Monthly Archives: November 2006

Cerita pendek atau yang biasa disebut “cerpen” sebagai salah satu genre sastra memiliki keunikan tersendiri. Ia bisa menceritakan pengalaman penulis dan bisa juga hanya merupakan imajinasi entah-berantah yang sengaja direka oleh pengarang. Seperti karya sastra pada umumnya, batasan fakta dan fiksi dalam cerpen tidak jelas. Bahkan jika mengacu pada wacana postmodern, seperti kajian teks ala Roland Barthes (Baca: Merayakan Kematian Pengarang, Mission Impossible: Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra) fakta dalam karya sastra, tidaklah penting.

Tapi bagaimana jika cerpen itu menyajikan sesuatu yang faktual. Ia disusun dari fakta, peristiwa yang benar-benar disaksikan ataupun dialami langsung oleh pengarang. Seperti yang dikisahkan oleh Rosidi dalam bedah cerpen “Opera Zaman” di Komunitas Sendang Mulyo Semarang, Rabu (29/11) malam.

Eros, panggilan Rosidi, membeberkan latar belakang penciptaan cerpennya yang berjudul “Ngadikan”. Cerita dalam cerpen itu diakuinya benar-benar dialami penulis. Tokoh-tokoh dalam cerpen adalah tokoh yang sebenarnya. Tidak ada yang disamarkan. Dan tokoh saya dalam cerpen itu, juga mengacu pada saya pengarang.

“Saya sangat terkesan oleh Ngadikan yang memiliki semangat hidup yang luar biasa,” ucapnya bersemangat. Ngadikan adalah nama teman seprofesi Eros sebagai pembuat bata di tempat tinggalnya, di sebuah desa di Kudus.

Lalu apa perlunya pengarang menceritakan perihal latar belakang penciptaan karyanya, bahkan mengklaim bahwa cerita yang ditulis adalah benar-benar yang dialami?

“Inilah yang menjadi penyakit cerpenis kita. Pengarang kita itu malas. Termasuk si Rosidi ini. Wong pencetak boto ya di ceritak-ceritake,” kritik Eko Prasetyo Utomo. Prasetyo adalah cerpenis asal Semarang yang beberapa karyanya telah diterbitkan di beberapa media lokal dan nasional. Beberapa kumpulan cerpennya juga sudah dibukukan.

Menurut Prasetyo apa yang dilakukan oleh Rosidi tidak menarik, karena ia menceritakan sesuatu dengan apa adanya. “Cerpen yang baik itu, ketika membacanya akan membekas. Kita selalu teringat. Sayang di sini cerita disajikan secara linier” ungkap Prasetyo, setengah kecewa.

Selain itu Prasetyo juga menilai judul Opera Zaman yang dipakai dalam kumpulan cerpen (kumcer) itu kurang menarik. Menurutnya lebih menarik jika Opera Wadas dijadikan sebagai judul kumcer. Opera Wadas adalah salah satu judul cerpen dalam kumcer.

Saya yang waktu itu mengikuti diskusi, mengajukan ke salah seorang penulis dalam kumpulan cerpen Opera Zaman yang kebetulan hadir. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Prasetyo bahwa sebagian besar cerpen dalam kumpulan cerpen itu disampaikan secara konvensional. Terlebih mendengar pengakuan dari Eros yang mengatakan bahwa apa yang ditulisnya adalah fakta.

“Jika Roland Barthes mengatakan pengarang telah mati, maka anda di sini telah menghidupkannya. Dengan adanya pengakuan anda itu, telah mereduksi pemaknaan pembaca. Karya sastra yang harusnya memiliki makna yang universal telah terbelenggu oleh ruang dan waktu. Di luar pernyataan anda itu, cerpen anda tidak memiliki makna apa-apa” kritik saya.

Bagi saya tidak selayaknya penulis merecoki pemaknaan pembaca. Ketika ia selesai menulis, teks itu sudah sepenuhnya menjadi milik pembaca. Biarkan pembaca yang akan memaknai teks itu.

Meski sepakat dengan beberapa pandangan Prasetyo, namun saya menyampaikan bahwa dirinya terkesan memaksakan menilai karya-karya dalam kumpulan cerpen yang terlalu faktual menjadi tidak menarik. “Saya seorang guru, tapi saya tak menceritakan itu dalam cerpen saya” ucapnya.

Saya sepakat jika Prasetyo mengatakan itu untuk mendorong penulis lebih mengeksplorasi idenya tidak sebatas berhenti pada hal-hal yang faktual. Namun jika kemudian memberikan anjuran agar pengarang menulis di luar kesehariannya, ini jelas tidak tepat. Bukankah akan lebih baik jika kita menulis sesuatu yang paling dekat dengan kita, sesuatu yang kita alami. Bagaimana jika kita menulis tentang sesuatu yang kita sendiri tidak mengetahuinya?

Saya curiga Prasetyo menggunakan pendekatan yang berbeda dengan gaya yang dipakai oleh sebagian pengarang dalam kumcer itu yang sebagian besar menggunakan style realis. Sementara-mungkin- Praetyo kurang suka dengan gaya itu -bisa jadi ia menyukai karya surealis.

“Oke kalau anda mengatakan jika cerpen yang faktual itu tidak menarik, mengapa anda menanyakan kebenaran dari fakta yang disampaikan cerpen itu. Terus, kalau kemudian anda mengatakan penulis kurang mengeksplorasi, lantas eksplorasi semacam apa. Jika kemudian eksplorasi yang anda maksud itu kemudian mematikan gaya pengarang, yang realis itu kemudian beralih ke surealis, jelas ini sangat memaksakan”

“Saya tak bermaksud mematikan kreativitas penulis. Justru dengan ejekan ini saya harapkan penulis mau terus berproses,” jawab Praestyo.

Eksplorasi yang dimaksudkan oleh Prasetyo adalah perlunya penulis menggali sesuatu yang ingin disampaikan dari sudut pandang yang paling menarik. “Misalnya Eros mengeksplorasi lumpur itu. Ada apa dengan lumpur itu.. Ini bisa dieksplorasi lebih menarik, ketimbang menceritakan kisah tukang bata itu. Pram-Pramoedya Ananta Toer- juga penulis realis. Tapi eksplorasinya menarik,” terangnya.

Diskusi bedah buku kumpulan cerpen “Opera Zaman” itu diadakan oleh Komunitas Sendang Mulyo bekerja sama dengan Komunitas Merapi. Sebagai panitia pelaksana LPM Manunggal dan komunitas sastra Histeria. Hadir dalam diskusi itu Rosidi selaku salah seorang penulis, Eko Prasetyo Utomo selaku pembedah, Elissiti dan Gendhot Wukir yang mewakili editorial dan komunitas Merapi selaku penggagas kegiatan ini.

Cerita dalam kumcer Opera Zaman itu merupakan karya para anggota komunitas milis Merapi. Sebelumnya ada sekitar 200-an naskah, kemudian dipilih 10 terbaik. Cerpen ini menyajikan tema tentang petualangan. Buku ini dijual seharga Rp 20.000. Sedianya hasil penjualannya akan disumbangkan untuk pengembangan pendidikan anak.

Baca tulisan terkait:
- Opera Zaman diluncurkan
- Kumcer Baru Edukasi Rasa Lokal
- Opera Zaman, Representasi Cinta Lokalitas
- Resensi Opera Zaman di Malang Post

Siapa orang yang pertama anda ingat ketika anda sedang mendapat kebahagiaan? Taruh saja hari ini anda mendapat rezeki kuis 3 miliar, atau undian berhadiah berupa mobil mewah. Siapa orang yang anda traktir, siapa orang yang pertama kali anda ajak serta untuk mencoba mobil baru itu?

Ayah, ibu, suami, istri,adik, kakak, atau ada orang lain di keluarga anda, pembantu misalnya? Mungkin pacar, guru SD atau guru TK, atau malah orang yang pernah meminjami anda uang saat jajan di warung karena dompet anda tertinggal?

Siapapun orang yang menjadi pilihan itu, tentu saja dia adalah orang yang paling berkesan dalam hidup anda. Dia adalah orang yang paling istimewa. Maka wajar, ketika anda sedang mendapatkan rejeki berlimpah, sedang mendapatkan kebahagiaan, dia menjadi orang yang pertama kali anda ingat. Dia adalah orang yang anda pilih untuk membagi kebahagiaan.

Yups, andai saja anda diminta membuat skala prioritas daftar orang istimewa, siapa saja orang yang berada diurutan tiga besar? Atas dasar apa anda menetapkan urutan?

Bagaimana jika sekarang ceritanya dibalik. Siapa saja orang yang pertama kali akan anda ingat ketika anda tengah berada dalam kesulitan, ketika anda sedang bersedih, ketika sedang dililit utang?

Apakah ketiga besar orang di atas juga menjadi orang yang pertama kali hubungi untuk dimintai bantuan.

Orang seringkali merengek datang pada kita ketika yang bersangkutan tengah berada dalam kesulitan. Atau sebaliknya, kita akan dengan mudah datang kepada orang yang sebelumnya kita remehkan, dan dengan mudah juga kemudian melupakannya.

Saya atau mungkin anda tak menyangka jika orang yang selama ini kita anggap tak berguna: bodoh, miskin, jelek; ternyata justru hadir memberikan bantuan ketika kita tengah berada dalam kesulitan. Orang yang selama kita anggap sebagai musuh, selalu anda curigai, ternyata datang di saat yang tepat, menyelamatkan nama baik anda di depan teman-teman anda. Bukankah semua itu sangat mungkin terjadi?

Memang sebagai orang yang pernah menolong, kita tidak mengharapkan orang lain akan mengenang jasa-jasa kita. Tapi sudah menjadi “keharusan” kita yang pernah ditolong untuk balas budi dengan membalasnya jika ada kesempatan.

Bukan cuma datang kepada orang yang pernah menolong kita itu ketika kita sedang dilanda musibah, berbaik-baik kepada aorang lain karena ada tujuan dibaliknya, tapi tak ingat ketika sedang mendapatkan kebahagiaan.

Sekarang, siapa orang yang akan anda ingat ketika anda mendapatkan rizki 3 miliar atau undian mobil mewah?