Skip navigation


Apakah Anda sempat bertanya, untuk apa para blogger rajin menulis (memposting) di blognya. Dari artikel yang bersifat pemikiran, penemuan-penemuan baru, sampai yang cuma sekadar catatan keseharian yang lebih tepat disebut curhat (curahan hati). Apapun jenis blog tersebut, pembaca bisa banyak mendapat banyak informasi dari sana.

Bukankah para blogger itu menulis tidak dibayar. Meski ada program Google Adsense , yang akan membayar blogger, namun kebanyakan blogger masih menulis secara sukarela. Mereka juga menulis bukan untuk institusi atau lembaga seperti media?

Dari sana muncul dugaan bahwa para blogger melakukan aktivitas ngeblog (blogging) nya karena kecintaan pada menulis. Mereka rela memposting tiap hari ke blognya tanpa dibayar, tanpa namanya muncul di media.

Lalu apa wartawan yang menulis tiap hari di media tempat bekerjanya bisa disebut sebagai blogger?

Kalau ditinjau dari jenis aktivitasnya, baik blogger maupun wartawan, keduanya sama-sama menulis. Tapi jika dicermati dari motivasi dan untuk apa dan siapa mereka menulis, tentu saja berbeda. Wartawan menulis untuk media, sementara blogger menulis untuk dirinya sendiri. Blog menjadi tempat blogger menuangkan pendapatnya. Sementara media belum tentu mewakili opini pribadi wartawan, tetapi mewakili publik atau bahkan pemilik media.

Dari sana, kita menemukan spirit yang luar biasa dari para blogger. Mereka menulis karena kecintaan. Mereka menulis karena perlu untuk disampaikan. Dibilang narsis, ya emang blogger harus narsis. Justru ini yang perlu dicontoh.

Tapi, mengapa sedikit wartawan yang memiliki blog. Menyedihkan lagi, sebagian diantaranya anonim. Ia seolah tak pede dengan statusnya sebagai wartawan. Dia cerita ngalor ngidul tentang persoalan di luar profesinya. Justru blogger, yang tidak memiliki latar belakang jurnalis, malah yang pertama kali mengabarkan tentang sesuatu kejadian di blognya. Jadilah wartawan yang bukan blogger, dan blogger yang bermental wartawan.

Memang nggak ada yang melarang. Tapi, alangkah lebih baik, jika blog bisa menjembatani wartawan dengan pembaca. Alangkah lebih baik jika kita menulis tentang sesuatu yang paling dekat dengan kita, yang paling kita mengerti.

Adakalanya ketika menulis di media, wartawan tidak bebas. Ada sesuatu yang tak boleh disampaikan oleh pimpinan. Ada alasan tertentu kenapa mengambil sudut pandang tertentu. Ini salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh seorang wartawan yang juga blogger.

Sekadar contoh, seperti yang dilakukan oleh desainer tempo yang menjelaskan tentang alasan pemilihan desain di http://tukangkoran.blogspot.com/ atau Andreas Harsono yang banyak mengupas soal catatan jurnalismenya di http://andreasharsono.blogspot.com. Selain dua blog itu, tentu masih ada blog menarik lainnya.

*disarikan dari workshop blog untuk wartawan di Semarang pada pertengahan September 2006.

2 Comments

  1. ya, ya, ya….

    sdh lihat ini kan?🙂

    salam kenal,

    tyo

  2. wah artikel yang manarik Om. meski dengan gaya khas sampeyan yang suka cengengesan, namun isinya tetap mengena.

    meski bukan halaman jurnalistik (mungkin begitu anda menyebut blog anda), tapi pembaca bisa mendapatkan banyak hal, (yang mungkin) tidak didapatkan orang dari membaca sebuah berita yang ditulis dengan kaidah jurnalisme.

    btw, matur suwon sudah mampir.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: