Monthly Archives: February 2006

Ditengah tuntutan arus modernisasi, lunpia menjadi menu makanan yang tepat. Makanan khas Kota Semarang yang telah populer sejak tahun 1800-an itu, kini disajikan laiknya makanan siap saji (fast food). Praktis dan prosesnya sederhana.

[Rubrik Resto Suara Merdeka Cyber News]

Kendati disajikan laiknya fastfood, kebersihan dan kesehatannya tetap diperhatikan. Siapapun Anda, dijamin aman mengkonsumsinya. Bahkan fasfood yang satu ini sekaligus bisa jadi menu makanan kesehatan (healty food).

Bila Anda tengah berkunjung di Kota Semarang, entah untuk keperluan bisnis atau sekedar wisata, kurang lengkap bila tidak menyicipi menu makanan khas Kota Lunpia ini. Nah, kemana Anda bisa mendapatkan lunpia dengan citarasa yang khas, citarasa Lunpia Semarang, dengan layanan yang praktis namun tetap memerhatikan hegienitas dan kesehatannya?

Datang saja ke Lunpia Express. Restoran spesialis lunpia ini beralamat di Jalan Gajahmada 142 AA atau bersebelahan dengan Hotel Telomoyo. Cukup mudah dijangkau dari pusat kota Semarang, sekitar 1 km dari Simpang Lima.

Ada dua menu yang ditawarkan, original dan crab. Pertama, sesuai namanya menu yang satu in memang dibuat dengan resep asli, lunpia khas semarang. Berisi telur dan rebung. Sementara yang kedua, crab, bahan isi dari kepiting. Tak hanya isinya, resep bumbu keduanya juga beda. Original mempunyai rasa khas manis, sementara yang crab gurih.

Kata original yang dipilih sebagai salah satu menu ternyata mempunyai latar belakang sejarah sendiri. Kata itu mengacu pada sejarah asal-usul Lunpia Semarang. Lunpia Express ini merupakan generasi ketiga dari Lunpia Mataram, anak dari generasi Lunpia Semarang, yang juga punya generasi Lunpia Gang Lombok, Lunpia Pemuda.

“Nah, papi kita, master resepnya kita ini adalah generasi keempat dari Lunpia Semarang yang sejak tahun 1800-an itu. Makanya kita aberani buka, ya karena kita punya masternya ini, “ kata Max Soegi Winarso, manager Lumpia Express.

Lalu menu mana yang jadi kesukaan pelanggan, original atau crab? “Tergantung tastenya kita masing-masing. Kalau kita suka makanan yang manis-manis, ya pilih yang original. Kalau suka rasa gurih, ya yang crab. Misalnya burger. Saya suka beef burger, mau disuguhi sak enak-enake burger yang lain, saya nggak mau, karena saya suka beef burger, “ungkapnya.

“Pernah ada pelangan yang memanggil saya. Dia bilang kalau ini lunpia yang asli. Empat puluh tahun yang lalu dia makan lunpia rasanya ya seperti itu katanya, “ kisahnya.

Kami tengah menikmati makan Lunpia di pelataran (outdoor) Lunpia Express yang memang disediakan untuk pengunjung, disamping juga disediakan ruangan di dalam (indoor). Suasananya sungguh menyenangkan. Di sini kami bisa menyantap lunpia sambil menikmati pemandangan Jalan Gajahmada.

Max orang yang sangat menyenangkan. Dia ramah dan pandai sekali mencairkan suasana. Menurutnya, makan lunpia itu sebenarnya nggak pake sendok. Tapi langsung pake tangan. Atau memakai tisu buat tatakannya. “Makan lunpia yang bener, menurut tradisi kita lho, itu nggak pake sendok. Nanti modal-madul. Ya langsung pake tangan. Kayak orang makan burger itu, “ tuturnya.

Menurut Max pengetahuan orang lokal tentang lunpia masih sangat minim. Termasuk cara makannya. Bahkan ada yang seumur hidup belum pernah makan lunpia, padahal lunpia ini makanan khas Semarang.

“Dulu pas saya belum ketemu istri, saya belum pernah makan lunpia. Pring (bambu) kok dimakan, “ pikirnya waktu itu.

“Orang dulu juga skeptis kalau makan ini, katanya dengkule loro (pergelangan kakinya sakit). Bagi yang punya rematik nggak berani makan ini. Semua masakan kalau masaknya salah ya jadi masalah. Kalau masaknya betul kan, no way. Tinggal masaknya bener apa salah, “ tambahnya.

Max, yang masih ada darah keturunan Cina dan pernah sekolah di Amerika ini memang fasih berbahasa Jawa. Siapa sangka juga kalau latar belakang studinya dulu yang di elektro ini malah sekarang menekuni dunia lunpia disamping juga bisnisnya yang lain. Dia sangat paham detail-detail tentang makanan yang satu ini, seperti pernah sekolah khusus saja.

“Setelah saya kenal istri saya yang kakek-kakeknya itu punya keturunan Lunpia semarang, dan saya melihat ini prospeknya bagus, “ kata Max.

Dia melihat presentasi makanan khas semarang ini masih amat minim. “Bukannya meninggalkan sisi estetika keasliannya. Kita justru mengambil dari sisi keasliannya, seperti misalnya kayak mendisplaykan kinerjanya, kita juga masih memertahankan besek, seperti misalnya kita jadi ekspor keluar negeri pun kita akan pertahankan besek itu. Cuma, bedanya make up kita jauh lebih baik dari yang konvensional,” paparnya.

Malam itu, hujan yang hampir seharian mengguyur kota Semarang mulai reda. Lalu lintas di ruas Jalan Gajahmada, penghubung Jalan Pemuda dengan pusat kota semarang ini cukup padat. Beberapa kali mobil maupun kendaraan roda dua membelokkan kemudinya ke kompleks di dekat perempatan Gajahmada itu.

“Nah, yang pake motor tadi, adalah pelangan orang lokal. Mereka paling tidak mampir untuk mencicipi lunpia. Atau paling tidak dia sudah beberapa kali ke sini. Makanya kita juga sediakan makan di tempat, “ tutur Max.

“Ada juga yang dari luar negeri mampir ke sini. Mereka bawa lunpia ke sana. Jadi kalau orang luar negeri bawa makanan ke Indonesia, kenapa kita tidak. padahal makanan kita sehat. Bukan junk food, tapi healty food, “ tambahnya.

Memangnya sampai berapa lama ketahanan lunpia itu? “Kita kan ada dua jenis. Setengah matang sama yang digoreng. Kalau yang digoreng lebih kuat tahan lama sampai lebih dari 24 jam, kalau dimasukkan di kulkas tentu lebih lama lagi, “ ujarnya.

“Kalau boleh tahu apa resepnya nih, “tanya kawan di sebelah saya.
“Wah, kalau itu rahasia. Kalau sampeyan tak kasih tahu, nanti bisa jadi saingan, hahaha, “ kilahnya.

Max kini punya dua rencana. Dalam waktu dekat dia akan menyediakan display menu. “Kita nanti punya pahe, Di situ nanti kita tampilkan kita punya semarang kombo yang asli, yang Mataram khas, nasi lunpia, “ ungkapnya.

Nasi? Tanya saya dengan nada heran. “Dulu orang kuno-kuno, atau yang sekarang umur 50, 60 itu mereka makan lunpia pake nasi. Nah itu, knowladge orang tentang lunpia memang masih kurang. Makanya kita nanti mau menyediakan display itu, ibaratnya menjelaskan bagaimana makan lunpia yang benar, “ terangnya.

Waktu sudah menunjukkan hampir 10 malam. Sebentar lagi Lunpia Express akan tutup. Kami pamitan pada Max. “Kapan-kapan mampir sini saja, “ katanya sambil tersenyum.

“It is an option, you can choose which one is best for you…”

In this issue, Miracle presents the figure of the new head of English Department, Faculty of Letters, Diponegoro University. Having been the chief of English Department since February 2004, Mr. Agus Subiyanto proposes several programs to develop this department. More information on his figure is reported by Miracle Crew, Mh. Sulhanudin as follows:

We wonder if you would like to tell our readers about yourself.
Well, I was born in Pati on August 14th 1964. Today, I live in Jl. Tlogo Berlian No. 3 Semarang. I took my SI degree in Linguistics in Faculty of Letters of Diponegoro University and graduated in 1989. One year later, I started giving a lecture in this faculty. Then, I enrolled my study at The Australian National University and graduated in 1999. I was assigned to be a secretary of English Department for four years, in the period of 2000-2004. And now this year, I am again given a mandate to manage this department.

As the head of this department, could you please tell us your plans?
First of all, I intend to develop this department because it is widely known that the department has got accreditation for its academic achievement. We are therefore obliged to maintain our achievement.

We (he and his colleagues,red) have discussed about the revision of the curriculum of 2000. In the curriculum, there are five replacement subjects of Non Thesis line. We have agreed to simplify into three subjects, which each of them is offered in 2 SKS (Satuan Kredit Semester). We also add some new subjects. They are Seminar on Grammar, Entrepreneurship, Apprenticeship, and TOEFL/IELT preparation.

Is there any other plans?
Well, in order to develop this department, we have made a solid team to complete the proposal of competence. Last year we submitted a proposal of competence to the Directorate of High Education or DIKTI (Direktorat Pendidikan Tinggi), but unluckily we failed. By preparing a solid team, I truly expect our proposal will be approved.

Then, is there any relation of submitting the proposal to DIKTI with your plan to develop this department?
Certainly yes. If our proposal is approved, DIKTI will fund our research. And we will allocate a part of the fund to upgrade the facilities, such as improving our language laboratory and many others.

Back to the revision of curriculum, a few days ago, Miracle conducted a poll about the curriculum of 2000 and its change. Many students are afraid that they will have difficulties to continue their study, what’s your oppinion?
Actually, this model has been applied in University of Indonesia (UI) a couple of years ago. We will apply it starting from student of 2002. UI does not call for undergraduate students to take a thesis as the requirement of their graduation. Other universities, however, may oblige their students to take a thesis. It depends on the policy each university applies. So, you don’t need to be afraid that you will not be able to continue your study.

On the other hand, many students prefer taking the non thesis line to taking the thesis line. Is it because that the non thesis line is simpler? Are you not afraid that there will only be a few students who take the thesis line?
Actually, the main purpose of the curriculum is to help students who want to get a job. In the work field, if you apply for a post in a company, you will not be asked about your thesis. Therefore, they do not need take a thesis or conduct a research. But thesis is important for the students who strongly intend to conduct a research. It is an option though, and I think you can estimate which is best for you.

*Published in Miracle June-July 2004