Skip navigation


Tanggapan untuk Nouval,
>>>>masalah kasih sayang khan masalah yang memang sangat sedangdibutuhkan dalam pola kerja aktifis pers, biar menjadi siraman rohaniyang membuat jiwa nggak kering dan bisa selalau segarOke, sepakat dech. Tapi komentar saya sebelumnya, soal `biro jodoh’untuk wartawan itu cuma untuk mencairkan suasana aja. Gitu loh.
>>>>Btw, kalau masalah orang mau menonjolkan masalah keislaman atauagama apapun itu.. (kebetulan yang dibahas disini perihal FLP yangbasisnya Islam) itu toch menurut saya merupakan sebuah usaha untukmemberikan nyawa kepada tulisan yang dia buatOke, untuk sekedar memberikan ‘ruh’ tulisan saya masih bisa tolerir.Namun bila kemudian ‘simbol-simbol agama’ itu muncul secara vulgardan kehadirannya justru mengganggu kebebasan ekspresi si penulis ituyang saya tidak setuju. Lebih tidak sepakat lagi, seperti yang sudahsaya sampaikan sebelumnya, agama dijadikan sebagai motivasi menulis.Jadinya, penulis berdakwah dalam tulisan.Dah, sekarang anda bisa lihat, tema-tema yang diangkat oleh parapenulis fiksi islami, khususnya para penulis FLP, ya itu-itu saja.Apa berani mereka mengangkat tema yang tidak islami? (batasan inisebenarnya masih bisa diperdebatkan. Apa benar karya Ayu Utami dkktidak mengandung nilai-nilai Islam. Batasannya apa?).Jadinya kreativitas mereka terkungkung oleh standar yang mereka patoksendiri. Mereka tidak berani berpikir bebas, akhirnya kayak katakdalam tempurung. duh, kasihan ya.. mau begini, beitu.. kuatir haramdilaknat oleh tuhan. ya akhirnya karya para penulis turun-temurun yasama. Para penulis pemula mengekor penulis kawakan yang sebenarnyajuga tidak cukup bagus.Menjadikan agama sebagai standar ganda dalam sastra amat lemah bilakita lihat dari kacamata estetika sastra. Ini mirip ketika parapolitikus menggunakan agama sebagai kendaraan politiknya, apa yangterjadi? Ayat-ayat agama hanya digunakan untuk tujuan pendekpolitiknya.Dalam kesusasteraan Inggris seorang penyair “William Blake” pernahmelakukan kecerobohan serupa dalam puisinya yang berjudul “TheChimney Sweeper”. Puisi ini bercerita tentang masuknya era revolusiindustri di Inggris. Blake menggunakan nama “Angel”, sebagai simboltuhan untuk membangkitkan kesadaran palsu bahwa seolah-olah revolusiindustri itu perintah yang datang dari tuhan. Kesadaran palsu ituhanya sebuah extacy, untuk menenangkan gejolak sesaat, bukan datangdari akal sehat. Padahal dalam kenyataannya banyak anak di bawah umurdipekerjakan, budaya lokal masyarakat menjadi terjajah. Oke sayatunjukkan satu bait dimana Blake menggunakan kesadaran palsu itu:Then naked & white, all their bags left behind,They rise upon clouds and sport in the wind.And the Angel told Tom if he’d be a good boy,He’d have God for his father & never want joyDalam karya fiksi islami, penulis menggunakan simbol-simbol agamasecara vulgar untuk membangkitkan kesadaran `jiwa’ para pembaca. Nah,apakah pembaca menginginkan hal itu. Jadi jangan salah bila karyamereka hanya dikonsumsi oleh kalangan mereka sendiri. Ya, kayak orangonani itu.FLP Semarang pernah menghadirkan Prie GS, budayawan dan Sastrawan,dalam acara bedah novel “ayat-ayat cinta” karya Habiburrahman (kangabi). Penulis juga hadir di situ. Prie menantang pada para penulisFLP, berani gak karya Anda dibaca oleh orang diluar komunitas Anda?(itu untuk membuktikan bahwa di mata pembaca saja mereka sudahmengkotak-kotakkan).Bila anda telah membaca, novel `Ayat-ayat cinta’ juga masih lemahdari segi estetikanya (tema, karakter, plot, setting, dll). Nuansaislami masih teramat kental. Penulis belum bisa melepaskan identitasdia ketika menulis. Endingnya juga `determinstik’ (yaitu suatukejadian tidak dibangun oleh alur, tapi oleh peristiwa lain yangtidak ada di alur. Bisa dikatakan muncul secara tiba-tiba). Anda maubahas karya ini lebih lanjut, oke saya layani. Namun juga perludipertimbangkan apakah semua anggota milis tertarik dengan bahasanini.>>>>Memberikan “nyawa”, merupakan sisi spiritual pada sebuah tulisan,menurut saya memerlukan proses dan juga waktu yang bisa panjang bisajuga pendek, tergantung pada kualitas individunya. Kalau dulu, OomPram perlu harus keluar masuk penjara dulu, baru bisa mendapatkancara bagaimana bisa mebuat tulisannya sedemikian “hidup”.Betul menulis memerlukan proses. Pada gilirannya nanti, bila penulispemula seperti di FLP mau berproses, kelak juga akan mampu menulislebih baik. Saya akui ada beberapa karya HTR (Helvi Tiana Rosa) yangsaya suka, karena disitu pesan islamnya tidak vulgar. Tapi sebagianlagi karya HTR dan Asma Nadia, adiknya tuh yang karyanya pacaran2melulu, masih terjebak pada kerangka dakwah. Dia menyampaikan pesanagama secara vulgar biar pembaca memakai jilbab kek, tidak berpacaransebelum menikah kek, dan kek-kek yang lain.Apa yang terjadi pada Pram adalah sebuah kebetulan. Seperti yang sayakatakan sastra ada dua katagori yaitu realis dan non realis. Pramdalam beberapa karyanya menceritakan pengalamannya. Ini sangat baguskarena ia mengalaminya sendiri, cara seperti ini mirip modelImmersion Reporting karena si penulis seolah-olah terlibat dalamtulisan.Tapi bukan berarti untuk membuat tulisan yang dahsyat, penulis harusmenagalaminya sendiri. Proses kreatif para menulis bermacam-macam.Linda Christanty, bisa bercerita tentang kehidupan militer dalamcerpennya Kuda Panggang, eh “Kuda Terbang Mario Pinto” dengan cukupmemwawancarai orang saja. Linda bukan militer, bahkan dia mungkin takpernah ikut berperang.Bila Anda belajar teknik menulis jurnalisme sastra, resep menulismbak Linda itu diajarkan. Jurnalisme sastrawi dan gaya sastra lainnyamampu merekonstruksi sebuah kejadian yang melaporkan bak sebuahhidden kamera yang menyorot peristiwa yang dilaporkan itu. Tulisanmenjadi asik untuk dibaca, dan tidak terkesan menggurui karena apayang disampaikan adalah detail-deteil fakta. Menulis fiksi pundemikian. Detail-detail bisa digunakan untuk menjelaskan imajinasipenulis.Ya, proses penulis bermacem-macem. Biarlah tak usah dibatasi, apakahdia mau nonton VCD, mau bakar-bakar kemenyan, ya sah-sah saja. MisalAyu Utami atau Djenar Mahesa Ayu. Bisa jadi mereka bisa membuatadegan yang heboh itu karena menonton VCD cabul. silakan, takmasalah. Toh dia menyampaikan memang faktanya demikian, dan pembacajuga tidak merasakan kesan bahwa karya mereka cabul (kecuali orangFLP yang melihat Sastra dari kacamata islami).Bila kita memahami bahwa sastra adalah milik semua umat, bahwa sastraitu memiliki estetika, maka tak akan muncul sastra islami (islami danislam berbeda lho). Jangan campur adukkan kepentingan dalam sastra,karena hanya akan merusak keindahan sastra itu sendiri.

2 Comments

  1. mbul!

  2. salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: