Monthly Archives: May 2006

Hari ini saya bertemu seorang teman dari Klaten. Namanya Luji. Kami ngobrol seputar kabar Klaten dan Jogja pascagempa. Ia mengatakan, sampai saat ini masih ada baberapa lokasi gempa yang sama sekali belum tersentuh bantuan.

Lokasi gempa yang sulit dijangkau, jalan-jalan yang retak-retak, menjadi kendala pendistribusian bantuan. Meski demikian, di lokasi yang sebenarnya masih bisa dijangkau, seperti di dekat Prambanan, ternyata masih ada yang belum menerima bantuan.

Inilah yang menjadi masalah. Di sepanjang Jalan Solo-Jogja ternyata mobil-mobil pengangkut bantuan dihentikan oleh warga-warga di jalan. “Mereka sudah seperti preman. Kita nggak mau kasih gimana, karena mereka juga butuh bantuan,” kata Luji.

Akibatnya kiriman bantuan itu tidak sampai di tempat lokasi hingga ke pedalaman. Penghentian bantuan oleh warga itu masih terjadi hingga hari ini. Ketika pagi tadi hendak ke Semarang, ia masih menjumpai warga yang bergerombol di pinggir jalan, menghentikan mobil pengakut bantuan yang lewat. “Bahkan ada mobil pribadi yang dihentikan,” tambahnya.

“Ada yang menolak diturunkan. Seperti FPI, mereka berani menolak. Kalau berani kayak gitu, bantuan bisa sampai ke tempat tujuan. Tapi kalau kita cuma sedikit, kita nggak bisa melawan. Mereka jumlahnya banyak,” terang Luji.

Ia menyarankan bagi teman-teman yang akan menyalurkan bantuan ke Klaten bisa lewat jalur dalam, tidak melewati Jalan Solo-Jogja, tapi melewati jalur Magelang.

Sementara kendala penyaluran bantuan juga terjadi di Jogja. Posko Utama letaknya jauh dari lokasi gempa. “Seperti warga dari Imogiri, jaraknya sekitar 17 Kilometer ke posko utama. Hanya sebagian warga yang mengambil bantuan ke posko.”

“Banyak sekali sms yang masuk ke hp saya. Saya hanya bisa menangis membaca sms itu. Teman-teman saya sampai sekarang masih belum mendapat bantuan,” ucapnya sambil menunjukkan sms-sms itu ke saya.

Luji sendiri sebenarnya juga menjadi salah satu korban gempa di Klaten. Rumahnya telah rata dengan tanah. “Tapi saya sangat bersyukur, keluarga saya selamat. Saya hanya bisa bantu dengan mencari dukungan dari teman-teman di luar Klaten dan Jogja,” katanya.

Tak lama kemudian Luji minta pamit. Sore ini dia akan menjadi pemandu bagi para relawan dari Sastra Undip. Mereka akan bertolak menuju Klaten. Teman-teman mahasiswa itu membawa bantuan yang telah berhasil terkumpul dari para mahasiswa dan dosen serta karyawan di lingkungan kampus. Sementara penggalangan dana masih terus dilakukan.

Bagi teman-teman yang ingin membantu atau ingin mengetahui kondisi lokasi pascagempa, bisa menghubungi Luji di nomor telepon 081575144821. Teman-teman juga bisa menyalurkan bantuan ke posko “Sastra Peduli Jogja dan Jateng” di sekretariat BEM Sastra Undip (baca: Mahasiswa Sastra Galang Bantuan Korban Gempa Yogya)


bisa menghubungi saya di 081802422603, atau bisa titip ke rek no 0033357690 atas nama Muhamad Sulhanudin, BNI Cab. Undip Pleburan. Insya Alloh bantuan akan sampai tepat kepada yang sangat membutuhkan.

Versi lain tulisan ini dipublikasikan di Suara Merdeka CyberNews

Hari ini, Sabtu (27/5) sekitar pukul 06.00 WIb, gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang Yogyakarta, Klaten, Solo, Magelang dan sekitarnya. Disaat yang sama, warga setempat masih cemas akan kondisi Gunung Merapi yang masih dalam status “awas”.

Kerusakan bangunan di kawasan Kota gede Yogyakarta (foto oleh mediacenter.org)

Namun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengatakan, gempa di Yogyakarta dan sekitarnya itu tidak terkait dengan aktivitas Gunung Merapi yang masih dalam status awas. Gempa tektonik tersebut diduga disebabkan karena adanya reaktivasi patahan aktif di wilayah tersebut.

Jumlah korban meninggal dunia mencapai ribuan orang. Terakhir, lebih dari 2500 orang meninggal, dan diperkirakan jumlah itu masih akan bertambah. Korban terbanyak dari Bantul, Yogyakarta.

Sebagian warga berhamburan ketakutan akan adanya Tsunami. Tragedi Tsunami yang menimpa Aceh dan sekitarnya akhir tahun 2004 lalu rupanya masih membayangi mereka. Kondisi terkendali setelah polisi memastikan tidak adanya Tsunami dan meminta warga kembali.

Gempa juga telah merusak beberapa aset penting. Diantaranya adalah Candi Prambanan, dan juga Museum Keraton Jogjakarta. Sejumlah instalasi listrik PLN sampai alat pendeteksi aktivitas Gunung Merapi milik BPPTK, rusak.

Malam ini Presiden Soesilo Yudhoyono menginap di tenda pengungsian bersama warga di Yogyakarta. Malam ini warga Yogyakarta diminta tidur di luar rumah karena dikhawatirkan akan adanya gempa susulan. Presiden Yudhoyono akan berada di Yogya dalam beberapa hari ke depan.

Di Semarang, gempa dirasakan oleh warga Banyumanik dan warga Semarang Selatan (atas). Gempa berkekuatan 1 SR itu sempat membuat warga panik. Mereka keluar rumah. Hal yang sama juga dialami oleh para tamu hotel Ciputra, yang terletak di kawasan Simpang Lima. Mereka turun ke lobby saat merasakan adanya getaran di sekitar bangunan hotel.

Saya sendiri baru mengetahui kabar ini siang harinya. Pagi tadi saya masih tidur nyenyak, he2. Sebelumnya seorang teman dikabari oleh keluarganya di Kudus tentang adanya gempa di sana. Ternyata gempa juga dirasakan oleh warga Kudus dan Demak. Saya baru tahu kabar gempa di Yogya dan sekitarnya itu setelah mengakses internet.