Skip navigation


Tanggapan atas tulisan “Kyai, Agamawan, atau Negarawan”

Saya kurang senang dengan sekelompok yang melakukan kekerarasn atas
nama untuk menegakkan ajaran agama. Membakar tempat2 maksiat karena
merusak agama, mengobrak-abrik lokalisasi karena meresahkan
masyarakat, dan lagi-lagi merusak agama.

Pertanyaannya, kenapa mereka tidak berpikr kenapa tempat maksiat itu
ada, kenapa pekerja seks itu ada, apa mungkin mereka bisa berdiri
sendiri?

Tempat maksiat ada karena sistem yang belum bener. Polisi masih suka
diberi sogokan. Coba kalau mereka tegas, pasti kan tak ada lagi
tempat maksiat itu. Mereka juga bayar loh untuk perijinannya. Jadi
kalau langsung main serobot, tentu sekelompok yang melakukan
pengrusakan itu, meski atas nama agama apapun, sudah melakukan
kedhaliman. Mereka merampas hak dan kenyamanan orang lain.

Begitu juga para pekerja seks. Mereka ada karena memang ada
pelanggan. Ibarat barang dagangan, ada konsumennya. Mereka ada jua
karena ada yang melidunginya. Ada germo. dibalik germo juga ada oknum
aparat. Lagi-lagi kan karena sistem yang belum benar. Lalu kenapa
yang ditindak hanya yang dilapangan, para perempuan pemuas nafsu itu,
yang sebenarnya 99% untuk keperluan ekonomi, bukan semata-mata untuk
menggoda para pria.

Akhir-akhir ini, televisi kita banyak menyajikan tontonan propaganda,
seperti yang tampak di sinetron2. Walaupun tujuannya baik, tapi media
untuk menyampaikannya kurang tepat. Akhirnya menjadi karya murahan.
Tapi kalau ternyata sinetron-sinetron hantu-hantuan, mistis-mistisan,
itu banyak ditonton orang, memang seperti itulah wajah masyarakat
kita. Kemampuan membacanya masih kurang.

Celakanya orang-orang yang bergerak di media, tidak berusaha untuk
menyajikan tontonan atau bacaan yang bagus, sebagai upaya
pembelajaran masyarakat, tapi justru yang sama sekali tidak mendidik.

Yang terkesan kemudian, persoalan terlihat sangat sederhana. Orang
yang jahat akan dihukum. Perempuan pemuas nafsu itu akan dilempari
batu. bahkan dibakar. Pemerkosa akan mendapat hukuman. Bila polisi
tidak turun tangan, maka setan, kuntil anak itu akan mengejar-ngejar
sebagai karmaynya. Dia hadir seolah-olah sebagai tangan tuhan untuk
melakukan peradilan di dunia. Kok tuhan, kejam sekali ya? Padahal
persoalannya kan tidak sesederhana itu. Jauh lebih kompleks.

Untuk mengurai persoalan yang sangat kompleks itu, maka kita perlu
sebuah pandangan yang terbuka (open mind). Harap dipilah-pilah mana
isu-isu yang sebenarnya bermain di lapangan, bukan asal main hakim
sendiri, diantaranya menjadikan agama sebagai dalih pembenaran.

One Comment

  1. Semua tontonan di televisi sampah. Kecuali acara berita yang masih ada gunanya. Apalagi sinetron2 yang ditayangkan, bikin sebel saja. Nggak mutu, nggak mendidik, malahan membodohi. Termasuk sinetron2 di bulan puasa ini. Ah,lebih baik tidur daripada nnton acara gituan.

    Jombol sedang mencari


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: