Skip navigation


Pendapat menulis itu perkerjaan sulit, sekarang terbantahkan. Sejumlah penulis mengatakan menulis itu gampang, semudah orang berbicara.

“Saran saya, kalau Anda mau menulis, menulis saja. Menulis itu gampang. Jadi tak perlu dibuat susah,” ucap pria di depan kerumunan massa, siang itu. Ucapannya disambut tepuk-meriah para hadirin. Ah, ternyata menulis itu gampang banget. Kenapa dibuat susah!

“Apalagi menulis karya sastra, apapun di sekitar Anda bisa jadi tema. Sandal, sesuatu yang anda pakai di kaki, itu bisa jadi tema. Di tempat saya tinggal, ada orang yang mau berinfaq sandal, ” tambah pria yang tengah memberikan resep menulis kepada para hadirin.

Pria yang ada disebelahnya, berpeci putih dengan warna rambut serupa, mengatakan, kalau orang lain bisa, kenapa saya tak bisa. Kalau orang lain bisa buat puisi, kenapa dirinya tidak. Nah, inilah yang menjadi prinsipnya menulis. Saya harus bisa!

Saya menulis sejak masih remaja. Apapun saya tuliskan. Baru ketika ingin menulis sastra, saya baca-baca buku-buku sastra. Saya baca puisi Sutardji, puisi Rendra, dan lain-lain. Lalu saya buat puisi seperti karya-karya mereka. Oh begini toh namanya puisi. Yang begini tuh sudah puisi. Puisi saya yang pertama diterbitkan berjudul kumpulan “Puisi Balsem”, yang ia katakan puisi-puisinan.

Pria yang lainnya lagi, yang ada dideretan ujung kiri di meja pembicara yang di hadapannya ratusan massa berjubel, juga menceritakan pengalamannya menulis. Ia menulis tentang negeri orang lain yang pernah disinggahi. Setelah ia selesai menulis, kemudian dia sodorkan ke penulis ternama untuk dimintakan pendapatnya dan kesediannya untuk memberikan kata pengantar.

“Awalnya saya coba-coba, eh malah laris di pasaran, ” kata pria yang juga menulis Novel Ayat-ayat Cinta, sebuah novel yang menceritakan tentang kisah seorang santri asal Indonesia yang belajar di Mesir, yang menjadi novel fenomenal, khususnya di kalangan kaum santri, beberapa waktu terakhir sejak kemunculannya tahun lalu.

Ternyata sambutan orang tersebut sangat baik. “Karya ini harus diterbitkan. Segera cari penerbit,” kata pria penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang siang itu juga berada di deretan meja para pria yang dikerubungi massa.

Keempat pria itu, yang disampaikan paling awal dalam tulisan ini adalah Prie GS, selanjutnya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Habiburrahman El Shirazy, dan Ahmad Tohari. Rabu (30/3/2006) siang mereka menjadi pembicara di acara “Heboh Sastra Santri” dengan peluncuran antologi cerpen “Nyanyian Cinta” yang digelar oleh IPPNU Jawa Tengah bersama Pesantren Karya Basmala, penerbit buku-buku islami.

Antologi digarap oleh beberapa penulis yang sudah tak asing lagi, diantaranya Gus Mus dengan judul “Muhasabah Sang Primadona”, Habiburahman dengan “Nyanyian Cinta”; yang menjadi judul dari antologi; Abidah El Khailaqi dengan Peri Cinta, dan lain sebagianya.

“Dunia sastra itu kan dunia khayal, bagaimana untuk mencari ide dalam menulis, apa perlu bersemedi dulu, untuk sampai pada tingkat la ilaha illalloh seperti Gus Mus,” tanya salah seorang hadirin.

“Inilah kesahalan banyak orang, menganggap sastra adalah dunia khayal, sehingga seseorang sampai perlu bersemedi dulu. Sastra itu ada di sekitar kita. Yang dibutuhkan adalah kepekaan, ” ucap Ahmad Tohari.

***

Beberapa hari lalu, saya membeli buku Creative Writing yang diterbitkan oleh Media Kita dan Jakarta School. Penulisnya AS Laksana. Amanat yang disampaikan oleh buku ini tidak jauh beda dari yang disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto dalam bukunya “Menulis itu Mudah”. AS Laksana dalam resep penulisan yang dipaparkan dalam beberapa bagian itu juga menyampaikan hal yang sama. Menulis tidak sulit. “Menulislah seperti anda bicara. Anda bisa berbicara lancar, maka anda juga menulis seperti itu, ” tulis AS Laksana dalam pengantar bukunya.

Ia kemudian menekankan pada perlunya seseorang menulis. Menulis adalah proses berpikir, menyampaikan sesuatu yang menjadi kegelisahannya. Dengan menulis maka gagasan kita akan bisa dipahami oleh orang lain. Dengan menulis muncul banyak ilmu pengetahuan. Pokoknya apapun bidang Anda, menulis itu penting. Demikian AS Laksana meyakinkan kepada pembacanya tentang pentingnya menulis.

Pendapat para pembicara dan juga kedua penulis buku dalam yang saya sebut tadi, membuat saya dongkol. Menulis itu mudah, tidak sulit, gampang. Itu kan kalian, karena kalian sudah bisa menulis, karena kalian sudah terlalu kebesaran dengan nama yang sekarang kalian sandang, sekarang berani bilang seperti itu, menulis itu mudah.

Menulislah seperti Anda berbicara. Apalagi yang satu ini. Menggampangkan sekali orang ini. Orang nulis kok kayak bicara, ya beda dong. Tinggal ngomong itu gampang. Anak balita saja bisa. Menulis tidak demikian, tidak selancar, cas-cis-cus, seperti saat kita bicara.

Ehhhm…. kalau hanya menulis saja, asal menulis, kayaknya pendapat orang-orang itu tidak terlalu salah. Ya, seperti yang saya tulis ini. Asal nulis. Tapi kan tidak mudah untuk membuat tulisan yang bisa menjadi karya besar,fenomenal, masterpiece….

Kalau sekedar menulis, setidaknya bagi saya tidak terlalu sulit. Anak-anak SMP-SMU yang masih lo-gue itu sudah bisa menghasilkan novel. Orang novel kayak catatan harian. Asal tidak buta huruf saja bisa menulis.

Tapi kan karya mereka tidak besar?

“Meski karya mereka laris dipasaran, kita lihat saja nanti, apa mereka akan dicatat dalam sejarah sastra Indonesia, ” ucap seorang pria seusasi acara launching buku itu.

Beberapa menit yang lalu, ia menjadi moderator. Padahal pria ini sudah bergelar sastrawan, tidak kalah besar dari para pembicara yang telah disebutkan tadi. Ia adalah Triyanto Triwikromo. Ditangannya sebuah buku yang baru saja diluncurkan itu, sudah tercorat-coret. “Ah dakwah banget, ” komentar pada salah satu coretan.

Pantas saja saat menjadi moderator, ia sempat mengatakan, semoga saja buku ini lekas habis, dan sebelum kembali diterbitkan perlu diedit lagi, karena masih banyak kesalahan, begitu ucapnya. Ucapannya itu menusuk sekali. Seandainya saya penyunting buku itu, saya akan damprat orang kurang ajar ini. Orang hanya moderator kok mengkritik. Ketidakpuasannya itu kemudian menjadi diskusi kecil setelah acara itu selesai dengan beberapa orang, diantaranya adalah saya.

Malam ini, saya baru saja selesai membaca tiga cerpen. Karya Gusmus, Habiburahman, dan Abidah El Khaelaqi, yang dilanuching siang hari sebelumnya. Komentar saya, terlalu sederhana cerita itu ditulis. Bahasa yang digunakan bahasa keseharian. Tak ada pergulatan bahasa, atau permainan kata yang berkedalaman. Ya, colloquial word lah.

Satu cerpen yang menurut saya temanya cukup bagus, yakni karya Gus Mus. Cerpen itu menceritakan Tokoh perempuan yang berasal dari desa yang menjadi selebritis terkenal kemudian berubah menjadi lebih santun, berjilbab, setelah bertemu dengan laki-laki yang kemudian menjadi suaminya, tapi ketika perempuan selebritis itu semakin mendekatkan diri pada agama, perilaku laki-laki itu malah berubah.

Kondisi ini yang membuat perempuan itu tertekan. Sress berat. Kemudian ia minta saran. Apakah ia harus minta cerai dari suaminya. Tapi bagaimana dengan tanggapan orang, terutama para fansnya yang selama ini telah menganggap hubungan keluarganya harmonis, setidaknya bila dibanding dengan selebritis yang lain, yang akhir-akhir ini sering ditempa isu tentang perceraian.

Kendati masih dilukiskan dengan bahasa yang sederhana, saya menikmati bacaan itu, bahkan hingga selesai. Memang dibagian awal, plot berjalan lambat. Cerita dengan tokoh aku yang bermonolog itu baru menggugah emosi pembaca ketika hampir setengah cerita. Setengah cerita awal, deskripsi yang berkepanjangan.

Yang menjadikan cerpen Gus Mus menarik, cerita diakhiri dengan pertanyaan. “Apa yang harus saya lakukan,” ucap tokoh perempuan itu mengakhiri monolognya.

Sementara pada cerpen karya Habiburahman, tak beda dengan Novelnya Ayat-Ayat Cinta, dalam cerpen Nyanyian Cinta ini penulis mengambil setting cerita di Mesir. Tokoh utama diambil tokoh yang sempurna.

Ceritanya begini. Seorang mahasiswa Al Azhar asal Indonesia, yang santun, yang amanah, suatu hari menemukan tas di tempat wudlu di masjid. Diketahui dari pemiliknya tas itu ternyata berisi emas berlian, ratusan ribu dollar uang, dan barang-barang berharga lainnya. Tanpa dibuka lebih dulu, tas diserahkan oleh pemuda itu ke takmir masjid. Ketika si empunya berniat memebrikan imbalan sebagai ucapan terima kasih, pemuda yang menemukan tas itu menolak.

“Tolong jangan paksa saya. Saya melakukan karena melaksanakan amanat Alloh,” kata pemuda itu. Berulangkali seorang bapak itu menawarkan imbalan, namun masih tetap ditolak.

Suatu saat pemuda itu dikirim ke suatu desa terpencil untuk berdakwah. Seuasai menyelesaikan tugas dakwahnya, ia dijodohkan oleh sang kepala desa kepada keponakannya, yang tak lain adalah putri sang empu tas yang ditemukan pemuda itu di masjid beberapa tahun yang lalu. Cerita berakhir dengan kebahagian sang tokoh. Akhirnya ia mendapatkan imbalan. Tersirat amanat bahwa Tuhan membalas amal baik yang dilakukan hambaNya.

Rupanya cerpen ini yang dicorat-coret oleh Triyanto Triwikromo. Triyanto merasa gusar karena muatan dakwah terasa sekali dalam cerita. “Ah biar saja, toh namanya juga cerpen santri. Dakwah-dakwah ya tak apalah, ” kata saya pada seorang teman yang tengah membicarakan aksi corat-coret dan diskusi kecil seusai diskusi peluncuran buku itu.

***

Menulis itu mudah?

Oke, saya terima pendapat orang-orang yang mengatakan menulis itu mudah. Setidaknya hal ini baik untuk membangkitakan semangat para penulis pemula. Mungkin saja mereka bermaksud menghibur orang-orang seperti saya yang baru saja menulis. Toh kalau sekedar menulis saya juga bisa.

Saya sekarang bisa mengerti apa yang diucapakan oleh para pembiacara di depan para santri itu. Mengenalkan dunia tulis menulis, apalagi menulis sastra, memang perlu cara yang sederhana, yang bisa mudah dipahami oleh orang awam.

Baiklah untuk tahapan ini, saya sudahi dulu, menulis itu mudah. Yang penting tuliskan dulu apa yang ada dipikiran kita. Lalu untuk menghasilkan yang lebih bagus, perhalus lagi draft awal itu. Tulisan yang bagus tak sekali jadi, ia harus ditata ulang, kata-kata yang berserakan itu perlu dirapikan, dirampingkan, disesuikan, ditimbang, dirasakan, dan seterusnya, hingga bisa menghasilkan pilihan bahasa yang tepat, yang memiliki kedalaman makna. Ini barangkali yang belum bisa dilakukan oleh para penulis pemula. Baiklah, yang penting sekarang menulislah!

9 Comments

  1. Menulis itu mudah, kok.
    Bagian tersulit itu di editing.
    Percaya deh…. ^_^

  2. ketika belum mulai, menulis terasa berat sekali. saya rencana mau nulis laporan buat majalah semi jurnal. data sudah lumayan lengkap. saya riset sudah hampir setahun! saya masih terbebani untuk menyajikan indepth reporting dengan gaya bahasa yang memikat. seba perfect lah. ide banyak sekali bergelayutan. hanya untuk yang ini saja saya terasa berat sekali. barangkali saya harus lepas.

    benar, bagi saya menuangkan ide awal, draft awal itu yang teramat susah. saya sudah menulis, tapi ditengah jalan macet lagi.

    makasih dah mampir. selamat berkarya. terbitan buku lancar.jangan lupa beramal, he2.

  3. menulis itu mudah? gak sepenuhnya benar. sebagaimana itu juga gak sepenuhnya salah. dengan segala persiapan, gak ada yang dibilang sulit. tapi, juga jangan sok menggampangkan sesuatu. bagi saya, menulis itu mudah ketika mood sedang baik, secerah matahari musim semi. tapi, saat hati mendung, menulis satu huruf saja begitu susah. jadi, bangunlah mood yang baik, perkaya diri dengan segala vocab yang layak, baca sebanyak-banyak buku, dan satu lagi, menulislah. jangan lupa juga untuk melakukan brain storming (saran dari Preman, pemred saya) di awal. trus, kayaknya bergaul dengan sesama penyuka tulis-menulis juga gak ada salahnya, ya kan? oke deh, semangat, ya. gak sesusah yang kamu bayangin kok. Banzai!

  4. menulis tergantung mood, ada benarnya juga. tapi aku tak sepakat. mood bisa dibangun.kalau sebelum nulis, biasanya aku perlu suasana yg nyaman, untuk mendukung mood.buku2 dirapiin misalnya,atau kasih pengharum ruangan.
    dan satu hal lagi, KEINGINAN dan MENCOBA. niat saja tentu tak cukup kan:)
    makasih loh dah mampir, dan masukannya.btw, bidadari badung tuh siapa ya, itukah namamu sebenarnya, puaskah kau menjadi bayang2 atas jatidiriu sesungguhnya?

  5. oo…pantesan hawe nggak terbit-terbit.

    bilik tempat ngetik di hawe kan “harum”, ah… kau ini mengada-ada saja, din.

    • gilang desti parahita
    • Posted April 28, 2006 at 9:21 am
    • Permalink
    • Reply

    Menulis itu menurutku mudah. Yang susah mikir buat nulis, cari ide, dan mulai dari mana, hehe..

    Ya contohnya betul tuh,kayak mau nerbitin HW pos, atau nulis skripsi..🙂

  6. bilik tempat ngetik hawe harum, nggak ada sejarahnya. rak buku jadi asbak terpanjang di dunia. kalau sekarang ya, ruangan harum, bersih, rapi, tapi kok kerjaan masih tak beres juga.

    ah pusing.kayaknya ada yang perlu dibersihin. cuci otak kali, he2.

    btw, nyonya ama bapak, janjian ya, kasih komen di blog ini?

    • gilang desti parahita
    • Posted May 4, 2006 at 11:37 am
    • Permalink
    • Reply

    Janjian? Nggak! Syapa bilang? Yang bener adalah…dia buntutin aku yang buntutin ekornya dia, hehe.

    Selama ini, aku baca tulisan2mu tanpa komen. Dan aku suka musik yang siarin.

    • Nezha Indira Nugraha
    • Posted March 1, 2009 at 3:03 am
    • Permalink
    • Reply

    menulis? jangan dianggap susah. kalau udah nyoba satu kali maka akan nyoba lagi,lagi, dan lagi. ketagihan gitu. tapi… mempublikasikannya yang sulit. apalagi yang tinggal di daerah. kaya’ aku gini nich.
    karaya lumayan banyak… tapi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: