Monthly Archives: January 2006

What is actually expected from a figure of leader? Is it a good performance?
Should he be capable enough? Or perhaps you have your own reason..

By Muhamad Sulhanudin

These questions apparently appear in our mind when we are to choose a leader. It is our right to decide what kind of leader we want, even though other people may oppose our choice. On the contrary, we may also go up against others choices. This is a democracy. In a democratic country, people are free to express their opinion; they are free to determine their choices in choosing a figure of their leader as well.

Indonesia, a novice democratic country in the opinion of USA, as they assume to be the founder of democracy has been aware of the importance of democracy. As a matter of fact, in the recent general election, people have voted directly for the legislative and the upcoming presidential election. People are so far supposed only to be object for our politicians, but after the politicians succeed residing in the position, people are then out of their mind. Certainly, by this direct election, people will find a figure of their choice.

People actually have a very simple demand for the figure of their leader. They just expect a figure who can protect them; not an authoritarian or a tyrant who takes over his citizens. Since politicians did not fulfil their promises, people tend to trust them no more. Politicians often think that people are stupid; people can be deceived by providing them any “seductive materials”. Unluckily, their prediction proves to be wrong. Today, people are not the same with people in the “Orde Baru” regime. People can evaluate the politicians attitudes now.

But however smart people are, politicians are smarter. They attempt to adopt any ways to seduce people. They seem to act as a hero of the nation defender. Their corrupt were conjured up as a sublime action. Therefore, they strongly look like a hero for the people.

***

A community, either big or small, certainly needs a leader to give direction to their member. Without a leader the community can not be solid, because each member has his own wish. So, in this case, a figure is required in order to accommodate every aspiration that member have. The figure is then called a Leader.

Change is now on people hands. People should therefore be careful to use their right as well as possible. They ought not to be easily persuaded by any seductions. In this sense, the candidates of our leader will think twice to do the same action. Now, it is about time to make a change!

*Published in Miracle, magazine of English Department Students of Diponegoro University, June-July 2004
*The Writer is former Chief Editor of Miracle 2003/2004

Istilah Sate Khas Semarang masih asing bagi kebanyakan orang. Bahkan bagi masyarakat Semarang sendiri. Tapi Anda tak perlu khawatir, karena Semarang juga punya menu khas yang tak kalah citarasanya dengan sate dari daerah lain.

Foto oleh Agung SB

“Cita rasa kami tidak berkiblat pada yang sudah ada, misalnya, Sate Madura, Sate Ponorogo. Kami ingin menyajikan cita rasa yang tersendiri. Sate khas ‘house’ dari Semarang, ” tutur Chris Kowas, Manager Operasional Sate House “Sriwijaya”.

Lokasi Sate House “Sriwijaya” dekat dari jantung kota Semarang, yakni Tugumuda. Beralamat di Jalan Imam Bonjol 184 Semarang. Lokasi ini juga mudah dijangkau dari Stasiun Kereta Api Poncol yang juga terletak di Jalan Imam Bonjol.

Semula Sate House “Sriwijaya” buka di jalan Sriwijaya, yang sekarang dibangun taman wisata Wonderia. Kemudian pindah ke alamat yang baru mulai awal januari 2004.

“Banyak pelanggan yang menanyakan, setelah Sate House Sriwijaya , yang beralamat di jalan Sriwijaya itu tutup. Setelah kami buka kembali, tepatnya awal januari 2004, kami kabari mereka. Kami tetap tidak melupakan pelanggan yang lama, ” jelas Chris.

Menu yang ditawarkan macam-macam. Mulai sate ayam, sate udang, sate kambing, sate sapi, sate buntel, sate vegetarian. Yang disebut terakhir ini, terbuat dari proteina nabati yang diolah khusus bertekstur menyerupai daging. Chris mengatakan, diantara sekian menu, yang banyak dipesan pengunjung adalah sate udang.

Yang menjadi khas Sate House Sriwijaya ini melalui pengolahan daging dan higienitasnya. Semua pengolahan menggunakan air mineral. “Satu lagi, nasinya menggunakan beras rojo lele yang grade tertinggi, ” tambah Chris.

Tak hanya cita rasa yang diperhatikan, ruangan juga didesain untuk kenyamanan pengunjung. Ketika pengunjung datang, ia akan menjumpai Ruang Mawar. Kursi ditata mengelilingi meja, seperti suasana pesta. “Ruang Mawar, khusus untuk para perokok. Sementara bagi yang tidak merokok bisa memilih Ruang Lavender, yang ada di dalam, ” jelas Chris.

Kami ngobrol di Ruang Lavender. Ruangan dilengkapi dengan Air Conditioner. Ukuran ruangan hampir sama dengan Ruang Mawar, sekitar 4×7 meter. Kami ngobrol dari soal sate sampai sepakbola. Belakangan diketahui Chris ternyata penggemar Tim Mahesa Jenar. “Saya menanti berita PSIS, kalau bisa Suara Merdeka menambah lagi berita tentang PSIS, ” usulnya.

Tak lama kemudian, dua orang pelayan, laki-laki dan perempuan menghampiri meja kami. “Mari silakan dicicipi dulu, ” ucap seorang pelayan perempuan mengagetkan saya yang tengah mengamati foto yang ada di dinding di depan saya. Chris menengok ke samping, ia rupanya menagkap gelagat saya. “Oh, itu Helmi Yahya, beberapa waktu lalu, sekitar tahun 2004, dia ke sini, ” ungkapnya.

Mendengar penjelasan itu, saya agak terkejut. Di sebelah foto Helmy Yahya yang dibingkai apik dengan figura, ada juga foto Koes Ploes Bersaudara. “Pemilik restoran ini adalah pak Nugroho. Itu lho mas produser acara tolong di televisi, ” lagi-lagi Chris menangkap keraguan saya, yang mulanya setengah tidak percaya.

“Mau minum apa mas, ” sapa perempuan itu. “Jangan kuatir, semua aneka minuman ada di sini. Mulai dari yang sederhana, Es Teh, sampai aneka Es Juice, atau Cocacola, ada di sini. Ada juga minuman kesehatan dari sarang Burung Walet, ” Chris menimpalinya.

Hanya dalam hitungan menit, minuman yang kami pesan telah siap. Dikatakan oleh Chris, pelayanan di restoran ini sangat diperhatikan. Saya juga merasakan demikian. Tak tanggung-tanggung, restoran ini memilki 15 karyawan, termasuk kru dapur.

“Ayo langsung kita sikat, ” ucap teman yang ada di depan saya. Rupanya dia sudah tak tahan lagi. Kami pun langsung menyantapnya, sembari sesekali melanjutkan obrolan.

“Daginya empuk, kayak nggak ada kulitnya, irisannya besaaar, ” sahut teman yang ada di depan saya, yang tengah menikmati sate ayam. Mendengar ucapan itu Chris, tersenyum. “Betul mas, daging yang kita gunakan, kita pilih khusus yang dada,” jawabnya.

Sembari makan saya mengamati ruangan sekitar. Di ujung ruangan terdapat panggung yang menghadap meja pengunjung. Panggung itu dilengkapi seperangkat alat musik, seperti organ, gitar listrik, plus sound system. “Itu bisa dipakai secara cuma-cuma, pengungjung bisa memakainya tanpa dipungut biaya tambahan, ” jelas Chris.

Di sebelah Ruang Lavender terdapat Ball Room. Ruang ini biasa digunakan untuk acara seminar, launching produk, atau acara lainnya. Ukuran ruangan jauh lebih luas dari Ruang Lavender maupun Ruang Mawar.

Ball Room mampu menampung sampai 200 orang. Sama seperti di Ruang Mawar, di ruang ini juga dilengkapi alat musik. Bahkan jauh lebih lengkap. Ruang ini juga dilengkapi dengan sound proof atau kedap suara. Hanya dengan minimal 50 orang, pengunjung bisa menggunkan Ball Room secara cuma-cuma.

“Beberapa waktu lalu, pak wali kota juga menggunakan ruang itu untuk acara halal bihalal, ” kata Chris.

Berbagai fasilitas ditawarkan di sini. Tak hanya dari citarasa, tapi juga kenyamanan pengunjung. Apakah restoran ini sengaja membidik kalangan tertentu?

Chris buru-buru menolak pandangan itu. Dia mengatakan tidak membidik satu kalangan manapun. “Kalau sudah urusan citarasa, berapapun harganya akan dibayar oleh pelanggan. Kami tetap menjaga citarasa, ” tuturnya.

Satu porsi berisi 8 tusuk, kecuali untuk sate udang, yang berisi 9 tusuk. Harganya masing-masing, untuk sate ayam 14 ribu, sate kambing 24 ribu, sate vegetarian 8 ribum, sate udang 26 ribu. “Kalau pengunjung makan sate ayam, nasi, plus minum, ya sekitar 20 Ribu..,” tambah Chris, diikuti gelak tawa kami bertiga.

Versi lain dipublikasikan di Suara Merdeka Cyber News
Klik di sini