Skip navigation


ENTAH rasa semacam apa yang berkecamuk di batin Aa Gym ketika mengetahui media massa mengabarkan dirinya menikah lagi dengan seorang perempuan sementara dirinya tidak ingin berita itu disebarluaskan. Mungkin marah dan kecewa. Ia tak hanya kehilangan kepercayaan, tapi juga mendapatkan umpatan kata-kata kotor dari orang-orang yang mengaguminya selama ini. Reputasinya hancur!

Aa Gym sewajarnya memang layak marah dan kecewa, seperti halnya manusia kebanyakan ketika tengah dilanda kesulitan. Marah, nafsu adalah manusiawi. Tapi sayangnya Aa selama ini telah terlanjur dikenalkan dengan sosok sabar melalui layar televisi kepada para pemirsa. Maka ketika tampil di depan pemirsa sebisa mungkin dia akan menutupi kekurangan agar bisa tampil sempurna.

Inilah masalahnya. Orang selama ini hanya mengenal Aa Gym dari satu sisi, yakni Aa Gym sebagai da’i. Padahal seperti halnya manusia lain, dia juga manusia biasa. Dia suami bagi istrinya, ayah bagi anak-anaknya, kakak dari adik-adiknya, dan lain-lain. Dalam ranah ini Aa Gym tentunya juga melakukan interaksi yang sama dilakukan oleh orang kebanyakan.

Apakah dia suami yang baik, ayah yang sayang kepada anak-anaknya, kesimpulan ini bisa kita dapatkan jika kita melihat interaksi secara langsung bagaimana Aa Gym berlaku dengan orang-orang disekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah orang akan mengenakan topeng tertentu, dan kemudian melepasnya dengan mengganti topeng yang lain sesuai peran yang tengah dia mainkan?

Membicarakan Aa Gym tentu saja tidak sama dengan menyejajarkan kyai di desa yang juga sama-sama menjadi tokoh agama. Aa Gym bukan saja menjadi dai, tapi dia melalui tayangan televisi itu telah direkonstruksi menjadi selebriti. Gosip yang menimpa kehidupan kesehariannya akan menjadi bahan perbincangan hangat dari ibu-ibu arisan sampai pedagang di pasar.

Bahkan poligami yang dilakukan Aa Gym sempat merepotkan pemerintah sehingga merasa perlu menyusun RUU yang mengatur tentang poligami. Poligami tiba-tiba saja menjadi masalah serius!

Namun ketika orang melihat Aa Gym sebagai dai bukan sebagai individu, maka masalah poligami bukan saja menjadi cela bagi pribadi Aa Gym tapi juga menyeret institusi dakwah yang ditungganginya. Lembaga dakwah secara umum juga terkena imbas dari celas akibat poligami yang dilakukan oleh Aa Gym. Kyai yang ada di desa-desa pun terkena getahnya. Masyarakat luas menjadi skeptis kepada para tokoh agama.

Aa Gym memang punya alasan kenapa melakukan poligami. Kita (orang awam) yang menonton televisi tak akan pernah tau apa motivasi Aa Gym yang sebenarnya. Di televisi Aa Gym bisa berkata poligami yang dilakukannya atas dasar untuk menolong dengan dalil agama sebagai dalih pembenaran. Ya, Aa Gym telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sesuai peran yang ia mainkan yakni sebagai tokoh yang baik, sabar, dan senantiasa mengajarkan kebaikan.

Persoalan jujur atau tidak, hanya Aa Gym dan tuhan yang tahu niat apa yang mendorongnya melakukan poligami. Hati tak pernah bohong, tidak seperti mulut maupun wajah yang bisa saja dibuat-buat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: