Skip navigation


Innalillahi wa innailaihu rojiun….

Minggu (30/4) pagi sekitar jam 09.00 WIB, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di kediamannya di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Sampai menjelang tutup usianya pada 81 tahun ( 2 Februari 1925 – 30 April 2006) Pram dikenal sebagai sosok penulis yang produktif. Puluhan karya telah lahir dari tangannya. Beberapa diantaranya telah memenangkan penghargaan. Ia juga sempat dicalonkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra. Kepergianya ini jelas membuat kehilangan banyak orang.

Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Pada masa Orde Baru Pram menjadi tahanan politik selama 14 tahun tanpa proses pengadilan.

Tak cukup itu, karyanya beberapa kali dibakar oleh Angkatan Darat sewaktu masa Orde Baru. Sebagian besar karyanya baru diterbitkan kembali setelah masa reformasi. Dan ternyata mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan pecinta buku, khususnya pecinta buku sastra. Karyanya ini banyak merekam isu sejarah. Buku terakhir yang diterbitkan adalah Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005).

Sewaktu masih hidup, rokok merupakan teman karibnya. Ia bisa menghabiskan 32 batang dalam sehari. Maka sebelum ketika sakitpun, ia masih sempat meminta rokok. Satu hal yang unik menjelang kepergiannya ini, Pram punya hobi baru bakar-bakar sampah. Sampah-sampah di halaman rumahnya sampai sampah tetangga ia kumpulkan kemudian ia bakar. Selain bakar-bakar sampah, Pram juga membakar baju-baju lamanya. Semalam sebelum meninggal, ia bertanya “Apakah masih ada sampah yang belum dibakar?”

Kesetiaannya pada rokok berbanding lurus dengan konsistensinya ia menulis. Ia sangat produktif merokok, tapi juga banyak menghasilkan karya. Tapi mengenai hobi baru bakar-bakar itu, apakah ada kaitanya dengan karya Pram yang dulu beberapa kali diberangus oleh pemerintah Orde Baru? Ataukah itu menyiratkan keinginanya untuk menghapus segala kenangannya?

Sehari sebelum meninggal, Sabtu (29/4), Pram minta pulang ke rumahnya ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Ia ingin dirawat dirumah saja. Apakah ini juga petanda?

Sehari sebelumnya juga telah beredar kabar di beberapa milis, Pram telah meninggal dunia. Ada yang kemudian menyampaikan bela-sungkawanya. Ternyata kabar itu hanya gosip. Saya mengeceknya sendiri menelpon ke kediamannya Pram. Seorang lelaki mengatakan Pram masih hidup. Ia membenarkan bila Pram malam itu telah dibawa pulang ke rumahnya di Utan Kayu.

Paginya, sekitar pukul 09.30, saya mendapat kabar Pram telah tiada. Kali ini bukan gosip lagi, karena berita itu saya dapatkan dari kantor berita Antara, dan juga telah dimuat di Kompas CyberMedia.

Sekalipun tak ada hubungan darah dengan sastrawan besar itu, saya merasa sangat kehilangan. Ada perasaan sedih. Bangsa ini kehilangan orang hebat. Akankah adalagi orang-orang seperti Pram, yang konsisten menulis, kukuh dengan prinsipnya?

Selamat jalan Pram, damailah di syurga…

5 Comments

  1. surat pembaca
    MEMPERTANYAKAN KINERJA (PERANAN) BEM DI KAMPUS SASTRA TEMBALANG???
    Pertama kali mendengar kata BEM dibenak saya adalah seorang aktivis yang mampu memperjuangkan masyarakat kampus pada khusunya dan masyarakat disekitar kampus pada umumnya. namun, melihat kondisi riil di lapangan amatlah bertolak belakang dengan pikiran saya tadi. ditambah lagi dengan keadaan kampus sastra saat ini yaitu adanya Kampus Sastra Atas dan Kampus Sastra bawah. sepengetahuan saya selama kuliah di kampus atas, peran BEM memang benar-benar perlu dipertanyakan. menurut saya BEM kurang bisa menjembatani kalangan mahasiswa (terutama mahasiswa Sejarah dan Arsip) dengan birokrat kampus ataupun dengan UKM di Sastra bawah. bayangkan apabila harus meminta tanda tangan dekan untuk kepentingan proposal atau surat lainnya, mahasiswa atas harus naik turun. belum lagi masalah tentang pengajuan beasiswa untuk mahasiswa juga masih berpusat di bawah. belum lagi kendala bagi mahasiswa atas dalam mengikuti kegiatan dari UKM di FS. semuanya masih berpusat di bawah. uang saku mahasiswa malah habis untuk dana transportasi (bensin/bis). mana peran BEM disini? kita yang di atas toh juga warga sastra kan??? tapi kenapa harus begini terkucil?? mungkin saya terlihat menuntut tapi saya sangat miris melihat keadaan warga atas yang seperti diAnaktirikan???!!! saya mempunyai harapan agar BEM memaksimalkan fungsi dan perannya, tidak hanya di kampus bawah tapi juga di kampus atas. selain itu BEM diharapkan bisa memberikan solusi untuk bisa menyalurkan keinginan mahasiswa atas untuk berpartisipasi aktif dalam UKM kampus (tanpa terbebani dengan masalah dana untuk transportasi). karena faktor ini yang mungkin menjadi masalah (alasan) bagi mahasiswa atas untuk bisa intens aktif mengikuti kegiatan kampus (UKM) dan mengakibatkan minimnya sosialisasi mahasiswa atas dengan mahasiswa bawah. rasanya percuma jika selama 2 periode ini presiden BEM berasal dari kampus atas, toh sampai saat ini geliat kampus bawah belum terasa sampai ke kampus atas????!!!! Semoga ini bisa menjadi PR buat BEM…!!!

    ttd
    MAHASISWA SEJARAH ANG 2004

    ANONIM AJA YA MAS UDIN, SOALNA YG NGIRIM INI GAK MAU DISEBUT NAMANYA. TRUS KALO ADA YANG PERLU DI EDIT, EDIT AJA GPP. MAKASIH YA MAS…
    TAK TGU LHO TABLOIDNYA DI KAMPUS ATAS. WARGA ATAS MENGHARAPKAN AGAR TABLOIDNYA DI ANTAR LANGSUNG OLEH pu HE…he….^_^
    by. tarie_maniezz

  2. Hellllooouuu…
    Lama rasan2 pengen buka blog kau ini, sekarang baru kesampaian. Pernah sekali, tapi blom sempet kasih comment.

    Sepp. Cerdas. Tapi kayaknya masih bingung mau berdiri di mana.

    Mumpung masih sempet, sekalian mo undang buat kunjungi blog jurnalistik yang aku buat, sederhana sekali sebenere,dedikasi yang aku buat u/ bulletin yang aku kelola di kerjaanku.

    http://buletin-tebar.blogspot.com/

  3. O iyah, kritik lagi nih kritik.
    Warna font di postingannya kok gelap gitu, jadi musti ngeblok dulu kalo pengen baca. Apa karena monitorku yang udah gak standar yah? Ya, penting diperterang dulu aja biar siapapun yg akses, bisa nyaman. Chaowww

  4. “Tapi kayaknya masih bingung mau berdiri di mana”

    saya hanya melemparkan teks, dan pembacalah yang akan memaknainya. saya ucapkan terima kasih atas pembacaannya.

    namun tak ada salahnya, kita membaca karya penulis lebih komprehensif lagi untuk mengetahui sikap dari penulis bersangkutan. karena sangat mungkin implied author satu karya dengan yang lain berbeda. shg dua karya saja kurang memadai.

    any way, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. makasih juga atas masukannya.

  5. Wah, jadi udah ketahuan ya…
    Maaf, afwan, sori, aku nggak pernah nongol di milis jurnalisme sastrawi. Bukan apa-apa sih, cuma minder aja. Takut kalo nggak bisa, takut kalo salah ngomong, takut kalo dianggap sok kenal, takut….
    Ya, meskipun Nietzshe mengatakan kalau kita takut, berarti kita telah kehilangan segalanya. Tapi, begitulah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: