Skip navigation


Dibalik orang melakukan ibadah di bulan Ramadhan


Ilustrasi oleh Toni

SESEORANG memiliki banyak julukan. Ada yang memanggilnya Pak Kyai, ada juga yang menyapanya Pak Haji. Nama yang sebenarnya tidak jelas. Yang diketahui, ia selalu tersenyum tiap kali bertemu orang. Ia banyak bersedekah kepada orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari orang tersebut berubah. Mukanya cemberut bila bertemu orang. Ia juga tak lagi mengisi kotak amal untuk pembangunan masjid. Padahal sebelumnya, ia merupakan penyumbang dana terbesar. Rupanya ia kecewa karena orang-orang tak lagi memanggilnya dengan julukan kesayangannya. Ia merasa dilecehkan. Pengorbanannya selama ini tak dihargai.

“Biar koruptor kayak gini, aku banyak menyumbang pembangunan masjid itu, ” ungkapnya, kesal.

****

BULAN Ramadhan tiba. Orang muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Masjid dan surau ramai dikunjungi para jemaah. Mereka menjalankan sholat Tarawih. Pada paroh bulan terakhir, atau tepatnya tujuh hari terakhir, rombongan jemaah bertambah. Masjid ramai sepanjang malam hingga pagi hari. Orang-orang menunaikan Qiyamul Lail (ibadah malam). Ada apa gerangan? Lailatul Qodar konon berada di tujuh hari terakhir itu.

Pada saat yang sama, stasiun televisi tampil ‘spesial’ dalam bulan puasa ini. Acara kerohanian sekarang ditambah porsinya. Ada talkshow menghadirkan da’i kondang yang lagi beken. Sinetron-sinetron tampil lebih religius. Sampai kuis tebak-tebakkan dengan tema islami juga ikut-ikutan menyemarakkan acara sahur dan menjelang buka puasa. Pokoknya, semua disulap menjadi lebih islami.

Para selebriti yang biasa muncul di layar kaca juga tampil beda. Kali ini penampilannya lebih santun. Tak ketinggalan juga para pejabat, ketika muncul di depan publik, ucapan dan perilakunya terjaga. Bisa jadi untuk sementara waktu mereka juga meninggalkan kebiasaan buruk lainnya.

Ada apa dibalik semua itu? Menghormati bulan puasa, mungkin itu jawaban yang akan diberikan. Orang-orang berubah. Sim-salabim, semua disulap menjadi lebih baik.

****
MANUSIA, seperti nelayan dan petani, menggantungkan hidupnya pada musim. Mereka tak berani melawan musim. Kualat, kata orang Jawa. Masak lagi musim rob tetap melaut. Musim rendengan (penghujan) kok malah menanam palawija. Alamat bakal ciloko!

Beberapa tahun terakhir, para petani di daerah tempat saya tinggal, mengeluh. Musim sekarang ini tak menentu. Musim ketigo (kemarau) malah turun hujan. Pada musim rendengan, hujan jarang turun. Akibatnya, mereka sering gagal panen. Harga tembakau anjlog. Kualitasnya memburuk akibat banyak turun hujan. Padi tak sempat panen karena kurang pengairan. Namun demikian, mereka masih tetap setia pada musim. Musim padi tetap menanam padi, tidak menanam palawija, dan begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi kesetiaan petani pada musim tersebut tidak berlaku pada orang-orang yang pergi ke masjid, para selebriti yang berpakaian santun, para pejabat dan wakil rakyat di gedung DPR yang tidak melakukan korupsi. Mereka hanya melakukannya di bulan puasa. Selepas itu, kembali seperti sediakala.

Apakah puasa, menjalankan ibadah itu juga mengenal musim? Seperti saat bulan puasa kemudian orang ramai-ramai berbuat kebaikan. Karena, seperti yang dijanjikan oleh Tuhan, semua kebaikan akan dilipatgandakan. Mumpung lagi bulan promosi, maka orang pun berbondong-bondong melakukan kebajikan.

****
FENOMENA tersebut adalah realita. Kita, termasuk saya dan mungkin juga anda, malakukan ibadah atau kebaikan karena ingin dipuji oleh orang lain. Maka bila yang diharapkan tak kesampaian, kita akan kecewa. Merasa pengorbanan yang telah dilakukan.sia-sia.

Kita juga masih menjalankan ibadah karena takut bukan karena kesadaran. Ini tentu beda dengan definisi taqwa sebenarnya.Takut di sini karena perasaan cemas, perasaan khawatir akan ancaman-ancaman dari Tuhan. Di sisi lain, kita mudah tergiur oleh iming-iming. Iming-iming pahala dari tuhan.

Ini seperti yang dikutip dari kalimat bijak Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Basrah, Irak:

Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.

ANDAI saja berbuat baik, taqwa kepada Tuhan dilakukan secara tulus dan tak mengenal musim, dunia ini akan lebih tenteram. Manusia akan lebih konsisten dalam melakukan kebaikan walau dalam kondisi apapun.

Orang melakukan kebaikan karena dorongan dari dalam dirinya. Dia tidak lagi berpura bermanis-manis di depan orang lain, pura-pura khusu’ ketika beribadah, sementara rasa itu tak pernah ada dalam hatinya.

Tapi, kehendak tuhan masih menjadi misteri. Tidak bisa ditebak seperti musim akhir-akhir ini. Setan-setan itu juga akan dilepas seusai orang-orang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Manusia akan menanggalkan topengnya dan mengenakan topeng lainnya. Mereka kembali berkawan pada setan. Entahlah, saya juga tak mengerti. Wallohu a’lam bisshowaab.


*dipublikasikan di tablod Hawepos edisi 13/Oktober/2005

** tulisan ini sebelumnya pernah dimuat diblog ini pada 25 October 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: