Skip navigation


Rabu (22/11) sekitar pukul 11.30. Iring-iringan mobil memasuki pelataran auditorium Undip Imam Bardjo. Diantaranya adalah mobil pengangkut jenazah Prof Dr Th Sri Rahayu Prihatmi, MA Dekan Fakultas Sastra Undip (FS Undip).

Siang itu, ratusan orang telah berkerumun di dalam auditorium untuk melakukan penghormatan terakhir kepada almarhumah. Mereka adalah para sivitas akademika FS Undip dan beberapa tamu undangan.

Prof Dr Th Sri Rahayu Prihatmi, MA meninggal pada hari Selasa sore sekitar pukul 16.00 di Ruang Paviliun Garuda Lt 2 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Dr Kariadi Semarang. Sudah dua minggu alharhumah dirawat di rumah sakit pemerintah itu karena menderita kanker pankreas.

“Sebelum meninggal ibu sempat bilang, saya mau tidur dulu. Rupanya dia pamit tidur untuk selamanya,” kata Pak Pit, panggilan FX Pietarsono, suami almarhumah. Malam itu dia menyampatkan ngobrol dengan beberapa tamu yang bertakjiah sampai hampir larut malam.

Pertama kali memberikan sambutan adalah Prof. Soejarwo, guru besar FS Undip, yang membacakan riwayat hidup Bu Yayuk (panggilan akrab almarhumah di kampus) dan prestasinya semasa hidup.

Sambutan lain yang tak kalah mengharukan disampaikan oleh Prof Nurdin HK. Di akhir sambutannya penyair yang sebentar lagi akan dilantik menjadi dekan FS Undip ini, membacakan syair untuk almarhumah. Hadirin pun sekejap terkesima oleh gaya pembacaan puisinya yang atraktif.

“Almarhum telah banyak memberikan kontribusi kepada perkembangan Sastra Indonesia. Jadi kepergiannya tak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi juga bagi bangsa ini,” katanya.

Benar, selain menjadi akademisi di almamaternya, almarhumah telah banyak menghasilkan karya. Beberapa bukunya antara lain “Dari Mochtar Lubis hingga Mangunwijaya”, “Nh Dini: Karya dan Dunianya”, “Fantasi dalam Kedua Kumpulan Cerpen Danarto: Dialog antara Dunia Nyata dan Tidak Nyata”, dan “karya-karya Putu Wijaya: Perjalanan Pencarian Diri itu”.

“Belakangan saya sudah tidak aktif menulis. Bila ada waktu luang, saya pasti akan menulis lagi,” ucapnya kepada saya beberapa waktu lalu. Waktu itu saya menawarkan sebuah buku baru titipan seorang teman dari Jakarta. Bu Yayuk menjadi target “jualan buku” saya itu. Dan rupanya dia sangat apresiatif sekali.

“Oh ya, saya sudah lama tidak mendapat Kalam, kalau ada yang baru tolong saya dikabari ya,” pesannya sebelum saya hendak meninggalkan ruang kerjanya.

Saya pribadi memang tak banyak mengenal almarhumah. Kebetulan saya juga tak pernah mengikuti kuliahnya, karena beliau mengampu Jurusan Sastra Indonesia, sementara saya Jurusan Sastra Inggris.

Perkenalan saya melalui obrolan-obrolan singkat. Terutama ketika organisasi kemahasiswaan yang saya pimpin tengah mengalami masalah. Selama itu, almarhumah adalah sosok sangat kooperatif. Ia sangat mendukung kegiatan kemahasiswaan.

Persoalan almarhumah bukan seorang manajer yang baik, saya kurang tau pasti. Memang beberapa suara menyatakan bahwa kepemimpinan beliau kurang sukses. Bukan manajer yang bagus. Kurang tegas!

“Bu Yayuk itu akademisi tulen. Dari kecil dibesarkan dalam lingkungan akademik,” kata salah seorang dosen kepada saya.

Usai sambutan, segenap sivitas akademika dan tamu undangan yang hadir memberikan ucapan duka kepada keluarga korban. Tampak di barisan depan, suami almarhumah, FX Pietarsono beserta anak dan cucunya menyalami para pelayat.

Setelah upacara, jenazah diberangkatkan ke pemakaman keluarga besar Undip di Tembalang. Upacara pemakaman berlangsung di bawah panas terik matahari. Namun menjelang penyemayaman jenazah, terik itu mulai meredup. Langit seolah-olah tertutup awan.

Prosesi upacara pemakaman berlangsung hikmat. Diantara keluarga korban yang menaburkan bunga ke liang kubur itu adalah seorang anak laki-laki yang tak lain adalah cucu almarhum. Anak itu mukanya memerah dengan air mata masih menetes di pipinya. Dan juga seorang perempuan yang wajahnya hampir sama dengan almarhumah. Dia adalah anak perempuan almarhumah.

Peti jenazah itu pun kini sudah tak terlihat lagi, telah ditutup beberapa kayu dan beberapa papan ucapan yang terbuat dari gabus. Pelan-pelan kayu dan gabus itu pun tertutupi oleh tanah yang dicangkul oleh para penggali kubur itu.

Saya pamit duluan. Langit mulai gelap. Keburu hujan. Lagian juga sudah pukul 14.00. Saya harus masuk kerja. Sepanjang perjalanan pulang, entah saya terbayang terus akan obrolan-obrolan singkat dengan almarhumah. Dan dalam hati berkata “Ah, ternyata dia orang besar”. Selamat jalan bu Yayuk, semoga damai di alam sana….

*Ini adalah catatan singkat saya. Rencana ingin dibuat catatan yang lebih panjang.

One Comment

  1. tidak ada kata terlambat dalam kamus kehidupan
    saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan turut berduka cita yang mendalam. Bu Yayuk yang saya kenal low profile.
    saat sidang pendadaran saya sempat grogi ketika tahu tim penyidang ada Bu Yayuk … ternyata … benar-benar ngayomi. FS kehilangan satu orang besar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: