Monthly Archives: August 2006

Menggugat misi pengarang dalam karya sastra

Seorang penulis ingin membuat sebuah karya besar, karya yang dapat memberikan pencerahan kepada seluruh umat manusia. Sebuah tugas mahaberat, tapi ia yakin akan mampu menjalankan misinya.

Orang seringkali memulai suatu pekerjaan dengan sebuah niat besar. Begitu juga dengan aktivitas menulis, termasuk menulis karya sastra, penulis seringkali menyertainya dengan embel-embel niat tertentu.

Memang tak ada yang salah dengan niat dalam menulis. Setiap penulis tentu saja memiliki tujuan tertentu ketika ia menyampaikan ide lewat tulisan. Akan tetapi menjadi masalah ketika niat itu mengontrol keseluruhan materi cerita. Akibat semangat penulis untuk menyampaikan pesannya berlebihan, karya yang dihasilkan akhirnya menjadi didaktis.

Apakah penulis yakin bahwa tulisannya akan mencerahkan. Dengan cara apa penulis akan menyadarkan pembaca. Apakah akan disampaikan seperti orang yang tengah berceramah di forum-forum keagamaan itu?

Bila anda sepakat, dunia sastra tidak sama dengan dunia dalam kehidupan sehari-hari. Memang cerita dalam karya sastra boleh diambil dari cerita keseharian. Namun ketika masuk dalam medium sastra, cerita itu sudah memiliki tempatnya sendiri.

Karya sastra berbeda dari karya sejarah, maupun disiplin ilmu lainnya. Kebenaran dalam sastra tidak sama dengan kebenaran versi sejarah. Kebenaran sejarah tersusun atas data-data faktual, yang bisa dibuktikan secara materi, namun kebenaran dalam sastra adalah nilai-nilai yang bersifat abstrak. Pesan yang diserap oleh masyarakat adalah nilai-nilai dari karya sastra, bukan kebenaran cerita secara utuh.

Shakespere tak harus membuktikan bahwa tokoh Romeo dan Juliet itu benar-benar ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Tak penting pula Ayu Utami membeberkan data-data yang digunakan dalam ceritanya Saman maupun Larung. Nilai-nilai yang disampaikan dalam cerita Romeo and Juliet maupun cerita dalam novel Ayu Utami itu yang jauh lebih penting bagi pembaca daripada kebenaran dibalik cerita yang ditulis oleh pengarang.

*****
Pada artikel sebelumnya saya telah menyampaikan tentang peristiwa kematian pengarang dan perlunya peran pembaca dalam menafsirkan sebuah teks yang diangkat dari esai Roland Barthes “The Dearh of The Author”. Masih tentang pemikiran Bathes, kali ini saya mengutip esainya “from Wrting Degree Zero”.

From Wrting Degree Zero adalah buku pertama Barthes yang memuat perselisihannya dengan Sarte –meskipun nama Sarte tak disebutkan secara langsung— tentang pandangannya terhadap karya sastra, selain juga perselisihan dengan Sarte tentang imajinasi dalam buku terakhirnya Camera Lucida.

Meskipun sepakat dengan Sartre bahwa tugas penulis adalah menyeru pembaca kepada kebaikan (etis), Barthes tidak menekankan moralitas sebagai tujuan akhir sebuah cerita. Ia menjadikan moralitas sebagai permasalahan ketimbang solusi yang membentuk sebuah karya sastra.

Barthes membedakan teks menjadi dua, teks yang berpusat pada penulis dan teks yang berpusat pada pembaca. Teks yang berpusat pada penulis bertujuan agar pembaca tak sebatas menjadi konsumen, tapi juga menjadi produsen teks. Pembaca mempunyai kesejajaran dengan bentuk penafsiran yang menegasakan ‘permainan bebas’ (freeplay) dan di luar jangkauan batas kemanusiaan. Sedang teks yang fokus pada pembaca atau teks klasik, mempunyai pluralitas yang terbatas dan oleh sebab itu tidak berada di luar jangkauan penafsiran.

Sama halnya dengan Derrida, pioner gerakan post strukturalisme, Barthes memusatkan perhatiannya pada teks yang fokus pada pembaca dengan tujuan agar mampu menunjukkan “perbedaan” yang ada dalam teks.

Bagi Barthes bahasa adalah tujuan awal dan akhir dari sastra. Bahasa adalah segalanya. Dengan kata lain, semua realitas telah diwakili melalui bahasa—termasuk kebijkasanaan pengarang dan struktur karyanya. Sikap Barthes ini sekaligus merupakan penolakannya terhadap pandangan Sartre, ketika sastra dibawa untuk kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik dan agama.

Barthes menganggap tidak ada kewajiban sebuah tulisan menghasilkan sesuatu diluar tulisan itu sendiri –baik untuk tujuan sosial maupun moral— yang menjadikan sastra sebagai instrumen perlawanan dan subversi, tapi sebagai bentuk praktek penulisan itu sendiri. Baginya bahasa tidak pernah menjadi kekuatan.

Selain yang disebutkan di atas, Barthes menganggap menulis sebagai aktivitas bebas, termasuk menyampaikan pandangan politik. Dia memahami sastra sebagai sebuah usaha pembaharuan dari tuntutan hak individu secara terus-menerus, dan semua hak itu pada akhirnya adalah hak politik. Dan Barthes sendiri termasuk orang yang menolak sastra dikaitkan dengan politik.

Kebebasan penulis digambarkan seperti sebuah penerbangan. Penulis adalah utusan dari egonya sendiri –sebagai pribadi dalam penerbangan terus menerus sebelum akhirnya ditentukan dengan tulisan, begitu juga pikiran, ia berada dalam penerbangan abadi dari doktrin. “Who Speaks is not who writes, and who writes is not who is.” Pada akhirnya yang ingin dituju oleh Barthes adalah pencapaian akan keindahan.

*****
Meski bersifat abstrak, kebenaran dalam karya sastra memiliki kedudukan yang tinggi, lebih tingga dari ilmu pengetahuan lainnya bahkan agama. Matthew Arnold dalam esai “studi puisi”-nya menegaskan : “Agama kita telah mewujudkan dirinya dalam kenyataan, kenyataan yang diduga; ia telah melekatkan emosi pada kenyataan, dan sekarang kenyataan itu mengecewakan.” Sebaliknya, “Puisi telah melekatkan emosi pada ide; ide itu adalah kenyataan. …. Tanpa puisi, sains kita akan terasa tidak lengkap; dan kebanyakan yang sekarang kita lewatkan dengan agama dan filafat akan diganti dengan puisi.”

Sebagai pembaca, setiap orang berhak melakukan penafsiran terhadap teks sastra. Menafsir berarti tidak hanya melakukan pembacaan ulang, tetapi juga menelusuri makna dibalik teks untuk menemukan makna-makna baru. Jangan takut untuk membaca, bahkan dari kesalahan membaca itu bisa saja muncul sebuah kritik yang estetik.

Jika anda sebagai penulis, sebaiknya anda tak usah membebani diri dengan keinginan untuk menyampaikan suatu ajaran kepada pembaca. Alih-alih pesan anda akan sampai, pembaca sudah buru-buru menutup tulisan anda karena tidak menikmatinya. Oleh karena itu, biarkan pembaca sendiri yang menemukan pesan dari teks yang anda tulis.

Ketika anda menulis, tak perlu juga diniati untuk membuat sebuah karya sastra yang besar (masterpice). Ketika karya anda sudah menyentuh kenikmatan pembaca, dengan sendirinya kebesaran karya anda telah mendapatkan pengakuan. Niat maupun keinginan yang berlebihan hanya akan membebani penulis dalam menghasilkan karya. Menulis menjadi terhambat. Bagaimana tidak, menulis belum dimulai, tapi sudah memasang target.

Sekarang, menulis, menulis sajalah. Membaca dan membaca. Tentu dengan terus belajar untuk menjadi penulis dan pembaca yang baik.

*Tulisan ini dipublikasikan di Buletin Sastra Hysteria, Edisi September 2006

Applications for 2007-08 will be available in late Summer 2006.

IHS Film & Fiction Scholarships up to $10,000 in tuition and stipend will be awarded by the Institute for Humane Studies to support students who:

Will be pursuing a Master of Fine Arts (M.F.A.) degree in filmmaking, fiction writing, or playwriting full-time in the 2006-07 academic school year.
Have a demonstrated interest in classical liberal ideas and their application in contemporary society.


Applications for 2007-08 will be available in late Summer 2006.

IHS Film & Fiction Scholarships up to $10,000 in tuition and stipend will be awarded by the Institute for Humane Studies to support students who:

Will be pursuing a Master of Fine Arts (M.F.A.) degree in filmmaking, fiction writing, or playwriting full-time in the 2006-07 academic school year.
Have a demonstrated interest in classical liberal ideas and their application in contemporary society.

Beasiswa Indonesia Scholarship International diploma sekolah S1 S2 S3 dalam negeri dan luar negeri.

Demonstrate the desire, motivation, and creative ability to succeed in their chosen profession. In recognition of the important role that films and novels play in the world of ideas, IHS provides support to promising young filmmakers and writers who share an appreciation for the potential and promise of a free society.

If you’re interested in our Film & Fiction Scholarships check out our free Liberty, Art, & Culture seminar.
Reference

More Indonesian Scholarships, http://informasi-beasiswa.blogspot.com/