Monthly Archives: March 2007

Unik, begitulah sosok Andrea Hirata. Penulis novel Laskar Pelangi itu berlatar belakang pendidikan ekonomi. Tapi dia juga meminati bidang keilmuan (science). Belakangan dia menulis novel. Ternyata karyanya laku keras dan mendapatkan pujian dari sejumlah pakar sastra.

Seperti yang diakui Andrea, Laskar Pelangi adalah kisah masa kecilnya. Masa kecil di sebuah desa miskin di Belitong. Laskar Pelangi adalah novel perdananya. Buku kedua, Sang Pemimpi, seperti juga buku perdananya, menjadi best seller.

Tidak seperti halnya para kritikus sastra yang memberikan pujian kepada karya Andrea, Aulia Muhammad pagi itu membeberkan beberapa kekurangan kedua novelnya. Pertama soal melawan pasar. Bagi Aulia karya Andrea tak melawan pasar. Tapi sebaliknya, justru mengikuti pasar.

Karya yang ditawarkan Andrea juga tak baru. Hampir mirip-mirip yang disajikan dalam serial tayangan islami, seperti yang tampak dalam buku kedua Andrea, Sang Pemimpi, yang disebut oleh Aulia sebagai “pertobatan”.

Lakunya karya Andrea, ditambahkan Aulia karena menampilkan keharuan. Termasuk juga strategi penerbit yang menampilkan Andrea sebagai awam yang menulis sastra. Orang menjadi ingin tahu. Ini seperti melejitnya nama Feri atau Ikhsan peserta Indonesian Idol, yang menampilkan sosok anak keluarga yang tak mampu. Bahkan untuk pergi menyaksikan aksi panggung anaknya, ayah Ikhsan harus dengan menjual becak.

Kemudian soal endorsement atau catatan oleh para pakar, menurut Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com itu membuktikan betapa tidak percaya dirinya seorang pengarang. Hal lainnya, adalah soal pengkotak-kotakkan sastra menjadi beberapa jenis. Menurut Aulia, tidak perlu membuat kategorisasi sastra, termasuk kategori orang awam menulis sastra. Yang terpenting adalah karya itu bagus, diapresiasi oleh pembaca.

Bagi Aulia strategi apapun halal dilakukan penerbit. Tapi yang jauh penting dilakukan penerbit adalah bagaimana agar buku bisa murah. Yang penting karya itu dibaca.”Bagi saya karya itu dibaca saja sudah sangat senang,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com itu tidak perlu mendewa-dewakan karya. Bahwa karya ini bagus, penulisnya hebat. “Pengharapan yang terlalu berlebihan atas suatu karya, seringkali mengecewakan. Makanya biasa saja dalam menanggapi suatu karya. Secara wajar,” kritik alumnus Fakultas Sastra Undip itu.

Menanggapi kritik Aulia, Andrea mengatakan bahwa dirinya melihat pasar secara praktis. Soal ketidakpercayaan pengarang, dirinya mengaku mulanya juga tak percaya jika para pakar sastra memberikan pujian atas karyanya.

“Makanya, saya pernah meledek seorang teman dari penerbitan. Saya katakan ada tiga profesi yang tidak bisa dipercaya. Yang ketiga itu adalah penerbit,” ujar pengarang kelahiran Belitong, yang kini bekerja di PT Telkom Bandung ini, sambil tersenyum lepas.

Dalam acara “Bincang dan Temu Penulis” yang digelar oleh LPM Hayamwuruk bekerjasama dengan toko buku Toga Mas di Joglo Fakultas Sastra Undip (27/3) itu, Andrea juga menyampaikan sekilas novel ketigasnya yang berjudul “Edensor”. Dalam kesempatan itu Andre membacakan abstraksi atau sinopsis dari vonel ketiganya. Yang unik, kendati
novel ketiganya masih prelaunch, tapi seperti yang tampak di banner yang dipajang oleh panitia, ditampilkan juga sampul buku yang keempat.

“Apa anda bisa menikmati mengarang dalam waktu sesingkat itu, atau sebenarnya anda sudah menyiapkan sejak lama?

Atau jangan-jangan anda memanfaatkan aji mumpung, mumpung lagi laku?” tanya Diantika, mahasiswa Sastra Indonesia Undip.

“Saya sendiri juga tak tahu. Saya begitu cepat menyusun novel-novel itu. Saya tak ada beban. Mungkin karena ini pengalaman saya pribadi,” jawab Andrea. [tulisan ini diterbitkan di suaramerdeka.com]

*Liputan lain ditulis di Harian Suara Merdeka (cetak) di rubrik seni. Klik di sini

Sukses dengan dua novelnya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Andrea Hirata akan membagi tips menulisnya di Semarang. Dalam acara yang diselenggarakan di Joglo Fakultas Sastra Undip, Selasa (27/3) itu, juga akan dibeberkan sekilas tentang novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi.

Kehadiran pengarang asal Belitong itu memang mengejutkan. Betapa tidak, Andrea yang notabene bukan berasal dari kalangan sastra, tapi mampu menulis novel yang keduanya menjadi best seller. Dari informasi penerbit, keduanya kini telah dicetak ulang sebanyak tujuh kali.

Yang menarik lagi, kedua novel itu sama sekali tak sejalan dengan tren pasar. Tapi melalui dua sekuel novelnya itu Andrea Hirata langsung menempatkan dirinya sebagai salah satu penulis muda Indonesia yang amat menjanjikan.

Bagaimana karya-karya Andrea dapat menjadi best seller tanpa harus mengorbankan mutu? Sastrawan Ahmad Tohari mengatakan, “Andrea adalah jaminan bagi sebuah karya sastra bergaya saintifik dengan penyampian yang cerdas dan menyentuh”.

Sementara Prof Sapardi Djoko Damono, guru besar Universitas Indonesia menyebut karya Andrea sebagai metafora yang berani, tak biasa, tak terduga, kadang kala ngawur, namun amat memikat.

Daya tarik yang menonjol dari karya-karya Andrea juga terletak pada kemungkinan yang amat luas dari eksplorasinya terhadap karakter dan peristiwa. Setiap paragraf yang disajikan seakan dapat berkembang menjadi sebuah cerpen, dan setiap bab mengandung letupan intelejensia, kisah, dan romantika untuk untuk dapat tumbuh menjadi buku tersendiri.

Andrea tak pernah kehilangan ide dan cerdik dalam melihat suatu fenomena dari sudut yang tak pernah dilihat oleh orang lain. Setiap kalimatnya potensial. Ironi diolahnya menjadi jenaka, cinta pertama yang absurd menjadi mempesona, tragedi diparodikan, ilmu fisika, kimia, biologi dan astronomi diolah menjadi sastra.

Telah banyak pujian dilontarkan atas kematangan karya maupun teknik menulis alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang belakangan mendapatkan beasiswa studi master of science di Paris de University, Sorbonne, Prancis itu.

Acara yang bertajuk “Temu dan Bincang Penulis bersama Andrea Hirata” itu diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Sastra Undip dengan toko buku Toga Mas dan Renjana Organizer.

Selain Andrea Hirata, akan hadir sebagai pembicara Aulia Muhammad, Pemimpin redaksi suaramerdeka.com, dan Agus M Irkham, pegiat komunitas perbukuan. Diskusi akan dibuka mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.[sumber: suaramerdeka.com]