tak kalah. Ia punya blog di nengjeni.blogdrive.com. Di keluarga ini, hanya si Ndut yang tidak memiliki blog. Kakak Ghilman yang sekarang kelas 3 SMP di sekolah yang sama itu tidak suka ngeblog.

Dari blog Ghilman pembaca akan ditunjukkan bagaimana anak seusia kelas 6 SD itu berpikir tentang sesuatu. Cara pandang anak-anak yang barangkali dinilai naif oleh orang dewasa karena terlalu kekanak-kanakan, tapi di sisi lain juga mengejutkan. Bagaimana mungkin anak seusianya mampu melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang dewasa.

Ghilman memang belum lama ngeblog. Ia memiliki blog sejak bulan November lalu, berawal dari tugas komputer di sekolahnya. Tapi kini ia telah punya banyak teman. Ini bisa diketahui dari daftar blogger yang memberikan komentar. Jumlah komentar tiap tulisan pun relatif stabil. Pernah bisa melonjak hampir mencapai 20 komentar seperti pada posting yang berjudul “Kalau Bapak Pergi”.

Dari sekian blogger yang meninggalkan komentar, diketahui kebanyakan mengenal dekat Ghilman. Ada yang menakaman ibu, bibi yang jauh, dan ada juga tante dam om. Selain orang dekat Ghilman, blogger yang memberikan komentar tak lain adalah teman-teman ayahnya.

Ghilman mengaku suka membaca komentar-komentar para blogger lain di blognya. Ia sering senyum-senyum sendiri karena komentar yang datang memang tak kalah lucu dari cerita yang ditulisnya. Tapi dari sekian komentar, tak satu pun dibalas oleh Ghilman. Bisa jadi karena dia tak mau memberikan komentar balasan. Atau bila tidak, jangan-jangan yang mengoperasikan blog bukan Ghilman, mungkin si ayah.

Baik dari penjelasan Ghilman maupun ayah yang dikonfirmasi via telepon rumah dan telepon genggam, keduanya mengakui bahwa si ayah lah yang membantu mengoperasikan blog Ghilman. “Ayah yang bantu upload tulisan. Soalnya kalau nulis saya seringnya sampai malam. Besoknya kan saya harus masuk sekolah,” aku Ghilman.

Tapi kalau soal tulisan, seperti diakui keduanya, adalah murni ditulis oleh Ghilman. “Dia sering marah-marah kalau saya ingin mengedit tulisannya,” aku ayah Ghilman.
Di sekolah, Ghilman memang bukan satu-satunya yang memiliki blog. Teman-teman Ghilman di sekolah juga banyak yang ngeblog. “Mereka juga punya blog. Tapi isinya baru sedikit-sedikit saja,” katanya.

Suatu kali teman sekelasnya bilang bahwa ia telah memiliki blog. Alamatnya ngapusi.blogspot.com. Tapi setelah dicek, blog itu tak ada isinya. Kejadian itu kemudian diceritakannya kepada si ayah. “Eh…ternyata teman saya itu ngapusi,” katanya.

Kata “Ngapusi” mempunyai arti yang hampir sama dengan Ndobos. Keduanya berasal dari Bahasa Jawa, yang berarti omong kosong. Diduga teman Ghilman yang iseng itu sebelumnya telah membaca blog anakndobos.wordpress.com.

Diantara teman di sekolahnya yang rajin ngeblog adalah Saras. Suatu kali dia pernah meninggalkan pesan di blogger Ghilman. “Hai Ghilman, kita satu sekolah ya…” tulis saras.

Benar, Saras adalah teman satu sekolah Ghilman di Madania, Bogor. Tapi keduanya belum pernah bertemu karena keduanya beda kelas. Ghilman kelas 6, sementara Saras kelas 5.

Hal itulah yang kemudian membuat iri sang ayah. Katanya, anak sekolah sekarang tak seperti sekolah di zaman dulu. Sepulang sekolah, dia dan teman-temannya asik manjat buah jambu milik tetangga lalu kemudian di makan bareng. Tapi anak sekarang, pulang sekolah ngeblog. Anak seusia anaknya itu dulu tidak kenal apa itu blog.

Minggu ini Ghilman dan ayahnya berencana akan berkunjung ke Yogya. Di sana mereka akan bertemu dengan Tito, pemilik blog terapikomik.blogdrive.com, yang diakui Ghilman sebagai salah satu blogger favoritnya, selain blog Ndoro Kakung.

Ghilman rupanya sering ikut ayahnya ngumpul atau kopi darat (kopdar) bersama blogger lain. “Dia senang kalau saya ajak bertemu dengan para blogger teman-teman saya,” kata sang ayah.

Selamat berlibur Ghilman, ditunggu cerita selanjutnya. Jangan lupa bawa kamera, biar nanti bisa bagi-bagi fotonya.

*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com, klik di http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=49

_________________________________________

Bloggernarsis@yahoogroups.com adalah forum diskusi blogger Jawa Tengah yang dibentuk oleh tim kreatif suaramerdeka.com. Kami mengundang anda bergabung, berdiskusi seputar blogger di Jawa Tengah secara khusus, dan dunia blog secara umum. Selain itu kami juga melayani untuk pelatihan blog dasar dan lanjut. Kunjungi blog.suaramerdeka.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: