Skip navigation


Sudahkah anda menikmati hidup yang anda jalani saat ini, dan apa yang menjadi ukuran kebahagian menurut anda?

Ketika menjawab pertanyaan serupa, saya buru-buru mem-blacklist materi atau harta-benda sebagai tolok ukur kebahagian hidup. Saya ingin mengatakan bahwa materi bukan segalanya, kebahagian itu berpusat pada suasana hati, kejiwaan, ruhaniah.

Tapi pada saat yang sama, saya tak dapat memungkiri kalau sebagian persoalan yang saya hadapi, setidaknya untuk saat ini, diakibatkan oleh masalah keuangan. Andai saja aku punya, aku pasti bisa ini, bisa itu.

Tiba-tiba saja slide-slide gambar itu bermunculan. Seorang lelaki hidup berkecukupan. Apapun yang diinginkan terwujud. Ia ingin membawa terbang orang-orang yang dicintainya keliling dunia dengan menggunakan pesawat pribadi. Ke mana-mana mengendarai mobil mewah di dampingin perempuan-perempuan yang supercantik nan seksi. Bahkan ia ingin membeli perempuan yang paling cantik sekalipun dengan uang yang dimilikinya. Ia ingin memiliki apapun seharga harta yang dipunyai.

Ah, apakah dengan begitu bisa menjamin hidup kita bakal bahagia. Buktinya ada saja orang kaya yang hidupnya tak lebih bahagia dari orang yang miskin, ada saja keluarga kaya yang kerjaannya tiap hari berantem. Apakah materi bisa menjamin hidup seseorang menjadi lebih bahagia?

Orang miskin bisa saja bilang sudah cukup dengan makan lauk tempe, ke mana-mana naik sepeda onthel, punya TV juga masih monochrome, rumah tipe RSSS, masih ngontrak lagi. Andaikata sudah punya komputer, paling banter komputer jangkrik yang pra-pentium. Tapi dia bilang bisa hidup bahagia, masih selalu tersenyum dan berucap syukur alhamdulillah.

Romantis sekali hidup orang miskin itu. Kendati fasilitas kehidupan mereka minim, tapi tetap besar hati.

Sekarang, keluarga kaya. Suami-istri jarang di rumah. Tapi tiap kali bertemu selalu bertengkar. Anak-anak sering keluyuran, menjadi malas di rumah. Keluarga berantakan, tak bahagia kendati telah dicukupi oleh materi dan kekayaan.

Kenapa tak mengambil contoh keluarga yang kaya, punya rumah mewah, suami istri dan anaknya rajin sholat berjamaah. Hidupnya tenteram, jarang terdengar pertengkaran. Sering beramal pada orang-orang sekitar. Membantu pembangunan masjid atau tempat umat lainnya. Anak-anaknya juga pintar di sekolah. Kurang apalagi?

Orang sering membandingkan keluarga kaya yang ber-“masalah” untuk men-judge bahwa materi atau kekayaan bukan ukuran kebahagiaan seseorang. Di sisi lain, orang akan mengambil perbandingan keluarga yang secara ekonomi masih kurang, tapi kehidupannya harmonis.

Kalau pertanyaannya, lebih bahagia manakah, orang miskin atau kaya, jika keduanya sama-sama tak punya masalah dengan keluarga, dengan orang-orang di sekitar?

“Dalam kondisi yang sama, orang kaya dan orang miskin tetap akan lebih bahagia orang kaya. Kualitas kebahagian orang kaya lebih,” ucap salah seorang dosen saya dikampus suatu saat.

Menurutnya, dalam suasana hati yang sama, orang kaya hidupnya lebih bahagia. Orang kaya yang keluarganya tak ada masalah, suami dengan istri baik, dengan anak juga baik, akan lebih bahagia dari keluarga yang baik dari keluarga yang miskin.

“Sudah miskin, keluarga bermasalah, jelas tambah susah. Masalahnya ganda. Kalau keluarga kaya bermasalah, kan cuma satu masalahnya,” tukas dosen itu.

“Romantis itu hanya istilah bagi orang kaya. Bagi orang kaya, sesekali tak punya duit sangat romantis. Tapi bagi orang miskin, jadi masalah,” tambahnya.

Benar, orang-orang kaya itu kadang berlaku aneh, mereka sesekali ingin menjadi orang miskin. Tiduran di atas koran di pinggir sungai, atau makan dengan lauk ikan asin yang dimakan langsung dengan jari tangan tanpa sendok yang disajikan di atas daun pisang, naik sepeda onthel, menumpang gerobak yang ditarik oleh sapi dan kerbau, sungguh sangat romantis bagi orang kaya itu merasakan kemelaratan seperti ini. Karena apa, karena mereka jarang menjalani kehidupan seperti itu.

Sementara bagi orang miskin, kemelaratan disikapi sebagai sebuah penderitaan. Mereka tak tau kalau justru kemelaratan seperti ini yang sesekali ingin dinikmati oleh orang kaya, kemeralatan seperti ini yang justru menjadi rekreasi bagi orang kaya. Yang diangankan oleh orang miskin, betapa enaknya menjadi seperti mereka, orang-orang yang secara financial berkecukupan. Romantisme dalam arti lain, yang bukan lagi kenikmatan, tapi penderitaan, karena siang malam, mereka berandai menjadi orang kaya.


Oh ya, saat ini saya tengah mencoba-coba keberuntungan dengan melakukan investasi kecil-kecilan. Saya semula tak percaya akan melakukan ini, sebelum ternyata ada ratusan, bahkan ribuan orang yang ternyata telah melakukan lebih dulu. Diantaranya, ada seorang yang sudah cukup saya kenal, dan diam-diam saya mengaguminya.

Cukup mudah, sangat murah, namun kita bisa mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda. Saya berani jamin, anda pasti akan tertarik. Silakan klik di sini

One Comment

    • gilang desti parahita
    • Posted June 30, 2006 at 2:53 am
    • Permalink
    • Reply

    Ya Din, spwakat, spwakat. Dua hal itu bisa dibandingkan jika variabel-variabel pengganggunya dinetralisir. Makanya, yang dah telanjur korup itu takut banget jadi miskin. Yang miskin mana takut jadi kaya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: