<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Muhamad Sulhanudin</title>
	<atom:link href="http://sulhanudin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sulhanudin.wordpress.com</link>
	<description>"Ask yourself in the most silent of your night, must I write?" (RM Rilke)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jun 2008 19:20:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sulhanudin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7c56aebdde893c0a832574d92f98a9c3?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Muhamad Sulhanudin</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Menunggu kebahagian yang datang di akhir cerita</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/06/04/menunggu-kebahagian-yang-datang-di-akhir-cerita/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/06/04/menunggu-kebahagian-yang-datang-di-akhir-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 19:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie Review]]></category>
		<category><![CDATA[pursuit of happyness]]></category>
		<category><![CDATA[Will Smith]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/?p=910</guid>
		<description><![CDATA[Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.
Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=910&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bp0.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/R4Va_CRp6tI/AAAAAAAABOI/fEWWQjEDdq4/s1600-h/pursuithappyness.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;width:143px;height:213px;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/R4Va_CRp6tI/AAAAAAAABOI/fEWWQjEDdq4/s320/pursuithappyness.jpg" border="0" alt="" /></a>Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.</p>
<p>Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.</p>
<p><span id="more-910"></span></p>
<p>Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.</p>
<p>Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.</p>
<p>Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?</p>
<p>Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.</p>
<p>Saya tak tahu bagaimana <a href="http://caping.wordpress.com/">Goenawan Mohammad</a> (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (<a href="http://www.equinoxpublishing.com/wars/default.htm"><span style="font-style:italic;">Wars Within</span></a>, Janet Steele: 2007).</p>
<p>Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Steinbeck">John Steinbeck</a>, <a href="http://sulhanudin.info/2007/07/pertaruhan-hidup-menjadi-penulis.html">Erskine Cadwell</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Eliot">George Eliot</a> (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri <a href="http://www.radix.net/%7Ebardsley/prampage.html">Pramoedya Ananta Toer</a>. Atau bahkan yang masih muda seperi <a href="http://akubuku.blogspot.com/">Muhidin M Dahlan</a> yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya <span style="font-style:italic;">Jalan Sunyi Seorang Penulis</span>).</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Ambiguitas Kebahagian</span></p>
<p>Dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Pursuit_of_Happyness"><span style="font-style:italic;">Pursuit of Happyness</span></a> , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.</p>
<p>Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.</p>
<p>Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.</p>
<p>Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (<span style="font-style:italic;">pursuit</span>). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.</p>
<p>Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.</p>
<p>Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.</p>
<p>Masalahnya di sini pemaknaan atas &#8220;keberhasilan&#8221; dan &#8220;kebahagian&#8221; yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.</p>
<p>Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata &#8220;gagal&#8221;).</p>
<p>Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.</p>
<p>Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha&#8230;siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow <a href="http://greatshelly.multiply.com/music/item/121/Dewa_19_-_Cintaku_Tertinggal_Di_Malaysia_1_song">ini</a>).</p>
<p>Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/910/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/910/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/910/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/910/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/910/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/910/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/910/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/910/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/910/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/910/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/910/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/910/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=910&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/06/04/menunggu-kebahagian-yang-datang-di-akhir-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/R4Va_CRp6tI/AAAAAAAABOI/fEWWQjEDdq4/s320/pursuithappyness.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Closer: Cinta yang meminta pemenuhan</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/29/closer-cinta-yang-meminta-pemenuhan/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/29/closer-cinta-yang-meminta-pemenuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 18:52:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie Review]]></category>
		<category><![CDATA[closer]]></category>
		<category><![CDATA[jude law]]></category>
		<category><![CDATA[julia roberts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Larry (Clive Owen) minta maaf kepada Anna (Julia Roberts) karena telah mengencani seorang PSK selama dirinya berada di New York. Dengan mengakui kesalahannya, Larry berharap Anna akan memaafkannya. Tapi hal yang sama tak dilakukan oleh Larry ketika dirinya mengetahui jika istrinya itu ternyata juga sudah berpaling kepada lelaki lain.Larry bisa melakukan pengkhianatan, tapi pada saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=907&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bp0.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/R7Z9eWlv12I/AAAAAAAABUk/Jqcng2Ab7yI/s1600-h/03clos.1.184.jpg"><img style="float:right;cursor:pointer;width:200px;height:262px;margin:0 0 10px 10px;" src="http://bp0.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/R7Z9eWlv12I/AAAAAAAABUk/Jqcng2Ab7yI/s320/03clos.1.184.jpg" alt="" /></a>Larry (Clive Owen) minta maaf kepada Anna (Julia Roberts) karena telah mengencani seorang PSK selama dirinya berada di New York. Dengan mengakui kesalahannya, Larry berharap Anna akan memaafkannya. Tapi hal yang sama tak dilakukan oleh Larry ketika dirinya mengetahui jika istrinya itu ternyata juga sudah berpaling kepada lelaki lain.Larry bisa melakukan pengkhianatan, tapi pada saat yang sama ia tak menerima ketika pasangannya telah mengkhianatinya.</p>
<p>Larry bisa melakukan pengkhianatan, tapi pada saat yang sama ia tak menerima ketika pasangannya telah mengkhianatinya.</p>
<p>Sementara itu, Dan (Jude Law), kekasih gelap Anna, akhirnya mengungkapkan isi hatinya kepada Alice (Natalie Portman) bahwa Ia sebenarnya lebih mencintai Anna. Ia bisa mencintai Alice, perempuan yang selama ini dianggapnya sebaga pacar, tapi apa boleh buat hubungan mereka harus berakhir karena Dan lebih mencintai kekasih gelapnya ketimbang perempuan yang sudah menjadi pacarnya sendiri.<span id="more-907"></span></p>
<p>Dan berobsesi mewujudkan cintanya kepada Anna, perempuan yang lebih bisa memenuhi hasrat dan selera seksnya. Hal yang sama juga terjadi pada Anna. Meski ia sudah menikah dengan Larry, tapi kenikmatan bercinta ia dapatkan dari Dan.</p>
<p>Memang, sebenarnya Anna lebih dulu mengenal Dan. Ia baru mengenal Larry akibat ulah iseng Dan yang chatting dengan lelaki yang mengaku maniak sek. Dan tak menyadari jika keisengannya ini berakibat fatal. Ia akhirnya kehilangan cinta dari perempuan yang benar-benar dicintainya.</p>
<p>Untuk mewujudkan obsesi cintanya, baik Anna maupun Dan memilih meninggalkan kekasihnya masing-masing. Anna meminta cerai dari Larry. Tapi permintaan cerai tak begitu saja dituruti suaminya. Larry mengajukan syarat. Karena merasa selama ini telah ditipu, ia minta mengulang percintaannya dari awal. Ia ingin memperlakukan Anna seperti PSK yang melayani pelanggannya, dan setelah menikmati tubuh pasangan kencannya, maka Larry akan membayar upah atas servis yang telah diberikan Anna.</p>
<p>Setelah memenuhi persyaratan cerai dari suaminya, Anna kemudian menemui Dan. Alangkah terkejutnya Dan mengetahui jika persyaratan itu adalah dengan ritual penyerahan tubuh. Ia tak bisa menerima kenyataan ketika Anna yang sudah jatuh kepelukanya masih membagi tubuhnya kepada lelaki lain, meski pada saat itu statusnya masih sebagai suami Larry, lelaki yang membayar tubuhnya.</p>
<p>Dan menerima kerugian untuk yang kedua kalinya, karena harus mendapati kenyataan bahwa Alice, sang mantan pacarnya telah dikencani Larry yang sakit hati atas perlakuannya yang telah meniduri istrinya.</p>
<p>Menyadari tak dapat mewujudkan obsesi cintanya kepada seorang perempuan yang sudah bersuami, dan betapa terpukulnya setelah mengetahui jika mantan pacarnya telah dikencani oleh lelaki yang istrinya pernah dikencaninya, Dan akhirnya memutuskan untuk kembali membina hubungan cintanya dengan Anna.</p>
<p>Meski pernah dikecewakan Dan, toh Anna sebenarnya telah berniat akan menerimanya kembali. Dan sebenarnya juga akan memaafkan atas apa yang dilakukan Alice yang telah menyerahkan tubunnya selama beberapa malam kepada Larry.</p>
<p>Tapi pertemuan kedua pasangan yang telah sama-sama melakukan perselingkuhan dan berniat untuk saling memaafkan itu harus berakhir dengan kekecewaan. Dan yang sebenarnya tahu jika Alice telah berkencan dengan Larry, tapi karena ingin mendengar sendiri dari mulut Alice, berpura-pura seolah tidak tahu dan mencoba menanyakan hal itu kepada Alice.</p>
<p>Alice yang pada akhirnya tahu, jika Larry sebenarnya sudah memberikan pengakuan kepada Dan akan affairnya, merasa Dan datang tak dengan niat yang tulus. Dia tak ingin kesetiannya diuji, karena dia pun tak melakukannya kepada Dan. Alice ingin memulai hubungan dengan mengubur dan tidak membuka aib masa lalu, tapi pada akhirnya keduanya tak bisa bersama karena affair seks yang ingin ditutupnya dibongkar oleh pacarnya. Cinta akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan dan otoritas tubuh.</p>
<p>Kalau memang cinta, apa artinya sebuah tubuh yang telah terjamah?</p>
<p>Oh tidak, tubuh tetap saja penting, bahkan lebih penting dari perasaan dan ungkapan cinta itu sendiri.</p>
<p>****</p>
<p>Dari film drama percintaan &#8220;Closer&#8221; di atas, dapat diperoleh pesan bahwa cinta tak cukup hanya dengan pemenuhan perasaan. Lebih jauh dari itu, cinta ternyata juga obsesi tubuh dan seks seseorang atas pasangannya. Cinta adalah di mana seseorang akan menyerahkan hati dan juga memasrahkan segenap tubuh kepada pasangannya. Tubuh, seks adalah penyerahan akhir dari sebuah cinta.</p>
<p>Faktanya, kebanyakan dari kita masih sulit untuk menerima ketika pasangan kita telah menyerahkan tubuhnya kepada orang lain. Dalam cinta, setiap pasangan menginkan pasangannya tidak membagi tubuhnya kepada orang lain. Setiap pasangan menuntut keutuhan tubuh pasangannya.</p>
<p>Jadi, apa sebenarnya inti makna dari cinta itu? Perasaan, emosi, tubuh atau seks?</p>
<p>Jika memang anda tahu betapa sakitnya dikhianati oleh pasangan, mengapa anda melakukan hal serupa kepada pasangan anda. Anda sakit dan tak bisa membayangkan ketika pasangan anda menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki atau perempuan lain, tapi pada saat yang sama anda bisa membayangkan dan bahkan melakukan hal yang anda harapkan tidak dilakukan oleh pasangan anda.</p>
<p>Tampaklah, dalam cinta, setiap pasangan menuntut lebih dari pasangannya dan di sisi lain tidak memberikan perlakuan yang setimpal. Cinta adalah di mana ada keinginan untuk menguasai. Maka jangan harapkan ada kesetaraan dan keadilan dalam hubungan percintaan. Menuntut lebih kepada pasangan, tapi di belakang mengurangi dengan membagikan sebagaian perasaan dan tubuh kepada pasangan yang lain.</p>
<p>Cinta berangkat dari obsesi untuk memiliki dan berharap selanjutnya bisa menikmatinya. Melewatkan waktu bersama, membagi kesedihan dan juga kesenangan. Cinta adalah memberi dan menerima, membagi dan juga meminta jatah bagiannya.</p>
<p>Dalam cinta, berlaku hukum alam, bahwa setiap yang didapat pada gilirannya bisa saja akan pergi. Ada kesenangan ada kesedihan. Menyadari hal ini, seharusnya setiap pasangan bersiap diri jika suatu saat akan kehilangan suatu yang menjadi obsesi cintanya.</p>
<p>Jika anda tak siap, maka lebih baik tak usah melibatkan diri dalam hubungan percintaan yang menuntut untuk menguasai semua yang anda miliki. Cukuplah mencari pemenuhan hasrat dan tubuh dari pasangan yang tidak meminta tuntutan lebih dari anda dengan mencari kontrak kencan yang tak ada tanggungan setelah kontrak kencan usai.</p>
<p>****<br />
Closer diangkat dari cerita yang ditulis oleh Patrick Marber. Oleh sang sutradara, Mike Nichols, cerita ini diolah menjadi sebuah tontonan yang berkelas. Plus akting para pemainnya yang cukup matang. Hubungan percintaan di sini sangat kompleks, tak sekadar ditampilkan secara hitam putih. Perselingkuhan tak semata ditempatkan sebagai dorongan seksualitas, tapi juga melibatkan psikologi setiap tokohnya yang akan mengaduk-aduk emosi penonton.</p>
<p>Film ini menjadi nominator Oscar dan pemenang Gloden Globe untuk kategori pemeran pendukung terbaik, yakni Natalie Portman (Alice) dan Clive Owen (Larry).</p>
<p>Akting Portman sebagai Alice, gadis asal Amerika yang menjadi penari striptis di London memang sangat istimewa. Lulusan Univeritas Harvard ini, sebelumnya sempat ragu dirinya akan sanggup memerankan tokoh Alice yang harus setengah bugil di depan Larry (Owen). Tapi ia percaya akan kemampuan Mike sang sutradara yang akan mengarahkannya.</p>
<p>Sementara itu, untuk akting aktris senior Julia Roberts dinilai sejumlah pemerhati kurang maksimal. Namun demikian, akting Julia sebagai perempuan dewasa yang dingin, profesional di bidangnya, bagi saya sudah cukup memukau. Begitu juga Jude Law yang memerankan Dan sebagai seorang penulis spesialis catatan kematian (obituari), lelaki yang bimbang, dan terkadang cengeng.</p>
<p>Yang bisa dikatakan berhasil barangkali Clive yang berperan sebagai seorang dokter yang maniak sek, namun tetap menampakkan kewibawannya di depan perempuan yang dicintainya. Kendatipun sebagai lelaki penjaja seks, dia menunjukkan kekukuhan sikapnya untuk memiliki perempuan yang dicintainya.</p>
<p>Saya sendiri sempat dibuat kesal, karena kenapa justru Larrie yang beruntung mendapatkan Anna, bukan Dan. Tapi di sisi lain, saya merasa iba kepada Alice, gadis muda yang mencintai Dan namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Juga Anna yang pada akhirnya harus mempertahankan keutuhan keluarganya bersama lelaki yang sebenarnya tak begitu dicintainya.</p>
<p>Barangkali begitulah hukum dalam hubungan percintaan bahwa cinta tak harus mendapatkan pemenuhan. Hubungan cinta yang terbentuk pada akhirnya adalah sebuah proses kompromi, yang masing-masing pihak tak bisa menuntut kepuasan dari pasangannya, tak bisa mempertahankan obsesi dan egoisme cintanya. Salah satu, atau keduanya harus ada yang mau mengalah demi mempertahankan keutuhan cinta.</p>
<p>Meski Closer sudah cukup lama dirilis, tapi kekuatan cerita dan kematangan penggarapan film ini layak untuk ditonton kapanpun. Film drama percintaan ini masih merepresentasikan wacana hubungan percintaan dewasa ini.</p>
<p>*terima kasih untuk kawan pejalansesat, yang telah mereferensikan film ini untuk membuka wacana percintaan saya yang masih amat konvesional.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/907/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/907/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/907/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=907&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/29/closer-cinta-yang-meminta-pemenuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/R7Z9eWlv12I/AAAAAAAABUk/Jqcng2Ab7yI/s320/03clos.1.184.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Blogger side job&#8230;.</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/19/blogger-side-job/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/19/blogger-side-job/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 19:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[Bloggerwave recently invited all blogger to be their publisher. All you need are, have one or more blogs and make any review for their advertiser. Once your post approved, you will be paid at least $10 for each post and will be sent to your paypal account.  As a publisher you can make money, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=908&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bloggerwave recently invited all blogger to be their publisher. All you need are, have one or more blogs and make any review for their advertiser. Once your post approved, you will be paid at least $10 for each post and will be sent to your paypal account.  As a publisher you can <a href="http://www.bloggerwave.com/">make money</a>, and also help advertiser promote their product. Let start making money from blogging with Bloggerwave. Bloggerwave is aiming to be Europes biggest advertising media on <a href="http://www.bloggerwave.com/">blog</a>s and you can help us grow so more and more jobs will come.<span id="more-908"></span></p>
<p>join <a href="http://www.bloggerwave.com/">bloggerwave</a> and start earn some extra income from blogging</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.bloggerwave.com/blog_ClickTrack.php?OpportunityId=31&amp;BlogId=12600&amp;LinkId=0"></a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.bloggerwave.com" target="_blank"><img src="http://bloggerwave.com/blogviewcount.php?pic=sponsorlogo.gif&amp;OpportunityId=31&amp;BlogId=12600" alt="" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/908/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/908/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/908/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=908&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/19/blogger-side-job/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bloggerwave.com/blogviewcount.php?pic=sponsorlogo.gif&#38;OpportunityId=31&#38;BlogId=12600" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Look of The Year Beauty Contest</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/12/look-of-the-year-beauty-contest/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/12/look-of-the-year-beauty-contest/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 18:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[Look Of The Year are looking for people from all over the world to send in their best pictures so use this chance to be the next model working in Paris, New York or Milan. Join Look of the Year today and start your new life together with beautiful people from all over the world.

This [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=905&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Look Of The Year are looking for people from all over the world to send in their best pictures so use this chance to be the next <a href="http://www.lookoftheyear.com/">model</a> working in Paris, New York or Milan. Join Look of the Year today and start your new life together with beautiful people from all over the world.</p>
<p style="text-align:center;"><img style="border-style:none;" src="http://78.136.62.9:8080/Bloggerwave/uploadImages/Look_of_the_year_pic2.jpg" alt="" /><span id="more-905"></span></p>
<p>This contest is very unique, not just a chosen few, but everybody who wants to join and anybody could vote their best <a href="http://www.lookoftheyear.com/">model</a>. Though if you don’t win, you still have opportunity to be discovered by model agencies. Are you what the model agencies are looking for? Are you a <a href="http://www.lookoftheyear.com/">young</a> <a href="http://www.lookoftheyear.com/">beautiful</a> girl, smart woman, don&#8217;t miss this great chance. The winner will be announce at on the 31st of December 2008.</p>
<p>more information visit <a rel="nofollow" href="http://www.bloggerwave.com/blog_ClickTrack.php?OpportunityId=56&amp;BlogId=12600&amp;LinkId=0">http://www.lookoftheyear.com</a></p>
<p><img src="http://bloggerwave.com/blogviewcount.php?pic=sponsorlogo.gif&amp;OpportunityId=56&amp;BlogId=12600" alt="" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/905/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/905/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/905/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/905/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/905/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=905&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2008/05/12/look-of-the-year-beauty-contest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://78.136.62.9:8080/Bloggerwave/uploadImages/Look_of_the_year_pic2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bloggerwave.com/blogviewcount.php?pic=sponsorlogo.gif&#38;OpportunityId=56&#38;BlogId=12600" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Gelap Seorang Pencari</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/23/jalan-gelap-seorang-pencari/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/23/jalan-gelap-seorang-pencari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 16:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/23/jalan-gelap-seorang-pencari/</guid>
		<description><![CDATA[“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.
Sidharta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=145&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bp1.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/Rs3NZsK0GYI/AAAAAAAAA_A/DYY7Bm4mL-s/s1600-h/danza_sufi.jpg"><img src="http://bp1.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/Rs3NZsK0GYI/AAAAAAAAA_A/DYY7Bm4mL-s/s320/danza_sufi.jpg" style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" border="0" /></a>“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.</p>
<p>Sidharta adalah tokoh dalam novel dengan judul yang sama karya Hermann Hesse, penerima Nobel Sastra 1946. Sidharta muda telah membuat ayahnya yang seorang Brahmana cemas karena anak semata wayangnya itu ingin pergi ke hutan untuk bertapa dan bergabung bersama para Shramana.<span id="more-145"></span></p>
<p>Bisa dimengerti jika orang tua cemas ketika anaknya ingin menempuh jalan pencarian. Bukan semata karena harus berpisah dengan si anak, tapi jalan pencarian yang penuh resiko membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.</p>
<p><span>Sidharta adalah potret seorang pemuda yang haus akan pengetahuan. Dia akan terus mencari tanpa pernah menemukan ketetapan. Ia menolak untuk mengimani setiap ajaran dari para guru yang ditemuinya. Ditinggalkannya Shramana kemudian bertemu dengan Sang Budha Agung yang namanya sudah tersohor dan ratusan hingga ribuan orang berdatangan untuk mendengarkan ceramahnya.</span></p>
<p>Namun setelah bertemu dengan sang budha, Sidharta tetap saja tak dapat menetapkan hatinya untuk menjadi pengikut sang Gotama. Menurutnya kebijakan hidup tak bisa diajarkan, tapi dia harus dicari dan dialami sendiri ole Sang Pencari.</p>
<p>Jika Gotama menemukan kebijakan hidupnya dari hasil pencariannya sendiri, maka siapapun yang ingin menjadi sepertinya harus menempuh jalan pencarian serupa. Pengalaman spiritual harus dialami dan ia tidak bisa diajarkan. Itulah sebabnya Sidharta meninggalkan ajaran Sang Budha Agung Gotama. Sidharta tak yakin kendati dirinya menjadi pengikut Gotama dan mengamalkan ajaran-ajarannya, ia dapat menundukkan egonya.</p>
<p>Yang mengejutkan, setelah menolak menjadi pengikut Gotama, Sidharta keluar dari hutan dan berguru pada Kemala. Siapakah gerangan Kemala itu? Sang Guru Sidharta ini adalah seorang pelacur yang pertama kali dijumpainya ketika dirinya tiba di perkampungan. Kedengarannya memang sangat naïf, bagaimana mungkin seorang Shramana yang telah melalui jalan spiritualnya dengan bertapa selama bertahun-tahun, namun kini hendak berguru dan mengabdi menjadi murid seorang pelacur?</p>
<p>Sidharta ingin belajar bagaimana menjalani hidup seperti orang awam. Kehidupan macam ini sudah lama ia tinggalkan semenjak dirinya menjadi Shramana.</p>
<p>Dia belajar banyak dari Kemala, bagaimana menghasilkan uang, bagaimana menjalankan urusan dunia. Dia berhasil mengelola sebuah usaha dagang milik salah seorang saudagar kaya, namun dia tak pernah berhasrat untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dia ingin bisa berpakaian bagus dan punya cukup uang untuk disetorkan kepada Kemala. Dua hal ini sudah lebih dari cukup bagi Sidharta.</p>
<p>Kendati Sidharta melakukan pekerjaan duniawi itu demi Kemala, namun dia tak pernah berhasrat untuk memiliki Kemala sesungguhnya. Dia tak ingin mengikatkan hatinya kepada siapapun, kecuali menuruti kehendak pikirannya sendiri. Walau dirinya menjadi murid pelacur, namun jiwanya masih tetap menjadi milik seorang Shramana.</p>
<p>Lambat laun hasrat untuk memiliki harta dan segala pernik keduniawian mulai menggerogoti jiwa Shramananya. Ketika ia menyadari hal ini, betapa dirinya sangat menyesali ketersesatannya. Segera saja ia meninggalkan perkampungan itu, tanpa bekal apapun kecuali sepotong pakaian dan sepatu mewah yang dikenakannya.</p>
<p>Ia menemui seorang juru sampan yang menyeberangkannya beberapa tahun lalu. Sang juru sampan tak mengenalinya lagi karena Sidharta muda yang dulu ditemuinya mengenakan pakian Shramana dengan rambut yang memanjang, kini datang dengan pakian yang mewah dan rambutnya yang dicukur rapi.</p>
<p>Dengan ketahanan mendengarkan yang luar biasa, Vasudewa si juru sampan tua itu mendengarkan keluh kesah Sidharta hingga menjadi seperi sekarang ini.<br />
Sidharta mengajukan permohonan untuk menjadi murid si juru sampan. Darinya Sidharta belajar bagaimana sungai bisa mengajarkan manusia akan ketenangan hidup. Bagaimana sungai akan menertawakan manusia yang tampak ramai, tampak alim, namun kosong dalam pemenuhan spiritualnya.</p>
<p>Bertahun-tahun Sidharta belajar dari sungai. Di tempat itu ia menemukan kehidupannya yang baru bersama Vasudewa. Mereka tak banyak bercakap, namun keduanya saling memahami dalam kediaman.</p>
<p>Ketenangan Sidharta kembali terusik ketika anak hasil hubungannya dengan Kemala ikut tinggal bersamanya. Anak itu terpisah dari ibunya yang pinsan setelah dipatuk ular. Kesabaran Sidharta untuk selalu mengalah kepada anaknya, meski si anak kerap berlaku kasar kepadanya, membuat batinnya menjadi tak tenang.</p>
<p>Vasudewa menyarankan agar Sidharta mengembalikan si anak ke rumah ibunya. Anak itu tak terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti yang dijalani oleh kedua orang tua yang tinggal di gubug itu. Dia sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pembantu. Memaksakan si anak tinggal di gubug itu berarti menyiksa si anak, dan juga Sidharta.</p>
<p>Suatu hari si anak kabur dengan menggunakan sampan Vasudewa dan membawa serta kantong berisi uang hasil menyeberangkan orang-orang yang melewati sungai. Sidharta segera menyusul anaknya. Setelah memastikan si anak telah sampai di rumah ibunya dengan selamat, Sidharta kembali ke gubug juru sampan. Berhari-hari Sidharta murung karena selalu memikirkan anaknya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyerahkan dirinya hingga rela melakukan apa saja demi orang lain, kecuali dengan anaknya ini.</p>
<p>Sidharta menjadi cemas karena dirinya tak ingin anaknya kelak mengalami ketersesatan seperti yang dialaminya.</p>
<p>Dalam perenungannya, dia ditertawakan oleh sungai, betapa kejadian yang sama terus berputar. Sidharta muda dulu yang bersikukuh meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pernah kembali, kini ditinggalkan oleh anaknya. Betapa cemasnya orang tua Sidharta waktu itu yang melepas anaknya yang ingin menjadi Shramana, kini Sidharta kembali dia buat cemas oleh anaknya yang tak mau tinggal bersamanya.</p>
<p>Setelah Sidharta mampu melewati masa-masa sulit itu, luka akibat kegelisahan jiwanya yang teramat mendalam berubah menjadi wewangian. Sidharta kini mampu menatap luka itu dengan senyum, tanpa rasa sakit, karena dia sudah meninggalkan segala hasrat duniawi.</p>
<p>Sidharta kini berhenti menentang takdir, berhenti dari penderitaan. Di wajahnya mekar kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak lagi dikekang oleh keinginan, yang mengenal kesempurnaan, yang selaras dengan sungai apa adanya, dengan arus kehidupan, penuh dengan kebahagiaan berempati, menyerah pada aliran itu, bagian dari kesatuan.</p>
<p>****<br />
Novel “Sidharta” ditulis sekira tahun 1920-an. Kala itu dunia Barat tengah dilanda gelombang kehausan spiritual. Kecongkakan Barat dengan kultur intelektualnya yang melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi, mulai memerlukan upaya pemulihan dari kutub yang berlawanan.</p>
<p>Kisah itu menunjukkan kepada kita betapa jalan pencarian itu tak hanya melelahkan tapi juga membahayakan. Siapapun dapat terperosok dalam kesesatan. Namun bagi sang pencari sejati, keterpurukan tidak membuatnya kehilangan energi untuk terus melakukan pencarian.</p>
<p>Orang awam memandang permasalahan hidup dengan batin yang senantiasa was-was. Hati yang sebenarnya masih cemas tak dibiarkan untuk melakukan pencarian. Keyakinan yang dimiliki adalah sebuah warisan yang turun temurun. Kebenaran yang diimani adalah kebenaran yang dianggap sudah menjadi jamak sehingga ia tak perlu diperdebatkan lagi. <span style="font-style:italic;">Just take it for granted. </span></p>
<p>Oleh karena itu wajar jika orang lebih memilih menempuh jalan hidup yang lurus dan tak sekali-kali mencoba untuk menyeleweng. Jalan macam ini dipercayainya lebih aman ketimbang jalan pencarian.</p>
<p>Karena jalan pencarian dianggap membahayakan, maka kebebasan berpikir akan dihindari. Buku-buku yang sekiranya dianggap menyimpang ditinggalkan kalau perlu dibakar seperi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan baru-baru ini dilakukan oleh Nurmahmudi, bupati Depok yang membakar sejumlah buku sejarah yang tak mencantumkan kata PKI.</p>
<p>Buku yang dikuatirkan dapat mengguncangkan keimanan dijauhi. Terlalu mahal untuk mempertaruhkan keimanan yang sudah terlanjur ditetapkan dengan kembali mempertanyakannya. Agar stabilitas keimanan tetap terjaga, maka suara-suara yang dapat meruntuhkan bangunan iman dibuang jauh-jauh.</p>
<p>Jiwa yang haus akan pertanyaan-pertanyaan dibungkam. Alasannya praktis, ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan: rutinitas; pekerjaan; kuliah; keluarga dan urusan-urusan lain yang menuntut kita untuk melakukannya dengan segera. Hal inilah yang membuat kita menjadi budak dunia, terjebak pada rutinitas dan tak mau meluangkan waktu untuk mengisi kekosongan bathin kita.</p>
<p>Dalam sinetron kita biasa menonton kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang sepertinya mudah tanpa ada masalah yang berarti. Apa yang ditampilkan di sinetron itu jauh dari realita yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sinetron terlalu menyederhanakan kehidupan yang sebenarnya sangat kompleks.</p>
<p>Dalam kehidupan yang sebenarnya orang akan menemui sarjana yang kesulitan mencari kerja, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun hidup berumahtangga tapi di tengah jalan ternyata bercerai, usaha yang sudah mapan dilain waktu gulung tikar, teman yang berubah menjadi lawan, kebenaran yang dikemudian hari ternyata keliru.</p>
<p>Segalanya disediakan di muka bumi ini. Yang baik juga yang buruk, yang benar dan juga yang salah. Diciptakan malaikat, tapi juga dibuat setan. Tak mudah bagi manusia untuk menyibak tabir tuhan dan semesta alam ini, jika dia sendiri belum menemukan rahasia dirinya.</p>
<p>Dalam keterpurukan, kekecewaan yang mendalam, sesuatu yang mulanya tak mungkin bisa saja terjadi. Seorang yang semula tegar karena belum menemui ganjalan dalam jalan hidupnya, tapi sangat mungkin seorang menjadi terpuruk bahkan tercerabut keimanannya karena ditimpa masalah yang mahaberat yang tak diduga-duga sebelumnya.</p>
<p><span>Anda sekarang bisa merasa aman karena menempuh jalan yang jauh dari konflik, telah menjauhi segala macam bacaan liar. Namun apa yang anda lakukan ini sebenarnya adalah cara untuk menunda kekalahan. Anda seperti tengah mencekokkan opium ke mulut dan setelah pengaruh obat bius itu sirna, anda akan kembali menjadi pesakitan.</span></p>
<p>Tak ada gunanya menghindar dari masalah untuk mencari jalan yang lebih aman sedang di lain waktu momok itu akan kembali menemui. Sampai kapan anda akan terus menelan pil penghilang kesadaran itu?<br />
<span><br />
Hidup adalah pertaruhan, siapa yang mau bersusah, maka dia yang akan mendapat hasilnya.<span style="font-style:italic;"> No pain, no gain. Who dares nothing, need hope for nothing</span>. . Siapa yang tak mau mencari, maka dia tak akan menemukan.</span></p>
<p>Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan, tulis penyair romantik asal Jerman Friedrich Schiller dalam salah satu sajaknya. Teks aslinya dalam bahasa Jerman yang berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein—pernah dikutip oleh Sjahrir dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel.</p>
<p>Kini saya mempercayai bahwa setiap pencarian adalah jalan menuju penemuan. Kepada diri saya sendiri saya meyakinkan bahwa setiap masalah yang dijumpai dalam hidup ini akan menempa kadar kedewasaan seseorang. Selamat mencari, semoga kita kelak akan diberikan kemenangan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=145&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/23/jalan-gelap-seorang-pencari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp1.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/Rs3NZsK0GYI/AAAAAAAAA_A/DYY7Bm4mL-s/s320/danza_sufi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Catatan si Jago Makan: Tuntutan Profesi atau Perut?</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/19/catatan-si-jago-makan-tuntutan-profesi-atau-perut/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/19/catatan-si-jago-makan-tuntutan-profesi-atau-perut/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 20:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/19/catatan-si-jago-makan-tuntutan-profesi-atau-perut/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir tiap hari makan bakso. Ini seperti sudah menjadi ritual wajib. Setelah bakso baru bebek. Meski tak separah bakso, menu yang satu ini cukup membuatnya tak bisa berpaling. Paling tidak seminggu sekali. Lalu Mi Ayam, Soto Madura, Sate Kelapa, Rawon Setan, Pecel, dan mungkin masih banyak yang lain.
Dalam sehari bisa makan sampai 6 kali. “Eh, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=144&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bp3.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RsilxcK0GVI/AAAAAAAAA-s/tYHzamOSZ2I/s1600-h/jagomakan.jpg"><img src="http://bp3.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RsilxcK0GVI/AAAAAAAAA-s/tYHzamOSZ2I/s320/jagomakan.jpg" style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" border="0" /></a>Hampir tiap hari makan bakso. Ini seperti sudah menjadi ritual wajib. Setelah bakso baru bebek. Meski tak separah bakso, menu yang satu ini cukup membuatnya tak bisa berpaling. Paling tidak seminggu sekali. Lalu Mi Ayam, Soto Madura, Sate Kelapa, Rawon Setan, Pecel, dan mungkin masih banyak yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam sehari bisa makan sampai 6 kali. “<em>Eh, nggak ding, kadang ampe 7</em>,” ia meralatnya. Belum sempat saya menuntaskan keheranan saya, ia menambahkan “Jangan salah, ada <em>ngemil</em>-nya juga. Bakso, Pangsit, Siomay, Rujak” Ya ampun….bener-bener doyan makan ini orang!!!</p>
<p><span id="more-144"></span></p>
<p class="MsoNormal">Namanya Manda Roosa. Tapi lebih dikenal dengan panggilan “Mendol”. Lengkapnya La Mendol. Sekilas nama ini seperti diambil dari bahasa Italia. Tapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Penjelasan lebih detailnya di <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/07/pecel-terong-mau-doong.html">sini</a>.</p>
<p class="MsoNormal">“Nama Mendol adalah nama pemberian Mbah Kakung saya. Ini nama panggilan di keluarga dan saudara-saudara. Nama Mendol, merujuk pada makanan khas dari olahan tempe bosok, yang bentuknya padat seperti pembawaan saya,” jelasnya.</p>
<p>   <span></p>
<p class="MsoNormal">Baiklah, untuk lebih mengakrabkan, saya akan panggil pemilik blog <a href="http://jagomakan.blogspot.com/">jagomakan.blogspot.com</a> ini dengan nama Mendol. Isi blognya apalagi kalau bukan soal makan, urusan yang tak jauh dari perut. Ada Puding, Nasi Goreng, Donat, Durian, Pecel, Bakso Bakar, Pecel Terong, dan masih banyak menu-menu lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sepertinya ibu satu anak ini doyan banyak jenis makanan. Setelah saya desak, ia membeberkan makanan yang menjadi pantangannya. Ada dua jenis makanan yang membuatnya bergidik, yaitu jika dia disuguhi Udang dan Lobster. Ada apa gerangan?</p>
<p class="MsoNormal">“Soal yang tidak suka, ini bukan masalah selera. Tapi saya punya alergi sama yang namanya udang dan lobster,” jawabnya memberi alasan.</p>
<p class="MsoNormal">“Wueh..kalau ada acara <em>food taster</em>, teman wartawan suka <em>ngerjain</em> saya dengan memesan menu ini. Dan mereka tertawa puas, ketika saya cuman bisa <em>ngiler ngeliatin</em>,” tambahnya.</p>
<p class="MsoNormal">Manda adalah seorang jurnalis, spesialis menulis masalah kuliner. Ia bekerja untuk <span style="color:#000000;">Majalah East Java Traveler dan Majalah  Surabaya City Guide</span>, <span style="color:#000000;">dua unit usaha dari Mossaik Communications yang berada di </span><span style="color:#000099;"><span style="color:#000000;">bawah manajemen Suara Surabaya Media</span>. </span></p>
<p class="MsoNormal">Jelas saja pengalaman dan pengetahuannya soal dunia kuliner ini sudah tak diragukan lagi. Bagaimana tidak, selain memang sebagai jurnalis kuliner, sudah jauh hari, atau istilah arek Surabaya, “sudah dari sono”-nya ia punya kegemaran mencicipi makanan-makanan enak.</p>
<p class="MsoNormal">“Blog ini sebenarnya merupakan <em>behind the scene</em>, dari liputan saya. Di sini bisa dilihat perjuangan saya bangun pagi-pagi untuk nongkrongin penjual sate kelapa. Atau cerita,di mana saya  terpaksa <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/liputan-apa-kulakan.html" target="_blank"><span style="color:#000000;"></span></a>menelan bulat-bulat makanan yang pedas, sekedar membahagiakan si pemiliknya. Atau sekedar berbagi informasi bagaimana <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/02/akhir-sebuah-donat.html" target="_blank"><span style="color:#000000;">nasib akhir sebuah donat</span></a> yang sudah tidak laku. Semuanya adalah cerita-cerita yang  tidak mungkin saya ungkap di majalah karena lebih ke pengalaman personal,” jelasnya tentang ihwal pembuatan blognya yang rame dikunjungi para <em>blogger</em> itu.</p>
<p>Sejak awal Manda memfokuskan blognya hanya menceritakan masalah kuliner. Dia mengangankan blognya ini kelak bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin <em>sharing</em> atau mencari informasi tentang pusaka kuliner di nusantara dan sekaligus untuk turut melestarikan makanan khas daerah.<br />
<span> </span><br />
Usahanya mengasuh blog kuliner itu telah membuahkan hasil. Bulan Mei lalu, Manda dinobatkan sebagai <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/05/partai-komunitas-bango-mania.html">maskot Partai Komunitas Bangau Mania</a>, yang simpatisannya direkrut dari kalangan yang doyan jajan. Selamat ya, siapa tahu jika kelak partai ini bisa maju dalam pemilu mendatang, Manda bisa diusulkan menjadi Menteri Urusan Pangan!</p>
<p class="MsoNormal">Berkah lainnya, Manda pernah diundang oleh salah seorang pemilik resto yang membaca blognya. Ia diundang untuk mencicipi dan makan gratis, sebagai imbalannya, ia punya kewajiban moral untuk menulis laporannya di blog.</p>
<p class="MsoNormal">“Itulah kenapa saya menulis di profile saya. Kuli tinta yang menemukan surga dunia di dalam pekerjaannya sebagai jurmalis kuliner.  Hampir setiap datang liputan, saya selalu disuguhi makanan yang ujung-ujungnya gratis bahkan dibawakan oleh-oleh. Yang <em>exciting</em>, saya pernah makan <em>steak</em> yang harganya setengah juta… Gratisss. <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/liputan-apa-kulakan.html" target="_blank"><span style="color:#000000;">Pernah dibungkusin 12 bungkus pecel,</span></a> karena penjualnya suka sekali diliput. <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/memory-jenang-dodol.html" target="_blank"><span style="color:#000000;">Satu besek besar jenang dodol,</span></a> bahkan sampai pernah <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/02/mabox-cokelat.html" target="_blank"><span style="color:#000000;">keracunan cokelat </span></a>gara-gara saya habisin sendiri dua kotak besar cokelat. Tapi nggak bakal kapok kok&#8230;.hehehe”.</p>
<p class="MsoNormal">Jika banyak orang yang menjalani profesi karena tuntutan kebutuhan, lain halnya dengan Manda. Ia mendapatkan profesi yang klop dengan hobi. Makanya ia kerap memesan menu tambahan di luar jatahnya sebagai <em>taster</em>. Manda masih berbaik hati, oleh-olehnya hasil perburuannya sebagian ia bagi-bagikan ke rekan-rekan kerjanya di kantor.</p>
<p class="MsoNormal">Namun karena kegemaran makan bukan hanya berlaku ketika dia menjalankan tugasnya sebagai jurnalis kuliner, tapi juga dalam kehidupannya sehari-hari, diakuinya sebagian gaji habis untuk urusan yang satu ini. Kalau sudah begini, apakah ini layak disebut berkah atau musibah. Entahlah, toh suaminya tak terganggu akan porsi makan istrinya yang berlebih, bahkan sebagian gajinya yang dihabiskannya untuk kesenangannya itu.</p>
<p class="MsoNormal">Di luar kesibukannya sebagai jurnalis kuliner dan mengurus keluarga, tak disangka ia masih sempat menjadi pengajar di sebuah sekolah modeling. Haaa? Bagaimana ceritanya, apa dia pernah menjadi model?</p>
<p class="MsoNormal">“Iya, Model Galian Kendor, puass!!!,” jawabnya seperti meniru Tukul yang tengah membalas olok-olok dari audiens. Bukan ia membela, tapi malah mempertegas olokan itu.</p>
<p class="MsoNormal">“Ngajar dan kuliner memang punya persamaan. Sama-sama urusan perut.,” jawabnya penuh canda.</p>
<p class="MsoNormal">Ternyata ujung-ujungnya perut juga. Dasar si Jago Makan!</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/144/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/144/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=144&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/19/catatan-si-jago-makan-tuntutan-profesi-atau-perut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp3.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RsilxcK0GVI/AAAAAAAAA-s/tYHzamOSZ2I/s320/jagomakan.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sensasi Sang Pakar Telematika</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/09/sensasi-sang-pakar-telematika/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/09/sensasi-sang-pakar-telematika/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 03:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Review]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu Indonesia Raya 3 Stanza]]></category>
		<category><![CDATA[Roy Suryo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/09/sensasi-sang-pakar-telematika/</guid>
		<description><![CDATA[Roy Suryo tampaknya hendak membuat kejutan di bulan Agustus ini menjalang peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-62. Ia mempublikasikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza yang diklaimnya sebagai hasil temuannya bersama Tim Air Putih dari sebuah server di Belanda.
Konferensi Pers pun digelar. Media ramai mengabarkan temuan istimewa ini. Namun selang beberapa hari kemudian temuan itu ternyata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=143&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Roy Suryo tampaknya hendak membuat kejutan di bulan Agustus ini menjalang peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-62. Ia mempublikasikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza yang diklaimnya sebagai hasil temuannya bersama <a href="http://www.airputih.or.id/">Tim Air Putih</a> dari sebuah server di Belanda.</p>
<p>Konferensi Pers pun digelar. Media ramai mengabarkan temuan istimewa ini. Namun selang beberapa hari kemudian temuan itu ternyata dinyatakan basi!<span></span></p>
<p>Lagu Indonesia Raya yang diklaim oleh penemunya sebagai temuan baru itu ternyata sudah ada di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=6QvyLkdl1_s">Youtube sejak Desember 2006</a> . Reaksi juga datang dari Perum Percetakan Negara RI (PCNRI) Cabang Surakarta yang menyatakan sudah lama memiliki rekaman lagu Indonesia Raya Tiga Stanza seperti yang ditemukan Roy Suryo. Mohammad Ridwan seperti dilansir oleh <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/05/time/111608/idnews/813382/idkanal/10">Detik.com</a>, mengaku pernah menemukan lagu Indonesia baru itu di buku pelajaran SD.<span id="more-143"></span></p>
<p>Tak hanya itu, pengurus Air Putih belakangan memberikan klarifikasi atas pernyataan Roy Suryo yang membawa-bawa nama lembaganya. Disebutkan bahwa Air Putih tidak pernah mengadakan penelitian secara khusus tentang arsip sejarah di internet. Dinyatakan pula bahwa Roy Suryo bukan anggota Air Putih, apalagi ketuanya.</p>
<p>Yang amat memalukan barangkali adalah soal pengakuan Roy Suryo yang menemukan lagu Indonesia Raya itu di sebuah server di Belanda. Menurut pengurus Air Putih lagu itu ditemukan dari hardisk di salah satu komputer milik Air Putih yang entah kapan dan didownload oleh siapa. Dan Roy Suryo adalah salah seorang yang pernah mengopi data sejarah dan lagu Indonesia Raya itu.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Roy Suryo, Media dan Blogger</span></p>
<p>Timbul pertanyaan, mengapa media massa pada mulanya tampak membesar-besarkan isu itu tanpa melakukan kroscek lebih dulu. Apakah memang wartawan pada mulanya memang tidak mengetahui bahwa temuan Roy Suryo itu sudah lama ada, atau memang ada agenda untuk kembali mengangkat isu ini mengingat momentum yang tepat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun RI yang ke-62?</p>
<p>Memang media selanjutnya terus melakukan penelusuran, dan akhirnya membongkar apa yang sebenarnya terjadi. Media bisa membela diri bahwa kebenaran dirangkai dari waktu ke waktu, terus berevolusi, dan pada akhirnya semua informasi yang dirangkum itu saling melengkapi. Namun dari beberapa kali pemberitaan, media kerapkali tampak mengekspose secara berlebihan isu-isu yang dilontarkan oleh sang pakar telematika itu.</p>
<p>Hal inilah yang amat disayangkan oleh para blogger yang banyak mengetahui kapasitas kepakaran Roy Suryo, yang dicitrakan oleh media sebagai pakar telematika. Beberapa komentar sanggahan atas pernyataan-pernyataan Roy Suryo sempat dirangkum dalam situs Roysuryowatch.org,  namun situs ini sudah tak dapat diakses lagi.</p>
<p>Ambar Sari Dewi pernah menulis profile Roy Suryo di Majalah Pantau edisi Juli 2001 yang diberi judul “Roy Suryo Sang Jagoan”. Tanpa melebih-lebihkan, agaknya sosok Roy Suryo yang diangkat oleh media dikupas secara berimbang dalam tulisan ini. Ada pernyataan saudara kandung Roy Suryo, Roni Suryo yang mengakui bahwa adiknya ini sebenarnya tak cukup punya kompetensi dalam bidang IT. Roni bahkan mengatakan jika adiknya memang suka mencari popularitas. Tulisan ini bisa dibaca di <a href="http://www.pantau.or.id/news.detail.php?id=138">www.pantau.or.id</a>.</p>
<p>Jika dirunut dari beberapa catatan para blogger, perseteruan Roy Suryo dengan para blogger itu bermula dari komentar Roy Suryo yang menilai bahwa <a href="http://www.blogfam.com/">blog dan friendster adalah tren sesaat</a>. Menurutnya, seperti yang dicatat dalam blog priyadi.net, <a href="http://priyadi.net/archives/2004/12/20/roy-suryo-68-data-friendster-palsu">profile friendster 68% adalah palsu</a>. Selain itu blog dan friensdter banyak dipakai oleh pemiliknya untuk melakukan <span style="font-style:italic;">character-assassination</span>. Oleh karena itu, Roy menarik kesimpulan bahwa kebenaran informasi blog tak bisa dipercaya.</p>
<p>Sejumlah blogger pun bertanya-tanya. Apakah sang pakar telematika yang mengkritik blog ini punya blog, dia yang mengkritik friendster ini punya friendster. <span style="font-style:italic;">Ehmm&#8230;</span> barangkali karena dia sudah tak percaya dengan segala macam barang gratisan, seperti blog atau email. Bukankah satu-satunya email yang sering dipakai juga numpang domain milik kampus? Ujung-ujungnya gratisan juga, khan?</p>
<p>Undangan yang bernada bersahabat disampaikan oleh Ikhlasul Amal. Amal <a href="http://direktif.web.id/arc/2004/08/roy-suryo-sebaiknya-menulis-di-blog">mengajak Roy Suryo untuk menulis di blog</a>. Saran Amal ini untuk memudahkan Roy melontarkan gagasannya daripada harus mengirimkannya ke milis dan media massa. Kelebihannya dengan blog, Roy bisa berinteraksi dengan para pembaca secara dua arah.</p>
<p>“Kelebihan blog menurut saya adalah kita bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca tanpa melalui pihak ketiga yang kadang tidak cukup mengerti bidangnya. Kalau untuk RS menurut saya bukan itu yang dicari, RS malah butuh pihak ketiga yang punya akses ke masyarakat banyak, dan relatif percaya dengan omongan RS (lepas dari benar atau tidaknya argumentasi RS). Yang menjadi tujuan RS adalah sensasionalism, hal itu menurut saya gak bisa didapatkan dia dari blog. Selain itu media konvensional cenderung satu arah, hal ini cocok dengan personalitas RS yang kurang dapat berdiskusi. Jadi menurut saya, dari perspektif RS, blog tidak cocok untuk dia,” tulis Priyadi mengomentari posting Amal.</p>
<p>Kembali ke hubungan media dan Roy Suryo, siapa sebenarnya yang berkepentingan dalam mengekspos setiap isu sang pakar telematika itu. Media, ataukah Roy Suryo sendiri yang sebenarnya hendak mencari popularitas?</p>
<p>Pada kasus penemuan lagu Indoesia Raya Tiga Stanza ini, jika dirunut dari kronologi bagaimana isu itu dilempar ke publik, tampaklah bahwa Roy Suryo sendirilah yang mulanya mengontak media. Tak hanya itu ia menghubungi beberapa pejabat, ketua MPR sampai wakil presiden. Dan parahnya lagi, beberapa pejabat itu sempat terheran-heran akan penemuan Roy Suryo itu.</p>
<p>Apakah memang isu yang dihembuskan Roy Suryo ini, kalau memang tidak baru, tapi belum banyak diketahui oleh publik. Dan karena alasan itu Roy Suryo merasa perlu menyampaikannya ke media?</p>
<p>Baiklah jika memang demikian kenyataannya di lapangan, media, pejabat berwenang memang tak banyak yang tahu, sehingga kita bisa mengambil sisi positifnya. Persoalan selesai. Kehebohan itu cuma berlangsung beberapa hari saja dan masyarakat akan begitu saja melupakannya.</p>
<p>Tapi peristiwa ini tentu saja tak sebegitu mudahnya dilupakan oleh para blogger, khususnya yang sudah lama terlibat silang pendapat dengan Roy Suryo.</p>
<p>Selain soal kepakaran Roy Suryo dalam hal IT yang diragukan, juga sosok Roy Suryo yang dinilai gemar melakukan sensasi tanpa disertai data dan fakta yang akurat. Beberapa blogger menulis komentarnya terkait soal heboh penemuan “lagu Indonesia Raya Tiga Stanza” oleh sang pakar telematika ini.</p>
<p>Priyadi, misalnya. Dalam blognya priyadi.net, ia menulis “Kiat Sukses Menjadi ‘Penemu’ Versi Asli Lagu ‘Indonesia Raya’. Posting itu ditulis dengan nada satire yang sepertinya hendak menyatakan betapa naifnya seorang Roy Suryo, yang dalam aksinya kali ini lagi-lagi ingin mencari popularitas. Dari penelusuran arsip tulisan dalam blognya, Priyadi rupanya sudah beberapa kali menulis tentang Roy Suryo.</p>
<p>Catatan-catatan lainnya bisa ditemukan di blog <a href="http://ndorokakung.com/2007/08/05/indonesia-raya-pecas-ndahe/">Ndoro Kakung</a>, <a href="http://yulian.firdaus.or.id/2007/08/08/basi-banget/#more-635">Jay</a>, <a href="http://mfahmia2705.blogspot.com/2007/08/pakar-bikin-heboh.html">M Fahmi Aulia</a>, atau prediksi kisah selanjutnya &#8220;<a href="http://mfahmia2705.blogspot.com/2007/08/habis-indonesia-raya-beralih-ke-telor.html">Habis Indonesia Raya, Beralih ke Telor Columbus</a>&#8220;.</p>
<p>Bagi sejumlah blogger, kasus penemuan lagu “Indonesia Raya Tiga Stanza” ini barangkali akan menambah catatan aib Roy Suryo, sosok yang dijuluki media sebagai pakar telematika. Blogger lain bisa jadi mendukung, masyarakat di luar blogger barangkali juga akan menganggap Roy Suryo sebagai orang yang banyak berjasa. Silakan saja, siapapun boleh menyampaikan pendapatnya. Media juga boleh memberikan julukan apa saja, namun pada akhirnya pembacalah yang akan memberikan penilaian. Apakah berita itu akurat, atau cuma sekadar sensasi!</p>
<p>*Tulisan ini dimuat di <a href="http://gaya.suaramerdeka.com/">rubrik gaya suaramerdeka.com</a>, dan juga versi blognya <a href="blog.suaramerdeka.com">blog.suaramerdeka.com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/143/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/143/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=143&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/08/09/sensasi-sang-pakar-telematika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Menulis adalah Jalan Hidupmu</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/07/17/jika-menulis-adalah-jalan-hidupmu-2/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/07/17/jika-menulis-adalah-jalan-hidupmu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 00:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/2007/07/17/jika-menulis-adalah-jalan-hidupmu-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau sampai waktuku 
&#8216;Ku mau tak seorang kan merayu 
Tidak juga kau 
Tak perlu sedu sedan itu 
Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang 
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..
Dikutip dari puisi &#8220;Aku&#8221; karya Chairil Anwar .
Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di The Atlanta Journal demi menjadi penulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=141&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bp2.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RpwH9z9ldFI/AAAAAAAAA1o/5XiHhOVpWEY/s1600-h/04-l-caldwell.jpg"><img src="http://bp2.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RpwH9z9ldFI/AAAAAAAAA1o/5XiHhOVpWEY/s200/04-l-caldwell.jpg" style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" border="0" /></a><span style="font-style:italic;">Kalau sampai waktuku </span><br />
<span style="font-style:italic;">&#8216;Ku mau tak seorang kan merayu </span><br />
<span style="font-style:italic;">Tidak juga kau </span></p>
<p><span style="font-style:italic;">Tak perlu sedu sedan itu </span></p>
<p><span style="font-style:italic;">Aku ini binatang jalang </span><br />
<span style="font-style:italic;">Dari kumpulannya terbuang </span></p>
<p><span style="font-style:italic;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:85%;">Dikutip dari <a href="http://chairil-anwar.blogspot.com/">puisi &#8220;Aku&#8221; karya Chairil Anwar</a> .</span></p>
<p>Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di <span style="font-style:italic;">The Atlanta Journal</span> demi menjadi penulis fiksi profesional. Seperti yang didapatkan setelah membaca sajak &#8220;Si Binatang Jalang&#8221; itu, kesan yang muncul dari sikap Erskine itu, dia adalah pribadi yang angkuh dan tak kenal kompromi. Baik Chairil maupun Erskine sepertinya tak mau berdamai dengan keadaan, sebaliknya mereka malah hendak menaklukkannya. Jelas saja keputusan Erskine itu membuat cemas beberapa rekan kerjanya.</p>
<p>Hunter Bell, redaktur di <em>The Atlanta Journal</em>, tempat Erskine mulai meniti karir jurnalistik profesionalnya, <span> </span>menasehatinya agar mengurungkan niatnya. Hunter memberikan gambaran sebuah masa depan suram bagi mereka yang tidak beruntung dalam hidup yang berharap dapat hidup, makan, dan berjalan di muka bumi tanpa memiliki pekerjaan tetap. Hunter berharap Erskine akan berubah pikiran.<span></span><span id="more-141"></span></p>
<p>Namun Skinny—<em>begitu ia biasa disapa oleh rekan kerjanya</em>&#8211; sudah membulatkan tekad. Keinginnannya untuk melibatkan diri secara total dalam dunia penulisan kreatif tak bisa dicarikan tandingannya. Dan kini hasrat itu harus disalurkan, ia harus segera dituntaskan, entah apapun keadaannya.</p>
<p>Sebenarnya jika dirunut keputusan nekad Erskine itu terpicu oleh Peggy Mitchel, seorang perempuan dengan personalitas menarik dan memiliki wajah cantik menurut ukuran Erskine, yang rela meninggalkan karir jurnalistiknya setelah bekerja selama sepuluh tahun di <em>The Atlanta Journal</em>. Bagaimanapun Peggy berhasil menerbitkan bukunya <em>Gone With The Wind</em>. Erskine mengaguminya karena kepercayaan dirinya untuk melepas pekerjaan demi menulis sebuah buku. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah aku suatu saat membuat keputusan serupa?</p>
<p>Maka siang itu, setelah ia menerima jamuan makan dari Fred Houser, manajer <em>The Atlanta Convention and Tourist Bureau</em>, atas liputannya yang memuaskan, dia menegaskan keputusannya untuk menjadi penulis fiksi profesional. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya juga bisa hidup dari menulis fiksi.</p>
<p>****</p>
<p>Akhir pekan ia meninggalkan Atlanta menuju Negara Maine, sebuah tempat yang jauh dari peradaban kota. Pedesaan dengan perbukitan yang mengombak oleh beragam pepohonan rindang, padang rumput yang lebat memagari sungai-sungai kecil berliku, menjadi hunian barunya. Ia berpikir tempat ini sangat cocok untuk menulis.</p>
<p>Musim panas segera berakhir, ia mulai mengumpulkan kayu untuk perapian di musim dingin. Ia mananam kentang di ladang untuk di makan. Siang hari ia habiskan di ladang dan mengumpulkan kayu, malamnya ia menulis, sisanya untuk istirahat. Secara matematis, 24 jam dalam sehari ia habiskan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk menulis, dan sisanya 8 jam untuk beristirahat.</p>
<p>Belasan, hingga puluhan cerita pendek telah ia tulis dengan mesin ketik butut yang ia beli dari hasil memeras keringatnya menjadi buruh kasar di pabrik minyak biji kapas ketika dirinya masih duduk di bangku setingkat SMU. Ia bekerja di malam hari, berangkat ketika orang di rumah mulai tertidur dan kembali dengan mengendap-endapkan langkah kakinya agar orang di rumah tidak terbangun dan mengira ia tertidur pulas semalaman. Sebentar kemudian dia bergegas berangkat ke sekolah.</p>
<p>Sebenarnya penghasilan ayahnya sebagai pastor di gereja di dekat tempat tinggalnya sudah mencukupi. Namun karena keinginannya untuk bekerja, membuatnya mau bekerja apa saja. Semasa sekolah ia melakukan pekerjaan apa saja, menjual koran, menjadi juru ketik, menulis berita didaerahnya untuk beberapa surat kabar. Rupanya minat menulisnya tanpa disadari mulai tumbuh. Ketika kuliah di Universitas Virginia dia melanjutkan minat menulisnya dengan menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar.</p>
<p>Ia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke beberapa surat kabar. Namun tak satupun dimuat. Ia sudah cukup senang ada satu-dua yang memberikan penjelasan alasan penolakan. Kegiatan ini terus dilakukan, mengirim cerpen, dan mendapati surat penolakan, hingga surat-surat itu menumpuk. Diam-diam memandangi tumpukan surat penolakan dan membacanya menjadi kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan.</p>
<p>Seorang redaktur menyarankan agar dia meniru cara menulis para penulis yang sedang populer. Seorang redaktur lain menyarankan agar dia menekuni bidang pekerjaan lain <span> </span>mengingat bisnis surat kabar yang tidak menentu akibat krisis yang sedang melanda Amerika, sehingga peluang untuk menulis cerpen semakin sempit. Komentar-komentar itu dibacanya, diambil seperlunya agar ia tak sakit hati dibuatnya.</p>
<p>Dengan persediaan uangnya yang mulai menipis ia masih butuh membeli perangko untuk mengeposkan surat, membeli beberapa batang rokok, kopi dan gula untuk teman mengetiknya di malam-malam hari. Dia bertekad menjual buku-bukunya yang dikumpulkan dari hasil menjadi pereview buku di <em>The Atlanta Journal</em>. Koleksi bukunya mencapai ratusan, dan kebanyakan adalah novel dan kumpulan cerpen. Ia pergi ke kota, mengunjungi tempat penjualan buku bekas<span>  </span>hingga akhirnya bertemu kenalan yang<span>  </span>menawarinya untuk menjalankan bisnis buku.</p>
<p>Bersama kawannya ia membuka kios buku. Buku-buku koleksinya dan beberapa buku tambahan dari agen penerbit ditata di rak. Namun bisnis buku ini bukannya menghasilkan tapi malah membuatnya makin terlilit hutang. Ia sudah kehabisan akal bagaimana untuk mendapatkan uang. Yang jelas dia hanya ingin menjadi penulis, bukan berbisnis buku.</p>
<p>Dia berjanji kepada dirinya sendiri, pekerjaan apapun, diluar menulis, dilakukan hanya untuk sementara dan semata-mata untuk tujuan bertahan hidup, memiliki tempat tinggal, dan berpakian layak.</p>
<p>Seorang teman lama mengajaknya ke suatu tempat, yang kemudian dia tahu tempat yang dituju itu adalah bank. Pegawai bank menanyakan jaminan apa yang dapat diberikan Erskine, kapan dia sanggup mengembalikan pinjaman. Erskine tak punya jaminan yang cukup bernilai, kecuali sebuah mobil tua dan mesin ketik usang. Temannya meyakinkan pegawai bank kenalannya itu bahwa Erskine adalah seorang calon penulis. Dia serius ingin menjadi penulis, dan kelak bukunya akan diterbitkan. Pegawai bank yang mengaku sebenarnya juga ingin menjadi penulis itu mengangguk dan segera menyuruh stafnya mencairkan pinjaman sebesar $1000.</p>
<p>****</p>
<p>Erskine pasti sudah memperhitungkan keputusannya meninggalkan pekerjaan demi menjadi penulis fiksi profesional. Godaan akan selalu menghantui bagi siapa saja yang mengambil keputusan seperti dirinya, yang hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup, sementara hasil menulis sebagai mata pencaharian tak kunjung terpenuhi.</p>
<p>Mental sekuat baja, tak bisa ditawar, harus dipersiapkan agar mampu menjalani masa-masa yang paling sulit, masa di mana tiada jaminan finansial yang memadai. Jika tidak, ia akan tergoda untuk mengalihkan perhatiannya kepada pekerjaan yang bagi kebanyakan orang lebih rasional, pekerjaan yang lebih bisa menghasilkan uang. Dan keinginan menjadi penulis fiksi profesional menjadi angan-angan yang lebih layak untuk ditertawakan.</p>
<p>Memang Erskine pada akhirnya dapat memetik hasil jerih-payahnya. Perlahan-lahan cerpennya mulai dimuat di koran kecil, hingga menembus <em>Scribner’s Magazine</em>, sebuah keinginan yang sudah dinanti-nantinya menaklukan media yang memiliki distribusi luas.</p>
<p class="MsoNormal">Kumpulan cerpennya yang diberi judul <em>American Earth</em> dibukukan. Tak lama kemudian menyusul novel perdananya <em>Tobaco Road</em>, yang terinspirasi dari sebuah kehidupan di perkampungan miskin di dekat tempat tinggalnya, sebuah jalan yang dibuat dengan menggelindingkan tong yang diisi tembakau yang diawetkan. Untuk pertama kalinya, ia menerima bond royalty dari penerbitan buku.</p>
<p>Hingga novel <em>God’s Littele Acre</em> yang menurutnya paling memuaskan, <em>You Have Seen Their Faces</em>, dan novelnya <em>Tobaco Road</em> yang telah dipentaskan lebih dari tujuh tahun, hasil royalty yang diterimanya tidak bisa dibilang telah cukup membuatnya menjadi seorang yang terbebas dari masalah keuangan. Penghasilan darinya waktu itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari-harinya, bahkan masih kurang untuk gaya hidupnya yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia memang gemar sekali mengunjungi tempat-tempat baru, menjelajahi seluruh kawasan benua Amerika, bahkan dunia. Kondisi finansialnya baru dikatakan lebih membaik setelah dia menjadi penulis skenario untuk film di MGM, yang menggajinya $3000 per minggu, penghasilan tertinggi yang pernah di terima sepanjang hidupnya.</p>
<p>Berapapun jumlah penghasilan yang didapatkannya dari menulis fiksi, setidaknya dia sudah mewujudkan keinginannya untuk menerbitkan karyanya di surat kabar, kumpulan cerpen dan novel-novelnya sudah dibukukan. Selama penghasilannya dari menulis fiksi belum bisa untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, maka dengan sadar ia pun akan melakukan pekerjaan lain demi mewujudkan ambisinya. Kini kerjanya sudah membuahkan hasil. <span style="font-size:100%;">Namanya disandingkan dengan<span style="font-family:Verdana;"> John Steinbeck , </span><span style="font-family:Verdana;">William Faulkner, dan pengarang terbaik Amerika yang lainnya.</span></span></p>
<p>****</p>
<p>Menyimak perjalanan hidup Erskine ini, sama seperti saya, barangkali anda akan mengajukan pertanyaan, kenapa dia bersiteguh ingin menjadi penulis fiksi professional, kenapa tidak menjadi bankir, atau melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah menghasilkan uang.</p>
<p>Dalam buku “Menulis adalah Jalan Hidupku” yang diterbitkan oleh Penerbit Bustan Yogyakarta, diuraikan secara rinci perjalanan menulis Erskine Cadwell. Buku yang ditulis sendiri oleh Erskine ini di dialihbahasakan dari buku <em>Call it Experience, The Years of Learning How to Write.</em></p>
<p>Diakuinya, keputusan Erskine menjadi penulis fiksi profesional karena dirinya suka menulis, dan tak yakin bisa melakukan pekerjaan lain selain bidang ini. Oleh karena itu, ia ingin menjadikan menulis sebagai penopang hidupnya. Ia menganggap apa yang dikerjakanya sebagai hal yang wajar, karena baginya semua pilihan pekerjaan membutuhkan ketekunan. Begitu juga dengan menulis.</p>
<p>Kalaupun ada seorang yang hendak menjadi penulis, namun ditengah jalan menemukan alasan yang menurutnya lebih logis untuk melakukan pekerjaan lain, berarti memang dia tidak punya modal yang cukup untuk menjadi seorang penulis. Pada akhirnya tingkat intensitas keadaan pikiranlah yang menentukan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam profesi yang diinginkannya.</p>
<p>Menulis fiksi dipilihnya karena cerpen atau novel adalah cermin bagi orang-orang. Ia mendefinisikan cerpen atau novel sebagai cerita imajiner bermakna yang cukup menarik perhatian pembaca dan cukup mendalam untuk meninggalkan kesan abadi dalam pikirannya.</p>
<p>Ia menampik anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis seorang harus miskin dulu agar cocok dengan dunia kepenulisan. Yang dibutuhkan adalah semangat keuletan yang dapat melecut orang untuk berjuang keras mengatasi setiap penghalang menuju kesuksesan.</p>
<p>Ia pun tak menganjurkan siapa saja yang hendak menjadi penulis untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ia mengambil contoh banyak penulis ternama yang bukan penulis profesional. Banyak karya bermutu yang dihasilkan oleh mereka yang dipaksa untuk melakukan pekerjaan rumah setiap hari atau menjalankan bisnis dalam lima atau empat hari dalam seminggu. Ketika menulis sudah menjadi hobi, maka siapapun akan menyempatkannya. Dan seperti hobi-hobi yang lain, menulis bisa dikerjakan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.</p>
<p>Keputusannya meninggalkan karir jurnalistiknya bukan karena keterampilan menulis jurnalistik bertentangan dengan menulis fiksi. Sebaliknya, menulis jurnalistik justru yang mengantarkan minatnya dalam dunia tulis-menulis. Belajar menulis dengan bentuk apapun tak ada yang merugikan. Dari pengalamannya, menulis jurnalistik membantunya untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Menunggu inspirasi adalah pernyataan yang jarang sekali dijumpai di kalangan wartawan yang terlatih.</p>
<p>Anda boleh saja menganggap apa yang dilakukan oleh Erskine itu sebagai sesuatu yang mengada-ada, sesuatu yang berlebihan yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit oleh dirinya sendiri. Namun bagi anda yang saat ini sudah memutuskan diri menjadi penulis profesional, baik itu fiksi maupun non fiksi, sedikit banyak pasti sudah melewati masa-masa itu. Hanya saja intensitasnya mungkin berbeda. Anda bisa saja lebih beruntung ketimbang Erskine yang menempuh karir menulis profesioanlnya dengan berdarah-darah. Jika anda menyadari ini, maka anda akan bersyukur bahwa ternyata ada yang lebih menderita dari anda.</p>
<p>Pada akhirnya hidup adalah pertaruhan. Maka saya dan juga anda harus berani memilih dan tegas mengambil tindakan. Profesi apakah yang sebenarnya anda inginkan. Apakah anda lebih mencintai menulis dari kesenangan-kesenangan anda yang lain? Jika iya, maka teruslah berjuang. Contohlah semangat menulis kedua &#8220;binatang jalang&#8221; Chairil dan Erskine. Percayalah, setiap usaha pasti ada hasilnya. Good Luck!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/141/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/141/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=141&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/07/17/jika-menulis-adalah-jalan-hidupmu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp2.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RpwH9z9ldFI/AAAAAAAAA1o/5XiHhOVpWEY/s200/04-l-caldwell.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Awal Perjalanan</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/27/awal-perjalanan/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/27/awal-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 17:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/27/awal-perjalanan/</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah langkah permulaan sebuah perjalanan saya untuk menjadi seorang penulis. Saya menyadari jalan ke depan tidaklah mudah. Sendiri. Sepi. Lapar. Sedih. Marah. Mau tak mau harus saya akrabi. Untuk itu saya meyakinkan kepada diri saya sendiri bahwa saya akan mampu melewati jalan berliku ini. Bismillahirahmanirrahiim&#8230;.
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=3&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini adalah langkah permulaan sebuah perjalanan saya untuk menjadi seorang penulis. Saya menyadari jalan ke depan tidaklah mudah. Sendiri. Sepi. Lapar. Sedih. Marah. Mau tak mau harus saya akrabi. Untuk itu saya meyakinkan kepada diri saya sendiri bahwa saya akan mampu melewati jalan berliku ini. Bismillahirahmanirrahiim&#8230;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=3&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/27/awal-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007)</title>
		<link>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/25/maaf-saya-menghamili-istri-anda-2007/</link>
		<comments>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/25/maaf-saya-menghamili-istri-anda-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jun 2007 18:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulhanudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Melayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/25/maaf-saya-menghamili-istri-anda-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Monty Tiwa tidak harus meminta maaf pada siapa-siapa (seharusnya juga tidak kepada perserikatan keluarga Simamora yang menuntutnya untuk meminta maaf atas penggunaan marga mereka di film ini). Maaf, Saya Menghamili Istri Anda adalah sebuah komedi yang cerdas dan menyenangkan.
Setelah menyerahkan skrip-skripnya untuk disutradarai Rudi Soedjarwo (dan the much less-talented Indra Yudhistira), kali ini Monty menyutradarai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=587&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bp3.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RoAGt9Pyq8I/AAAAAAAAA0Y/OK5VMrVwzcE/s1600-h/masmia1.jpg"><img style="float:right;cursor:pointer;margin:0 0 10px 10px;" src="http://bp3.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RoAGt9Pyq8I/AAAAAAAAA0Y/OK5VMrVwzcE/s200/masmia1.jpg" alt="" border="0" /></a><br />Monty Tiwa tidak harus meminta maaf pada siapa-siapa (seharusnya juga tidak kepada perserikatan keluarga Simamora yang menuntutnya untuk meminta maaf atas penggunaan marga mereka di film ini). Maaf, Saya Menghamili Istri Anda adalah sebuah komedi yang cerdas dan menyenangkan.</p>
<p>Setelah menyerahkan skrip-skripnya untuk disutradarai Rudi Soedjarwo (dan the much less-talented Indra Yudhistira), kali ini Monty menyutradarai sendiri ceritanya. Dan hasilnya ternyata jauh lebih baik dari film-filmnya yang disutradarai kedua sutradara itu.<span></p>
<p>Dibyo (Ringgo Agus Rahman, dalam penampilan yang hampir me-reset ke-overeksposannya) adalah seorang pecundang. Jadi figuran di beberapa film low budget, dia sudah lebih spak dari bintang film paling kondang. Dan ketika dia mendapat satu masalah besar yang berkaitan dengan seorang perempuan (Mulan Kwok, who’s not bad), usahanya untuk menyelesaikan masalah malah menyeretnya into deeper shit.</p>
<p>Setelah openingnya yang sangat pintar yang membuat kami terbahak-bahak, film lanjut dengan joke-joke yang hampir sama lucunya. Monty punya comedic timing yang sangat kuat. Ditambah lagi, para pemainnya mampu mengikuti irama komedi Monty, terutama new-comer Rizky Mocil yang main jadi sahabatnya Dibyo. Shanty juga layak diacungi jempol sebagai gadis batak, 180 derajat berbeda dari penampilannya yang kuat sebagai femme fatale di Kala.</p>
<p>Sayangnya, sebagai film komedi Maaf Saya Menghamili Istri Anda kurang solid karena ada beberapa bagian yang melodramatik (kecenderungan yang selalu kami dapati dari skenario-skenario tulisan Monty), lengkap dengan music score yang didayu-dayuin. Dan film ini bisa jadi lebih baik jika tidak dikerjakan dengan terburu-buru (film ini adalah satu dari proyek suting 7 hari Monty Tiwa/Rudi Soedjarwo). Karena dengan hasil teknis seperti itu, film ini bisa saja ditandingi oleh, misalnya, Bajaj Bajuri yang juga pernah sama lucunya. Seharusnya film bioskop memang lebih cinematic dari film TV. Kan kita beli tiket. Mesti beda dong, ah.</p>
<p>Tapi overall, ini adalah debut penyutradraan yang menjanjikan dari Monty Tiwa.</p>
<p></span><br />
<h4>
<p>Penulis/Sutradara: Monty Tiwa<br />Pemain: Ringgo Agus Rahman, Mulan Kwok, Shanty, Rizky Mocil, Eddie Karsito.<br />Produser: Rudi Soedjarwo, Novi Christina<br />Produksi: Sinemart Pictures</p>
<p><a target="_blank" href="http://www.21cineplex.com/playnow.cfm?id=1676">Jadwal Tayang</a><br /><a target="_blank" href="http://www.sinemart.com/maafsayamenghamiliistrianda/">Official Site</a></p>
</h4>
<div class="blogger-post-footer"><a href="http://secure.bidvertiser.com/performance/bdv_rss_rd.dbm?pid=72860&amp;bid=301627&amp;PHS=72860301627&amp;click=1&amp;rsrc=3" target="_blank"><img src="http://bdv.bidvertiser.com/BidVertiser.dbm?pid=72860&amp;bid=301627&amp;PHS=72860301627&amp;rssimage=1&amp;rsrc=3"></a></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sulhanudin.wordpress.com/587/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sulhanudin.wordpress.com/587/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulhanudin.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulhanudin.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulhanudin.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulhanudin.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulhanudin.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulhanudin.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulhanudin.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulhanudin.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulhanudin.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulhanudin.wordpress.com/587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulhanudin.wordpress.com&blog=1295035&post=587&subd=sulhanudin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulhanudin.wordpress.com/2007/06/25/maaf-saya-menghamili-istri-anda-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75c48344469b3d3438d2a2c72a3782a9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp3.blogger.com/_MGMh7Efcv8M/RoAGt9Pyq8I/AAAAAAAAA0Y/OK5VMrVwzcE/s200/masmia1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://bdv.bidvertiser.com/BidVertiser.dbm?pid=72860&#38;bid=301627&#38;PHS=72860301627&#38;rssimage=1&#38;rsrc=3" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>