Skip navigation


Oleh Muhamad Sulhanudin*

Pembukaan jalur non-skripsi bagi mahasiswa strata 1 (S1) dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan. Diantaranya akan adanya tumpang-tindih kurikulum antara mahasiswa strata 1 (S1) dan mahasiswa program diploma yang pada akhirnya akan membelokan orientasi pendidikan mahasiswa S1.

Diduga pembukaan jalur non-skripsi tersebut untuk memudahkan kelulusan mahasiswa. Orang jamak tentu sudah mafhum bila skripsi selama ini menjadi momok penghambat kelulusan mahasiswa S1. Dengan dibukanya jalur non skripsi ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan tersebut.

Namun, Agus Subiyanto, ketua jurusan Sastra Inggris Undip, mempunyai pertimbangan lain. Tidak semua lulusan S1 membutuhkan pengalaman penelitian ketika mereka terjun ke dunia kerja. Sebagai pengganti skripsi, mahasiswa dibekali matakuliah penunjang keahlian (soft skill) untuk bersaing dalam dunia kerja.

Jurusan Sastra Inggris Undip memang bukan perintis jalur non-skripsi. Universitas Indonesia (UI) telah lebih dulu membuka jalur ini untuk beberapa jurusan. UI bahkan telah membuka kesempatan bagi lulusan S1 jalur non-skripsi untuk melanjutkan ke jenjang S2. Namun demikian, memang tidak semua perguruan tinggi (PT) menerima lulusan jalur non-skripsi untuk program S2.

Menurut hemat penulis ada dua alasan mengapa mahasiswa S1 perlu menulis skripsi. Pertama, lulusan S1 dipersiapkan untuk menjadi tenaga ahli, sesuai dengan keilmuan yang pernah ditekuni semasa kuliah. Kondisi ini mengharuskan mereka memiliki pengalaman dalam penelitian. Kedua, sejauh ini menulis skripsi masih merupakan sarana efektif bagi mahasiswa untuk mempraktekkan penelitian yang merupakan salah satu poin Tri Dharma perguruan tinggi.

Berbeda dari mahasiswa S1, mahasiswa program diploma dipersiapkan untuk mengisi pos-pos tenaga praktis. Mereka inilah yang nantinya akan mengisi staf-staf ahli di instansi atau perusahaan, misalnya sebagai sekretaris, tenaga administrasi atau PR (Public Relation).

Ditilik dari kurikulum pendidikannya, mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa S1 dan diploma pun berbeda. Di fakultas Sastra Undip, misalnya, perbedaan antara program D III Bahasa Inggris dan S1 Sastra Inggris misalnya terletak pada penggunaan bahasa Inggris. Bagi mahasiswa D III penggunaan bahasa Inggris lebih ditekankan pada kebutuhan praktis sementara bagi mahasiswa S1 sebagai sarana untuk melakukan penelitian.

Pembukaan jalur non-skripsi di jurusan Sastra Inggris Undip tersebut merupakan salah satu imbas dari penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diterapkan pada angkatan 2002. Tujuan utama kurikulum berbasis kompetensi tersebut untuk membantu mahasiswa mendapatkan pekerjaan.

Yang sangat dikhawatirkan pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi ini Pembukaan jalur non skripsi ini dimungkinkan akan berpengaruh pada dunia kerja. Pertama, dunia kerja akan lebih memilih lulusan S1 yang memiliki kualifikasi lebih walaupun dengan standar upah yang lebih tinggi. Atau justru sebaliknya, dunia kerja akan lebih memilih lulusan D III ketika ternyata keduanya baik lulusan S1 dan D III tak ada bedanya, dengan begitu mereka bisa lebih menekan pengeluaran untuk membayar upah tenaga kerja.

Dua kemungkinan tersebut sama-sama tidak menguntungkan. Pertama, bila dunia kerja lebih memilih lulusan S1 untuk tenaga praktis, maka akan ada kekurangan tenaga ahli dan akan semakin tersisihnya lulusan D III. Akibatnya banyak lulusan D III menganggur karena lahan pekerjaannya diduduki oleh lulusan S1.
Kedua, dunia kerja lebih memilih lulusan D III untuk menduduki pos-pos tenaga praktis yang memang sudah seharusnya menjadi hak lulusan D III. Akan tetapi perlu diingat, ketika kurikulum berbasis kompetensi diterapkan pada mahasiswa S1, dengan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja bukan keilmuan, tradisi penelitian mahasiswa S1 mulai berkurang. Akhirnya, lulusan S1 seperti ungkapan “hidup segan mati tak mau”. Mereka lemah dalam penelitian, sementara yang mereka dapat tak ada bedanya dengan mahasiswa D III.
Melihat kondisi tersebut perlu ada pembenahan dalam kurikulum berbasis kompetensi ini bila memang masih akan dipertahankan. Adanya tumpang-tindih kurikulum yang berimbas pada orientasi lulusan S1 dan D III, perlu adanya pembatasan yang jelas. Langkah dunia pendidikan merespon perkembangan dunia kerja, seperti yang dilakukan oleh jurusan Sastra Inggris Undip tersebut memang sangat dibutuhkan. Namun jangan kemudian melupakan orientasi dari pendidikan itu sendiri.

*Versi lain diterbitkan oleh Suara Merdeka, Kamis, 8 Desember 2005. Klik di sini

One Comment

  1. Tak ada rotan akar pun jadi, semua aturan dan kewajaran bisa dibelokkan sepanjang itu menguntungkan. Terlebih bagi PTS, ide non skripsi ternyata menjadi primadona. Hal dikarenakan lemahnya saringan masuk bagi mahasiswa PTS. Bagi pemilik yayasan tri dharma sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. Kalau swasta memaksakan mahasiswa untuk meneliti (yang kebanyakan mahasiswanya hanya ingin mendapatkan ijazah), maka mahasiswa akan memimilih PTS yang menerapkan kemudahan lebih. Persaingan bukan lagi pada mutu, tetapi kemudahan yang ditawarkan. Budaya “kalau ada yang mudah untuk apa memilih yang sulit”. Padahal kita tahu kualitas berbanding lurus dengan tingkat kesulitan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: