Skip navigation


Oleh Andreas Harsono

Selama dua atau tiga tahun terakhir ini, sejak pulang dari Nieman Fellowship di Harvard, terutama sejak aku ikut dengan majalah Pantau, rasanya aku sering diajak diskusi oleh para wartawan mahasiswa.

Aku kira ini penting sekali karena anak-anak muda inilah yang kelak akan mengisi ruang-ruang redaksi media di kawasan ini. Aku suka diskusi dengan mereka. Aku kira aku juga orang yang berutang pada guru-guruku, dari Arief Budiman hingga George Aditjondro, dari Liek Wilardjo hingga Goenawan Mohamad, dari Seth Mydans hingga Bill Kovach. Aku harus meneruskan tradisi mentor yang penuh kesabaran ini kepada wartawan-wartawan mahasiswa.

Mulanya, aku malu karena tak terbiasa diajak diskusi. Ketika bekerja untuk The Nation, aku praktis jarang berhubungan dengan wartawan disini, selain teman-teman dekat. Kini aku berusaha untuk selalu membuka pintu untuk wartawan mahasiswa. Terkadang untuk bimbingan skripsi mereka. Terkadang diskusi masalah yang aneh-aneh. Terkadang mencari tumpangan menginap di Jakarta. Ada juga yang datang untuk curhat soal kehidupannya. Soal orang tua cerai. Soal putus dengan pacar. Soal kehabisan duit. Macam-macam deh.

Mereka umumnya menyenangkan. Sesekali tapi aku juga jengkel karena kehabisan waktu untuk menulis. Padahal urusan buku benar-benar mendesak. Deadline! Deadline! Deadline! Tapi memang inilah tarik ulur kehidupan. Prinsip, pintu harus senantiasa terbuka.

Aku sering berpikir kelak mereka jadi apa ya? Sebagian dari mereka aku kira akan jadi wartawan. Sebagian mungkin tak mau jadi wartawan. Mudah-mudahan semuanya jadi orang yang bahagia. Tapi menyenangkan sekali bisa berbagi waktu dan pikiran dengan orang-orang muda ini.


Andriyani, Leny Nuzuliyanti dan Muhamad Sulhanudin (dari kiri ke kanan) dari majalah Hayamwuruk, Universitas Diponegoro, Semarang. Mereka lagi bikin liputan “sastra Islami” di Jakarta sekalian mampir di tempatku. Mereka juga ke Bandung dan mampir di rumah Agus Sopian, rekan dari Yayasan Pantau.

Aku sering meledek Udin, Leny dan Andri, agar meliput isu yang lebih mendesak macam pelanggaran hak asasi manusia Acheh atau gerakan kemerdekaan di Papua, ketimbang mencari bahan-bahan diskusi tentang sastra. Udin adalah organizer sebuah kursus jurnalisme sastrawi untuk mahasiswa beberapa bulan lalu (lagi-lagi soal sastra!). Ia organizer yang hebat. Billy Antoro dari IKIP Jakarta tak terlihat dalam foto.

Leny kebetulan menyebutkan umur ayahnya. Ayahnya bekerja di Jakarta dan sempat mengantar Leny ke tempatku. Aku tiba-tiba merasa tua. Umur ayah Leny hanya terpaut empat tahun dengan umurku!

Leny menimbulkan revolusi kecil dalam pikiran. Aku mulai merasa aneh dipanggil, “Mas Andreas” atau “Bang Andreas” atau “Kak Andreas.” Umur ayah mereka bisa jadi sebaya dengan umurku? Bukan keberatan –aku lebih suka dipanggil nama saja– tapi merasa aneh. I am getting older. These kids could be my sons or daughters.

Oh ya, kenapa tak ada yang menyapaku “Ko’ Andreas”?

Dalam politik etnik yang pekat ala Orde Baru, bukankah aku bisa dikategorikan sebagai orang “Tionghoa” atau “Cina” atau “non pribumi” dimana sapaan umumnya adalah “koko”?

Tapi lebih tepat lagi, kalau mengingat umur, walau aku bakal merasa lebih aneh, adalah sapaan “giugiu” atau “encek”? Keduanya berarti paman atau oom, masing-masing dalam bahasa Hakka dan Hokkian. “Cek Andreas” atau “Giu Andreas” atau setidaknya “Oom Andreas.”

Aneh banget! Tapi politik sapa-menyapa di Jakarta memang aneh banget. Lebih ringan di Amerika sono. Semua sapa nama saja.


Eva Danayanti, Heni Fuji Astuti, Aulia Marti, Yudi Nopriansyah dan Ahdika Fitrarianto (dari kiri ke kanan) lagi diskusi soal persiapan kursus pers mahasiswa di Lampung dan Pontianak. Eva, Heni dan Yudi dari majalah Teknokra, Universitas Lampung, sedang Lia dan Dika dari Mimbar Untan, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Kami mengobrol di apartemenku.

Yudi dan Heni punya ide menarik tentang bikin suatu workshop buat 15 wartawan mahasiswa dari sebagian kampus Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Mereka diminta masing-masing menulis esai atau narasi tentang penerbitan mereka, suka duka, sumber keuangan, hambatan dan sebagainya. Ini didiskusikan bersama di Bandar Lampung.

Hasilnya, dijadikan buku tentang pers mahasiswa. Ini ide brilian! Yudi dan Heni suka dengan diskusi di apartemen ini. Apalagi ada Agus Sopian, yang juga menginap di tempatku, “menteror” mereka dengan ide-ide soal jurnalisme dan kemahasiswaan. Temanku, Sven Hansen, redaktur urusan Asia dari Die Tageszeitung, harian Berlin, bersedia membantu secara finansial proyek Lampung dan Pontianak ini dari kantong organisasi Umverteilen!

Ada juga rombongan besar. Pada 20 Mei 2005, aku kedatangan rombongan mahasiswa 20 orang ke apartemenku. Ini tamu terbesar yang pernah aku terima di apartemen kecil dua kamar tidur ini. Para satpam apartemen mengatakan tak pernah ada tamu sebanyak ini di satu unit. Kami sih senang-senang saja. Sayang, aku lagi tak punya banyak penganan.

Kami diskusi singkat saja. Kebetulan Jumat itu aku juga harus mengajar di harian Bisnis Indonesia. Eva Danayanti dan Indarwati Aminuddin, dua kolega Yayasan Pantau, mengajak mereka ikut ke kantor Bisnis. Maka jadilah 20 orang mahasiswa itu ikut mendengarkan cerita di sana. Mereka berkenalan dengan para wartawan Bisnis.

Sesudahnya, kami sempat mejeng bareng. Angkat kaki ramai-ramai. Satu … dua … tiga! Cret … lalu ambruk bareng-bareng.


Gambar ini diusahakan tiga kali karena tak mudah serentak mengangkat kaki. (Dari kiri ke kanan) Anggara Pernando (tabloid Bahana Mahasiswa, Universitas Riau), Wiwit Putri W (majalah Canopy, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang), Subkhan Rama Dani (majalah Dianns, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya), Avanty Nurdiana (“Kavling 10” Universitas Brawijaya), Yanuar Kurniawan (majalah Indikator, Universitas Brawijaya), Nograhany Widhi Koesumawardhani (Canopy), Ahmad Ainur Rohman (Dianns), Hifhzil Aqidi (Republica, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung), Aulia Marti (Mimbar Untan, Universitas Tanjungpura, Pontianak), Tegar Yusuf Putuhena (Manifest, Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya), Yusrianti Y.Pontodjaf (Yayasan Pantau), Yoso Mulyawanz (Republica), Ahdika Fitrarianto (Mimbar Untan), Eva Danayanti (Teknokra, Universitas Lampung, magang Yayasan Pantau) dan I Putu Agus Andrian (majalah Indikator).

Sebagian dari mahasiswa ini juga sempat diminta menunggu di ruang direksi Bisnis Indonesia. Geli juga melihat kecanggungan mereka. Coba tebak siapa nama mereka dan dari lembaga mana saja? Oh ya, siapa ya yang paling manis?

2 Comments

  1. Bung Andreas,
    gak usah sungkan dipanggil Mas… itu pertanda masalah sukuisme/etnik di negeri ini sudah begitu cair. setidaknya itu mencerminkan Teman-teman sudah nggak melihat lagi sekat kesukuan dilihat dari sisi ciri khas mata Bung Andreas (he..he..). banyak teman saya yang menjadi narasumber adalah kalangan Tionghoa, tapi saya lebih senang memanggil mereka Mas….

    salam,

    Budi
    ex-majalah Cakram

  2. mau tanya kontak Avanty Nurdiana dari Kavling 10 UNIV BRAWIJAYA.

    Saya mau pasang iklan di media tsb.

    Makasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: